Tiadakan Tambang di Manggarai

  • Pendapat Para Bacabup/Bacawabup Manggarai

Oleh Christo Lawudin

Tambang

Warga Legurlai, Manggarai Timur menghalangi aktivitas pertambangan di wilayah hak ulayat.

Ruteng, Flores Pos — Tambang belum menjadi pilihan utama dalam membangun ekonomi masyarakat Manggarai. Karena itu, Kabupaten Manggarai perlu meniadakan (moratorium) tambang, dan pilihannya mengoptimalkan potensi ekonomi lain yang pro lingkungan hidup.

Kendati tidak semua kandidat berbicara tegas tentang moratorium tambang di Kabupaten Manggarai, tetapi para bacabup/bacawabup prihatin dan peduli dengan kondisi lingkungan hidup di Manggarai saat ini.

Disaksikan wartawan dalam diskusi pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6) yang diadakan JPIC SVD Ruteng, hampir semua kandidat menyatakan miris dengan kondisi lingkungan hidup di Manggarai. Hutan rusak dan tanah hancur di lokasi-lokasi tambang. Tambang tidak menyesejahterakan masyarakat sekitar tambang dan sumbangannya untuk pendapatan daerah amat tidak sebanding dengan kerusakannya.

Tolak Tambang

Bacabup Sil Baeng mengatakan, Manggarai tidak lagi menjadi lumbung pangan karena alam, lingkungan dan hutan sudah rusak. Lingkungan tidak dijaga sehingga alam juga tidak memberikan hidup bagi manusia. Alam juga rusak karena faktor kesengajaan yakni usaha pertambangan.

“Bagi kami, tambang belum menjadi pilihan utama untuk membangun ekonomi masyarakat. Karena itu, tambang harus dimoratorium. Kami berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan,” katanya.

Balon lain, Hila Jonta mengatakan, efek buruk dari kerusakan alam, hutan dan lingkungan sangat besar. Karena itu, semua tindakan yang tidak pro lingkungan, termasuk pertambangan harus diperangi karena efeknya sangat buruk terhadap alam dan kesehatan manusia.

“Saya dan Sebas Salang, mempunyai komitmen tinggi untuk menjaga lingkungan. Kita malah sudah sampai pada program konkret seperti menolak semua kegiatan yang merusak lingkungan, dan kita menciptakan kegiatan yang pro lingkungan, dan hal itu harus dimulai dari diri sendiri. Izin usaha pertambangan dalam hutan lindung dicabut dan semua izin tambang dievaluasi. Kita ini indah dan menang dalam berprogram, tetapi kalah dalam beraksi,” katanya.

Sedangkan balon lain Hery Nabit mengatakan, nafsu mengeksploitasi lingkungan harus dihentikan karena dampaknya buruk dan bersifat permanen. Ada banyak asumsi yang tampak logis ketika memasukkan tambang ke suatu daerah, di antaranya tambang menyejahterakan masyarakat. Faktanya, warga di sekitar lokasi izin tambang tetap miskin.

Lebih jauh, kontribusi untuk PDRD tidak pernah lebih dari 2 persen dan pendapatan untuk daerah hanya ratusan juta saja. Dibandingkan dengan dampaknya, kerusakan jauh lebih besar dan tak terhitung. Lalu, ada asumsi bahwa kerusakan bisa dipulihkan dengan reklamasi, faktanya tidak ada reklamasi di bekas-bekas lokasi tambang di Manggarai. Aturan ada, tetapi tidak dilaksanakan.

“Kami mempunyai banyak program konkret untuk pembangunan berkelanjutan dan pro lingkungan. Kita ingin alam dan lingkungan di Manggarai tetap terjaga sampai kapan pun,” katanya.

Pengalaman Buruk

Balon lain lagi, Paskalis Didi Soe mengatakan, dirinya mempunyai pengalaman buruk ketika berada di Kalimantan. Anaknya terkena penyakit kulit dan debu mangan juga menyerang otaknya. Hal itu diketahui berdasarkan hasil kesimpulan pemeriksaan dokter di Amerika Serikat karena anaknya terus sakit.

“Karena saran dokter, kami harus meninggalkan Samarinda dan sekarang tinggal di Bali. Sekarang penyakit kulit pada anak saya tidak ada lagi. Saya sebenarnya mau mengatakan bahwa hidup dengan tambang itu tidak baik untuk kesehatan dan lingkungan,” katanya.

Terkait reklamasi, kata Didi Soe, juga mempunyai pengalaman buruk di Kalimantan. Bekas tambang ditinggalkan begitu saja. Tak ada penanaman untuk memulihkan lagi keadaan tanah. Pernah juga uji coba tanam kelapa sawit di daerah bekas tambang. Hasilnya, kelapa sawit tidak produktif dan hasilnya berbeda jauh sekali dengan kelapa yang ditanam di tanah bukan bekas areal tambang,” katanya.

Pengusaha kelapa sawit ini mengatakan, tambang memiliki faedah positifnya, tetapi tidak seimbang dengan kerusakannya. Negatifnya lebih banyak dan lebih besar. Karena itu, upaya menyejahterakan masyarakat Manggarai perlu dicari alternatif lain, dan bukan upaya tambang. Alternatif ekonomi harus dicarikan bersama seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Manggarai.*** (Flores Pos, Sabtu, 6 Juni 2015)

Baca juga:

JPIC SVD Hadirkan Para Bacabup/Bacawabup Manggarai

Mulai Berjanji Tolak Tambang

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s