Bangunan SDK Turewuda di Ngada Memprihatinkan

Kemunduran Pendidikan2

Atap Seng yang sudah berlubang dan dindin‎g pelupuh bambu bercelah tembus pandang pada ruang kelas satu dan kelas dua, SDK Turewuda.

Oleh Arkadius Togo

Bajawa, Flores Pos — Kondisi bangunan Sekolah Dasar Katolik (SDK) Turewuda, Desa Waepana, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada (Flores, Nusa Tenggara Timur/NTT) sangat memprihatinkan, khususnya atap ruang kelas satu dan dua berlubang menganga, berlantai tanah, dan dinding-dingingnya terbuat dari pelupuh bambu yang bercelah-celah sehingga tembus pandang.

Marianus Sae

Bupati Ngada Marianus Sae

Ratusan murid yang bersekolah di SDK Turewuda harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bangunan sederhana nan usang yang sebetulnya sudah tidak layak pakai tersebut. Ini sudah berjalan selama empat tahun terakhir. Karena atapnya berlubang, maka saat musim hujan, air menggenangi ruang kelas, dan ini tentu menambahkan kerusakan pada bangunan tersebut.

Selain dinding-dindingnya, beberapa tiang sebagai penahan kerangka atap bangunan itu juga terbuat dari bambu, dan ada tiang penahan dari kayu isi seadanya. Kursi dan meja juga tampak memprihatinkan dengan jumlah yang sangat terbatas. Satu kursi diduduki dua murid, dan satu meja digunakan tiga murid. Bangunan ini diadakan secara swadaya baik oleh para guru maupun orangtua murid.

Kepala Sekolah SDK Turewuda, Adrianus Mere, kepada wartawan, mengatakan, sampai saat ini, ruang kelas SDK Turewuda sangat tidak layak, fasilitasnya sangat minim dan seadanya saja. Ada banyak kekurangan, namun Pemerintah Daerah Ngada tidak memperhatikan keadaan ini.

“Bukan hanya atap, dinding, kursi dan meja, SDK ini juga kekurangan lemari dan papan tulis. Kasihan sekali, para murid dan guru tidak bisa melakukan aktivitas belajar mengajar dengan tenang. Namun kita tetap berjalan saja dengan kondisi seperti ini,” ujar Adrianus, pada Selasa 18/5).

Adrianus menambahkan, sekalipun mengalami kekurangan, namun karena tidak ada pilihan lain, maka siswa dan guru tetap bertahan dan menjalankan aktivitas KBM sebagaimana biasa.

“Yang mengalami kekurangan bukan hanya ruang kelas satu dan dua, melainkan juga ruang kelas tiga, kelas empat, kelas lima dan ruang kelas enam. Jumlah kursi dan meja sangat minim. Demikian juga lemari untuk menyimpan buku, tidak tersedia satu pun. Ruang khusus untuk guru juga tidak ada, padahal itu sangat dibutuhkan. Guru-guru membuat sekat di dalam ruang kelas siswa untuk dijadikan sebagai ruang guru ,” katanya.

Siswa di SDK Turewuda berjumlah 105 orang. Sekarang ada ruang khusus untuk guru-guru dan antara ruang guru yang satu dengan guru lain, dibuatkan sekat. Di ruang guru ini, diadakan kegiatan KBM untuk kelas enam.

“Para murid sering mengeluh, ruang kelas mereka terasa pengap yang membuat mereka tidak nyaman. Para murid juga merasa tidak nyaman karena dua siswa duduk pada satu kursi atau tiga siswa gunakan satu meja,” tukasnya.

Guru wali kelas dua, Maria Taung mengatakan, siswa pada satu ruang kelas berjumlah 20-an murid. Saat hujan tiba, air pasti langsung turun ke dalam ruang kelas karena banyak atap seng berlubang (terbocor). Dalam keadaan ini, guru dan murid tetap menjalankan KBM.

Adrianus Mere dan Maria serta para guru lainnya berharap Pemerintah Kabupaten Ngada, dalam hal ini Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) memperhatikan kondisi SDK Turewuda. Pelbagai fasilitas mesti diperbaiki dan ditambahkan agar kegiatan KBM di sekolah itu berlangsung aman di mana para guru mengajar dan para murid belajar dengan lebih lancar dan lebih baik lagi.

Bupati Ngada Marianus Sae, dalam kunjungan ke SDK Turewuda, mengatakan, pemerintah akan serius memperhatikan keadaan sekolah tersebut.

“Saya baru tahu keadaan SDK Turewuda ini. Selama ini, tidak ada laporan kepada pemerintah terkait keadaan SDK ini. Saya sudah membuat agenda khusus bahwa warga Ngada diberikan kesempatan yakni pada hari Selasa dan Kamis setiap pekan untuk menemui saya di ruang kerja saya di Bajawa untuk menyampaikan pelbagai keluhan tentang keadaan desa dan kampung di seluruh wilayah Kabupaten Ngada. Namun selama empat tahun lebih masa jabatan saya, bahkan sekarang sudah hampir selesai, tidak satu pun warga Turewuda yang berani menemui dan menyampaikan keadaan SDK Turewuda ini,” kata Marianus.

Kepada warga, para guru dan siswa, Marianus berjanji untuk memperhatikan keadaan SDK Turewuda.

Disaksikan Flores Pos, di ruang kelas satu dan dua, berseliweran kotoran sapi. Menurut warga, pada malam hari, sejumlah kawanan sapi “menginap” di ruang kelas tersebut. Di sekitar bangunan itu tidak ada pagar sebagai pengaman.*** (Flores Pos, Senin, 25 Mei 2015)

Baca juga: Kemunduran Pendidikan

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s