Menghadirkan Keluarga Ilahi

  • Mimbar Flores Pos

Oleh Avent Saur, SVD

Allah Tritunggal Mahakudus, yakni satu Allah, tiga Pribadi. Sekalipun kita mengimani Allah yang demikian dengan sungguh, tapi banyak orang Kristen kurang memahami keyakinan tersebut. Sebab kalau kita katakan tiga pribadi, maka kita mungkin memahami bahwa itu berarti tiga orang, dan kalau ada tiga pribadi ilahi, maka itu juga berarti tiga Allah (Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus).

Kalau kita membaca Injil Yohanes, maka kita akan dipermudah untuk memahami ajaran tentang Allah Tritunggal Mahakudus itu. Dalam Injil Yohanes, perkataan Yesus dapat diringkas, “Aku dan Bapa adalah satu, dan Roh Kudus akan diutus Yesus, dan Roh itu keluar dari Bapa (Yoh 14:15-17:1-26. Atau dalam Injil Matius pada Minggu (31/5) besok, kepada para murid, Yesus memerintahkan, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus!” (Mat 28:19).

Dalam Allah Tritunggal itu ada kesatuan: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah yang satu dan sama ini tampil dengan peran yang berbeda: Bapa menciptakan dunia beserta segala isinya; Putra menebus dan menyelamatkan umat manusia; dan Roh Kudus menghibur dan menguatkan atau memberanikan para murid dan anggota Gereja untuk bersaksi tentang Kerajaan Allah.

Seturut ketiga peran inilah, Allah tampil secara nyata sebagai tiga pribadi. Kita bisa membedakan tiga peran itu, bisa membedakan tiga pribadi ilahi itu, tapi kita sama sekali tidak bisa memisahkan ketiganya satu sama lain, sebab ketiga pribadi itu, ketiga peran itu ada dalam Allah yang satu dan sama.

***

Ada sebuah contoh kecil nan sederhana yang lebih memudahkan kita untuk memahami Allah yang satu dengan tiga peran tersebut. Misalnya, soal minuman kopi. Minuman kopi terdiri dari campuran tiga barang yakni air, gula dan kopi. Kalau campuran antara ketiga barang itu seimbang, maka tentu kita rasakan bahwa minuman itu enak, nikmat. Tapi kalau rasanya agak pahit, tentu kita mengatakan bahwa kopinya terlalu banyak; atau kalau rasanya agak manis, tentu kita mengatakan bahwa gulanya terlalu banyak; atau juga kalau agak hambar, tentu kita mengatakan bahwa airnya terlalu banyak. Jadi dengan rasa seperti itu, kita bisa membedakan ketiga barang itu sekalipun ketiganya sudah disatukan dalam jenis minuman yakni minuman kopi. Kita bisa membedakan peran ketiga barang itu, bahwa air untuk melarutkan gula dan kopi; gula untuk membuat manis; dan kopi untuk membuat rasa pahit; dan campuran dari ketiganya adalah minuman dengan rasa yang enak. Persis seperti inilah kita memahami Allah yang satu dan sama itu: peran yang berbeda, pribadi yang berbeda dan kita bisa membedakan ketiganya, tapi tiga pribadi itu adalah satu, dan dengan itu, kita sebut sebagai Allah yang satu.

Sementara itu, kalau minuman kopi tadi terlalu pahit, maka kita tidak bisa mengurangi kopinya sebab barang kopi tadi sudah tercampur dengan gula dan air. Atau kalau terlalu manis, maka kita tidak bisa mengurangi gulanya sebab barang gula tadi sudah tercampur dengan kopi dan air; atau kalau airnya terlalu banyak, maka kita tidak bisa mengurangi air (yang semula bening) itu, sebab air tadi sudah tercampur dengan gula dan kopi; atau pun kalau kita bisa mengurangi airnya, rasa minuman kopi itu pun tetap sama yakni tidak enak.

Jadi sekali lagi, ketiga barang itu kita bisa membedakan perannya, bisa membedakan rasanya, tapi kita tidak bisa memisahkannya lagi, sebab ketiganya sudah menjadi sebuah minuman yakni minuman kopi. Dan sekalig lagi, Allah Tritunggal Mahakudus adalah Allah yang satu, tiga pribadi; kita bisa membedakannya dalam keyakinan kita tapi tidak bisa kita memisahkan mereka satu sama lain.

***

Kalau dalam kehidupan kita, kita mengalami pertolongan Allah dalam bentuk rezeki atau kesuksesan yang kita peroleh, Allah yang kita alami itu adalah sekaligus sebagai Bapa Pencipta, sebagai Putra Penebus, dan sebagai Roh Kudus penghibur dan penyemangat. Atau dalam sakramen pengakuan dosa, misalnya, kita mengalami penebusan melalui Yesus, dan mengalami Roh Kudus lewat penumpangan tangan imam atau mengalami Bapa yang penuh kasih kepada umat-Nya yang berdosa. Kita mengalami Allah yang satu dan sama dalam tiga peran yang berbeda.

Apa yang mau kita petik dari ajaran tentang Allah Tritunggal Mahakudus tersebut? Bapa dan Putra dan Roh Kudus adalah satu. Itu berarti dalam kesatuan, pasti ada perdamaian karena perdamaian hanya mungkin terwujud dalam persatuan. Dalam persatuan dan kedamaian itu ada persaudaraan dan ada kerja sama, ada cinta dan kasih, ada saling memberi dan saling mendukung. Dan kesatuan yang diwarnai oleh kebajikan-kebajikan seperti inilah yang kita sebut sebagai keluarga Ilahi: Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Allah yang satu ini menghendaki, supaya suatu saat nanti ketika kita meninggalkan dunia fana ini, kita semua bergabung dalam persatuan keluarga ilahi tersebut.

Namun untuk bisa bergabung dengan keluarga ilahi, kita semestinya menghadirkan keluarga ilahi itu dalam kehidupan harian kita masing-masing, di mana saja kita hidup; di dalam keluarga dan lingkungan serta tempat kerja kita. Di sana kita mesti menghadirkan kedamaian (bukan kekacauan atau ketidaknyamanan), menghadirkan persatuan (bukan pertengkaran atau perselisihan), menghadirkan semangat cinta kasih (bukan kebencian atau cinta diri), menghadirkan kerja sama (bukan kerja sendirian atau terpisah-pisah), dan menghadirkan persaudaraan (bukan permusuhan atau saling curiga).

Hanya dengan cara demikian, kita bisa bersaksi kepada sesama tentang Allah yang kita imani itu yakni Allah Tritunggal Mahakudus. Kita berdoa, semoga Allah memampukan kita untuk melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya: menghadirkana keluarga ilahi dalam hidup kita. Amin.***(Flores Pos, Sabtu, 30 Mei 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s