Kemunduran Pendidikan

Kemunduran Pendidikan

Atap Seng yang sudah berlubang dan dindin‎g pelupuh bambu bercelah tembus pandang pada ruang kelas satu dan kelas dua, SDK Turewuda.

  • Soal Kondisi SDK Turewuda
  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Kabar buruk dunia pendidikan di daerah datang dari Kabupaten Ngada. Ya, kabar buruk bangunan dunia pendidikan, berikut pelajar yang menimba ilmu di bangunan itu, dan juga para pendidik yang bersusah payah membagikan ilmunya.

Sekolah Dasar Katolik (SDK) Turewuda, Desa Waepana, Kecamatan Soa, terutama kondisi ruang kelas 1 dan 2 sangat memprihatinkan. Atapnya bocor (musim hujan, air menggenangi ruang), berlantai tanah (musim hujan becek/lumpur bagai sawah), dinding pelupuh (sudah rusak karena selalu terkena air hujan), tiang bambu, satu kursi digunakan 2 murid, 1 meja digunakan 3 murid, tidak ada lemari buku (buku juga tidak ada?) dan lebih lagi, ada kotoran sapi (malam hari, sapi bersekolah?). Tambahan: ruang kelas 3-6 kekurangan kursi dan meja. Ruang guru berada dalam ruang belajar-mengajar, memakai sekat.

Bangunan ini dibangun orangtua siswa secara swadaya. Satu pengandaian agak fatal: kalau orangtua tidak bangun itu, maka anak-anak mereka tidak bersekolah. Ini juga gambaran keadaan ekonomi rakyat di sana.

Keadaan ini sudah berlangsung empat tahun. Kepala sekolah bilang, “kami tetap bertahan”. Tapi bertahan sampai kapan? Bertahan hanya akan memperpanjang masalah (berjalan di tempat, tidak maju-maju). Guru lain lagi bilang, “tidak ada alternatif”. Tapi pernah memikirkan dan mencari alternatif? Guru-guru lebih tahu jawabannya.

Guru-guru mengakui bahwa keadaan ini sudah tidak layak lagi dan proses belajar-mengajar cukup terganggu. Bukan hanya “tidak layak”, tetapi secara moral keadaan itu “tidak boleh” terjadi, yah sekalipun ini sudah terjadi. Tapi salah siapa? Mesti ada pertanggungjawaban.

“Secara moral”, karena undang-undang negara kita mengakui hak memperoleh pendidikan bagi setiap warga negara. Bukan hanya soal hak “perolehan” pendidikan, melainkan juga soal “bagaimana” cara hak itu teroperasionalisasi dalam kenyataan, antara lain, fasilitas pendidikan mesti cukup memadai. Untuk hal ini, negara mesti mengurusinya, warga negara tinggal mengikutinya. Dalam pandangan HAM, hak pendidikan tergolong sebagai hak-hak positif yang wajib dipenuhi oleh negara tanpa menunggu warga menuntutnya.

Di Turewuda, terjadi sebaliknya. Negara tidak menjalankan kewajibannya (ruang kelas dibangun orangtua murid), dan sekarang, melalui para guru, warga menuntut pembangunan bangunan baru. Tidak menjalankan kewajiban, sama artinya, negara sedang menyimpang. Jalan etis tersedia, tetapi negara tidak berjalan pada jalan itu, justru melangkah di jalan lain, entah di mana. Dana pendidikan tersedia (Ngada sediakan dana bantuan operasional sekolah/Bosdik), tapi pengelola tidak kritis melihat prioritas.

Rasanya agak aneh, Bupati Ngada baru tahu kondisi SDK Turewuda. Itu berarti dasarnya Bupati juga belum(?) tahu soal “pengakuan negara atas hak warga negara untuk memperoleh pendidikan sebagai hak asasi positif” (yang wajib dipenuhi negara tanpa menunggu warga menuntutnya).

DPRD sebagai perpanjangan tangan rakyat juga pasti(?) belum tahu. Itu berarti reses itu formalitas saja. SKPD (Dinas PPO) sebagai perpanjangan tugas kedaerahan bupati pasti(?) belum tahu juga. Itu berarti pengawas sekolah formalitas saja.

Bupati sudah tahu dan berjanji (mesti dengan komitmen) akan memperhatikan secara serius kondisi pendidikan SDK Turewuda. Mewujudkan janji, merealisasikan komitmen, itu saja solusi atas persoalan Turewuda. Pendidik dan peserta didik menanti penuh harapan. Jika tidak, dunia pendidikan konteks Turewuda semakin mundur.*** (Flores Pos, Selasa, 26 Mei 2015)

Baca juga: Bangunan SDK Turewuda di Ngada Memprihatinkan

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s