Mulai Berjanji Tolak Tambang

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Tambang2

Pater Simon Suban Tukan SVD (keempat kiri) menemani masyarakat Kampung Legurlai, Manggarai Timur saat aksi menolak pertambangan di wilayah itu beberapa waktu lalu.

Bakal calon pemimpin daerah menyampaikan janji kepada publik bukanlah sesuatu yang baru. Demikian juga pengingkaran janji bukanlah sesuatu yang baru. Semuanya seperti kata Pengkhotbah dalam Kitab Suci Kristen, “tidak ada sesuatu yang baru di muka bumi. Apa yang terjadi sekarang, semuanya pernah terjadi di masa lalu, dan akan terjadi lagi di masa mendatang.”

Bukan cuma calon pemimpin daerah, para pemimpin level kecil atau pejabat pada instansi-instansi tertentu pun menyampaikan janji-janji yang mengairahkan. Kalau janji-janji itu diwujudkan secara konsisten, maka bukan tidak mungkin cita-cita keadilan sosial dan kemanusiaan yang beradab sudah lama terwujud dan dirasakan publik. Namun apa hendak dikata, kita terus kembali diingatkan oleh kata-kata sang Pengkhotbah tadi.

Dan entah mengapa, secara spontan, publik masih percaya terhadap janji-janji kepala daerah. Karena faktor primordial (suku, daerah, agama)? Karena faktor ekonomi, lantaran janji diikuti dengan money politics? Karena janji-janji itu dibuatkan di atas kertas, semacam kontrak kerja sama? Entahlah. Yang pasti, janji terus diumbar tiada henti, dan kepercayaan publik juga terus naik menjulang.

Yang teranyar, beberapa bakal calon kepala/wakil kepala daerah Manggarai, melalui diskusi yang digelar Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) mulai berjanji tolak tambang. Alasannya jelas, tambang sama sekali tidak menyejahterakan rakyat, tambang merusakkan lingkungan, pendapatan tambang tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan. Lagi, tambang menyebabkan penyakit, tambang meniadakan potensi-potensi ekonomi pro alam Manggarai (FP, 6/6),

Apakah janji dan komitmen itu akan terwujud? Waktu akan berbicara. Sebab diulangi, bukan sesuatu yang baru, janji para pemimpin yang sudah memerintah sekarang (bahkan sudah memimpin dua periode) masih sedikit sekali yang diwujudkan. Bukan karena tidak mampu, juga bukan karena ketiadaan anggaran untuk menyejahterakan rakyat, melainkan karena “tidak mau serius” mewujudkan janji-janjinya.

Awalnya, mereka menyatakan tolak tambang, tetapi malah secara diam-diam mengizinkan investor masuk, lantaran rayuan uang para kapitalis lebih kuat daripada janji dan kepercayaan publik. Awalnya, mereka mengkampanyekan secara terang-benderang akan mencabut izin usaha pertambangan (IUP), tetapi apa hendak dikata, hingga sekarang, beberapa IUP belum dicabut. Takut risiko? Semestinya, mengumbarkan janji harus disertai risiko-risiko yang mengikutinya.

Menarik bahwa janji tolak tambang disampaikan di hadapan kelompok raksasa penolak tambang, JPIC (Ruteng). Setidaknya, situasi ini dijadikan pegangan untuk nanti diingatkan lagi kepada mereka ketika sudah memerintah, untuk selanjutnya tidak berbohong. JPIC, yang diapresiasi pelbagai pihak dalam perjuangan menolak tambang di Manggarai, sudah sangat militan berjuang dengan berani menghadapi apa saja, termasuk risiko-risikonya, bahkan kehilangan nyawa sekalipun sebagaimana ditunjukkan oleh Koordinator JPIC SVD Ruteng Pater Simon Suban Tukan SVD. Betapa diharapkan, para calon pemimpin ini ingat akan perjuangan JPIC tersebut, bahwasanya berjanji dan menyatakan tolak tambang bukanlah sebuah janji dan pernyataan murahan yang tidak diperhitungkan.

Berkaca pada fakta tadi, lantas kita bertanya, apakah para calon kepala daerah masih dapat dipercayai? Sekian sering, mereka justru mendatangkan kekecewaan di hati publik. Tokoh sang Presiden Jokowi yang populer “digemari” khalayak ramai saja mendatangkan kekecewaan, apalagi tokoh-tokoh daerah yang baru dikenal khalayak. Setidaknya, kita bisa menduga apa yang akan terjadi, sekalipun kita tidak mengesampingkan optimisme. Tetapi betapa diharapkan, publik tetap bersemangat untuk mengayun langkah berjuang meniti hidupnya, karena sudah pasti, “kita hidup dari hasil keringat kita sendiri, bukan keringat para pemimpin itu”.*** (Flores Pos, Selasa, 9 Juni 2015)

Baca juga:

JPIC SVD Hadirkan Para Bacabup/Bacawabup Manggarai

Tiadakan Tambang di Manggarai

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s