Diduga, Uga Uran Dibujuk dan Ditawari Jabatan

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Saksi Uga Uran, sebelum memberikan keterangan ke­pada penyidik Polres Lem­bata, diduga dipanggil oleh Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, dan diduga Uga ditawari jabatan. Setelah Uga memberikan keterangan kepada penyidik Polres Lembata terkait ka­sus pembunuhan Lorens Wa­du yang diduga dilakukan di rumah jabatan bupati, bupa­ti melalui seorang kepala dinas Kabupaten Lembata meminta Uga Uran untuk menarik kembali keterang­annya di penyidik dan mela­porkan wartawan Flores Pos Maxi Gantung yang menulis soal pernyataan Uga Uran. Namun bujukan, rayuan dan iming-iming jabatan ini dito­lak oleh Uga Uran.

Hal ini disampaikan man­tan Penjabat Bupati Lembata Petrus Boliona Ke­raf kepada Flores Pos di kediamannya, Rabu (17/6).

Piter Keraf mengatakan, dirinya mendapat informasi dari sumber terpercaya bah­wa Uga Uran diduga pernah dipanggil oleh bupati Lem­bata dan bertemu di Waija­rang. Uga Uran ditawari ja­batan menjadi kepala UPTD, namun Uga Uran menolak tawaran itu. Karena ditolak, Uga juga ditawari tugas bela­jar, namun Uga Uran juga menolaknya. Dan yang ter­akhir, Uga ditawari tugas menjadi sopir EB 1, namun lagi-lagi Uga menolaknya.

Setelah Uga memberikan keterangan kepada penyidik Polres Lembata, Uga Uran diduga dibujuk lagi. Namun kali ini, bujukan dan rayuan ini diduga dilakukan bupati melalui salah seorang kepa­la dinas. Kepala dinas ter­se­but memanggil Uga Uran dan menyampaikan pesan bupati bahwa Uga Uran di­minta untuk menarik kete­rangannya di penyidik Pol­res Lembata. Setelah mena­rik kembali keterangan di penyidik Polres Lembata, Uga diminta untuk mela­porkan wartawan Flores Pos ke Polres Lembata. Namun Uga tidak mau.

Piter Keraf mengatakan, “jika benar ini terjadi, maka masyarakat akan sinis meng­apa bupati bersikap seperti itu. Bukankah de­ngan cara itu, bupati mem­buka kedoknya sendiri, ja­ngan-jangan bupati diduga terlibat atau sebagai otak pembunuhan Lorens Wadu.”

Jika dirinya berada de­kat dengan Bupati Yance Su­nur, maka dirinya akan mencegah bupati untuk ti­dak boleh bersikap atau berbicara seperti itu.

“Andai kata bupati de­kat dengan saya, saya pasti cegah dia untuk tidak boleh omong atau bersikap seperti itu. Salah besar, orang-orang dekat bupati tidak mem­bantu bupati. Seharusnya, orang-orang dekat bupati membantu untuk memfilter dia punya pembicaraan atau sikap,” katanya.

Dengan informasi seperti ini di masyarakat, kata Pi­ter Keraf, “ada warga masya­rakat yang mengatakan bah­wa habislah dan selesailah sudah kasus ini”.

Sementara itu, pengurus Forum Penyelamat Lewo­tana Lembata FP2L), Ber­nadus Sesa Manuk menga­takan, informasi mengenai dugaan pembunuhan Lorens Wadu di rumah jabatan bu­pati sudah dibicarakan di tengah masyarakat sejak setahun lalu. Saat itu, diri­nya menyampaikan kepada pengurus dan anggota FP2L, tetapi mereka tidak percaya kalau mantan kepala dinas perhubungan Kabupaten Lem­bata itu dihabisi di ru­mah jabatan.

“Saya turun ke lapangan di samping rumah jabatan, tepatnya di dekat pohon be­ringin untuk mempelajari apakah masuk akal kalau Lo­rens Wadu dibunuh di ru­mah jabatan bupati,” kata Man­tan Danramil Lewoleba ini.

Kesaksian Uga Uran di hadapan penyidik Polres Lembata dan adanya duga­an tawaran jabatan kepada Uga Uran serta duga­an  rayuan atau bujukan bupati Lembata melalui kepala dinas tertentu untuk mena­rik kembali keterangan Uga di penyidik Polres Lembata dan melaporkan wartawan Flores Pos, membuat akal budi dan hati nurani berbi­cara bahwa dugaan pembu­nuhan Lorens Wadu di ru­mah jabatan bupati mende­kati kebenaran.

Sementara itu, Bupati Lembata Eliaser Yentji be­lum bisa dikonfirmasi kare­na pada Rabu (17/6) mela­kukan kunjungan kerja ke Kedang. Sementara, pada Kamis (18/6), bupati mela­kukan rapat kerja dengan stafnya.

Kepala Bagian Humas Setda Lembata melalui SMS mengatakan, dirinya akan menyampaikan kepada bupati untuk mengklari­fikasi persoalan tersebut. “Baik ade, nanti saya komu­nikasikan dengan beliau un­tuk konferensi pers,” ujar.*** (Flores Pos, Jumat, 19 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s