Bupati Yance Bersumpah Mati Bukan Suatu Jaminan

  • Terkait kasus pembunuhan Lorens Wadu

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur bersumpah di Balauring terkait dengan kasus pembunuhan terhadap Lorens Wadu yang diduga dilakukan di Rumah Jabatan Bupati Lembata. Namun sumpah yang dilakukan bupati ini tidak memiliki jaminan bahwa dugaan Lorens Wadu dibunuh di Rumah Jabatan itu tidak benar. Proses hukum akan membuktikannya jika polisi bekerja dengan hati nurani.

Hal itu disampaikan Romo Frans Amanue dalam konferen­si pers terkait ka­sus pembu­nuh­an Lorens Wadu di Aula Da­mian, Se­lasa (23/6). Konferensi pers terse­but di­lakukan oleh Forum Penye­lamat Lewotana Lem­ba­ta (FP2L), dihadiri Ketua FP2L Alex Murin, Bernadus Sesa Manuk, Ali Kedang, Silvester S. Wutun, Pater Vande Raring SVD, Romo Frans Amanue dan Pater Mikael Peruhe OFM serta sejumlah wartawan.

Romo Frans Amanue mengata­kan, apa yang diberitakan oleh me­dia massa bahwa bupati bersum­pah di Balauring terkait dengan ka­sus pembunuhan Lorens Wadu yang diduga dilakukan di rumah jabatan itu sah-sah saja. Namun yang harus diingat, kata Romo Frans, bupati boleh bersumpah mengang­gap dirinya benar, namun tidak ada jaminan isi sumpah yang diucapkan bupati itu benar atau tidak benar.

Romo Frans mengata­kan, ”sumpah akan makan kita sendiri, kalau apa yang kita sumpah itu tidak be­nar.”

Romo Frans mengata­kan, pembunuhan Lorens Wadu yang diduga dilakukan di Rumah Jabatan Bupati Lembata saat ini masih dalam proses pe­nyelidikan. Uga Uran sudah dipanggil untuk dimintai keterangan terkait dengan kesaksian dirinya yang pernah menonton video yang diperlihatkan oleh Irwan Paokuma. Karena itu, lanjut Romo Frans, polisi tidak bisa memanggil dan mem­proses Uga Uran karena laporan pemfitnahan oleh Irwan Paokuma

“Keterangan Uga Uran dan Irwan Paokuma harus dibuktikan di persidangan nanti. Keterangan Uga dan Irwan harus diuji di peng­adilan. Karena itu polisi tidak bisa memproses Uga Uran dengan tuduhan pem­fitnahan. Polisi harus kon­sen dengan keterangan Uga Uran yang menonton video rekaman di rumah jabatan itu,” katanya.

Menurut Romo Frans, kalau kita mengkritik lagi isi surat panggilan ter­hadap Uga Uran, tidak jelas siapa yang memfitnah dan siapa yang difitnah atau dicemarkan. Uga Uran dipanggil polisi untuk dimintai keterangan­nya terkait dengan kasus pembunuhan Lorens Wadu.

Keterangan resmi Uga Uran di Penyidik Polres Lembata ini lalu digunakan oleh Irwan untuk melaporkan Uga Uran dengan tuduhan pemfitnah­an. Dan anehnya, justru po­lisi lebih serius meladeni laporan Irwan Paokuma da­ripada kesaksian atau kete­rangan Uga soal pembu­nuhan Lorens Wadu yang diduga dilakukan di rumah jabatan bupati.

“Polisi gegabah atau ce­roboh. Polisi bukan mencari kebenaran, namun mencip­takan kasus baru. Kalau kerja penegak hukum seperti Penyidik Polres Lembata ini, maka ma­sya­rakat takut untuk menjadi saksi,” katanya.

Pater Vande Tidak Takut

Sementara Pater Vande Raring SVD yang juga dila­porkan ke polisi oleh Kabag Umum Setda Lembata Mi­chael Bala dengan tuduhan pemfitnahan atau pence­maran nama baik karena pernyataannya saat aksi de­monstrasi mengenang dua tahun kematian Lorens Wa­du, mengatakan dirinya tidak takut sedikit pun un­tuk diproses secara hukum. Pater Vande mengatakan, seharusnya Bupati Lembata jangan bersumpah di Bala­uring, tetapi bersumpah di Lewoleba karena Lewoleba merupakan pusat pemerin­tahan atau kekuasaan.

Menurut Pater Vande, pernyataan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dalam media massa bahwa ada upaya oknum-oknum terten­tu untuk menjatuhkan diri­nya dengan menyebarkan isu-isu dan mau supaya orang menyerang rumah ja­batan adalah hal yang tidak benar. “Apa yang disam­paikan oleh FP2L itu fakta. Keterangan Uga di BAP yang diperiksa oleh Penyidik Pol­res Lembata adalah fakta. Bupati keliru besar. Upaya provokasi untuk menyerang rumah jabatan justru itu yang isu, bukan fakta,” tandasnya.*** (Flores Pos, Rabu, 24 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s