Tolak Privatisasi Pantai Pede

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Soal privatisasi Pantai Pede di pinggir Kota Labuan Bajo, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), bukan cuma sekali diungkapkan kepada publik melalui media. Ada pelbagai berita, seminar dan opini yang mengungkapkan aspirasi masyarakat menolak privatisasi pantai tersebut. Aspirasi itu secara jelas ditujukan kepada Pemerintah Daerah Mabar dan terutama Pemerintah Provinsi NTT.

Namun hingga kini, aspirasi tersebut tidak dihiraukan. Yang paling tidak menghiraukan aspirasi itu adalah Gubernur NTT Frans Lebu Raya. Nah, kalau gubernur bersikap seperti ini, lantas kita bertanya, “gubernur itu dari mana dan untuk siapa?” Bukankah gubernur itu berasal dari rakyat dan untuk rakyat?

Oleh masyarakat, Pantai Pede sudah sangat lama dijadikan sebagai ruang publik di mana mereka berekreasi tanpa “batas” waktu dan tanpa bayar. Yah, “sebebas-bebasnya”. Selain pantai ini, tidak ada lagi ruang publik untuk berekreasi secara gratis.

Pemerintah Provinsi NTT (yang mengklaim pantai ini sebagai kepunyaannya) menyerahkannya kepada pihak ketiga (investor) untuk selanjutnya membangun hotel berbintang. Dengan ini, ruang publik ini dijadikan sebagai ruang pribadi (bahkan bisa dijadikan “milik pribadi” berlabel “kontrak pakai” jika itu berlangsung untuk selama-lamanya sebab investor akan tetap mampu secara ekonomi untuk memperpanjang kontrak). Karena dijadikan ruang pribadi (privatisasi), maka masyarakat pun tidak bebas dan bahkan “tidak akan pernah lagi melihat” Pantai Pede dari dekat.

Pemerintah provinsi memang memiliki alasan: privatisasi Pantai Pede akan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Ini benar. Tetapi apakah PAD yang bersumber dari Pantai Pede diperoleh hanya dengan jalan privatisasi? Kalau dijawab ya, berarti ini salah. Pemerintah provinsi memang berencana mencari tempat lain untuk dijadikan ruang publik, tetapi mencari di mana? Janji muluk?

Ruang publik yang paling dekat dengan Kota Labuan Bajo adalah Pantai Pede. Andaikan ruang publik alternatif itu ada, berarti itu berada di tempat yang jauh dari Kota Labuan Bajo, dan itu hanya akan menjadi tempat pembuktian janji pemerintah, bukan menjadi tempat publik di mana masyarakat akan memanfaatkannya; akan mubazir. Masyarakat pun akan menjadi korban kapitalisme investor dan keserakahan (otoriter) penguasa.

Gagasan lawan arus (kapitalisme dan otoriter) yang diungkapkan oleh wakil rakyat NTT Yucun Lepa patut kita apresiasi. “Pembangunan hotel di Pantai Pede yang menandakan privatisasi pantai tersebut tidak boleh dipaksakan. Pembangunan digalakkan untuk menyejahterakan masyarakat yang adalah subjeknya, dan kalau subjek pembangunan tidak mendukung pembangunan itu sendiri, maka pembangunan tidak bermanfaat bagi rakyat. Untuk mendulang PAD, tidak mesti melalui privatisasi, tetapi pemerintah mesti berkreasi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjadikan Pantai Pede sebagai tempat usaha kecil mikro. Ini lebih baik daripada privatisasi.” Kira-kira begitu ringkasan gagasan Yucun (FP, 19/6).

Kalau Frans Lebu Raya tetap ngotot, tidak menghiraukan aspirasi masyarakat, maka jalan satu-satunya yang ditempuh adalah pemerintah daerah Mabar (yang notabene juga menolak privatiasi Pantai Pede) tidak boleh memberikan izin sebagaimana dituntut oleh warga peduli Pantai Pede yang berdemonstrasi pada Sabtu, 20 Juni kemarin (FP, 22/6). Diharapkan, kita membangun gerakan bersama untuk mendukung Pemerintah Mabar dalam menolak kebijakan (privatisasi oleh) pemerintah provinsi.*** (Flores Pos, Selasa, 23 Juni 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s