Pater Vande Menolak untuk Diperiksa

Oleh Maxi Gantung

Pater Marsel Vande Raring SVD

Pater Marsel Vande Raring SVD saat berorasi beberapa waktu lalu, terkait proses hukum kasus pembunuhan Lorens Wadu.

Lewoleba, Flores Pos — Pater Marsel Vande Raring SVD yang selama ini sungguh memperjuangkan kemanusiaan dalam kasus pembunuhan berencana terhadap mantan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lembata, Aloysius Laurensius Wadu atau lebih dikenal Lorens Wadu, memenuhi panggilan polisi pada Rabu (24/6). Namun Pater Marsel menolak untuk diperiksa oleh penyidik karena tidak percaya dengan penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lembata dalam penanganan kasus Lorens Wadu yang diduga penuh dengan rekayasa.

Pater Vande mengenakan jubah berwarna putih, didampingi Romo Frans Amanue Pr,  Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) dan beberapa warga tiba di Polres Lembata pukul 10.00 Wita. Pater Vande, Ketua FP2L Alex Murin dan Uga Uran dipanggil penyidik untuk memberikan keterangan sebagai saksi pemfitnahan rumah jabatan bupati atas laporan Kabag Umum Setda Lembata, Michael Bala.

Pater Vande, saat diperiksa penyidik pembantu Brigpol Karolus B.W. Peuuma, menolak untuk diperiksa sebagai saksi atas laporan Michael Bala. Karena Pater Vande menolak untuk diperiksa, maka penyidik membuat berita acara penolakan pemeriksaan. Dalam berita acara penolakan pemeriksaan tersebut, Pater Vande mengatakan bahwa dirinya tidak percaya lagi dengan Satreskrim Polres Lembata dalam penanganan kasus pembunuhan almarhum Lorens Wadu yang terjadi pada 8 Juni 2013 lalu.

Kasus pembunuhan Lorens Wadu diduga penuh rekayasa dan manipulasi. Dalam orasi mengenang dua tahun kematian Lorens Wadu di depan kantor bupati lama pada 8 Juni 2015 lalu, Pater Vande tidak pernah menyebut nama Michael Bala. Pater Vande dan teman-temannya saat orasi mengatakan bahwa pembunuhan Lorens Wadu diduga dilakukan di rumah jabatan bupati Lembata.

Berita acara penolakan pemeriksaan ini ditandatangani oleh Pater Vande, penyidik pembantu Brigpol Karolus B.W. Peuuma dan disaksikan oleh dua anggota penyidik Polres Lembata Amon Jalla dan Herlita T.I. Tallan.

Sebelum diperiksa, Pater Vande mengatakan,  sebagai warga negara, ia tunduk kepada hukum sehingga dirinya hadir memenuhi panggilan polisi. Pernyataaan saat orasi mengenang dua tahun kematian Lorens Wadu bahwa pembunuhan Lorens Wadu diduga dilakukan di rumah jabatan bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Alex Murin, usai diperiksa mengatakan, dirinya dicecar dengan 12 pertanyaan berkaitan dengan orasi mereka saat mengenang dua tahun kematian Lorens Wadu. Saat berorasi, mereka tidak pernah menyebut nama Michael Bala. Mereka hanya menyebut bahwa pembunuhan Lorens Wadu diduga dilakukan di rumah jabatan bupati. Pernyataan tersebut berdasarkan keterangan saksi Uga Uran yang diperiksa oleh penyidik Polres Lembata dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu.

Uga Uran Konsisten

Sementara itu, Uga Uran mengatakan, dirinya tetap bertahan dengan keterangan sebelumnya. Keterangan yang sama juga pernah Uran berikan kepada penyidik Polda NTT.

Untuk diketahui, Uga Uran, saat dipanggil penyidik Polres Lembata sebagai saksi dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu menerangkan bahwa pada September 2013 lalu, Irwan Paokuma datang ke rumahnya untuk memperbaiki mobilnya. Tetapi karena saat itu sudah malam, mobilnya baru diperbaiki pada besok harinya.

Pada saat itu, Irwan Paokuma memperlihatkan video rekaman (handphone) kepada Uga Uran. Dalam video rekaman tersebut, ada empat orang sedang mengangkat orang yang dibungkus dengan kain. Dua orang yang pegang dan angkat kaki orang yang dibungkus dengan kain adalah tersangka kasus pembunuhan Lorens Wadu yakni satu orang anggota Polres Lembata dan satunya lagi adalah orang dekatnya bupati Lembata.

Sementara dua orang yang memegang kepala, Uga tidak mengenalnya karena mereka membelakangi kamera. Namun dua orang yang membelakangi kamera tersebut bercirikan berbadan besar dan tinggi.

Uga dan Irwan Paokuma pun dikonfrontasi. Irwan membantah memperlihat video rekaman kepada Uga Uran. Sementara Uga Uran tetap mempertahankan keterangannya. Tidak lama kemudian, Irwan Paokuma melaporkan Uga Uran ke Polres Lembata dengan laporan pemfitnahan. Dan polisi menyikapi laporan Irwan Paokuma.

Selain Pater Vande, Alex Murin dan Uga Uran diperiksa atas Laporan Michael Bala, polisi juga memeriksa saksi lain yakni anggota Pol PP Adam Geroda dan Mery Wujon. Adam Geroda mengatakan, saat ditanya penyidik, dirinya mengatakan tidak tahu soal pernyataan Pater Vande dan teman-temannya saat berorasi pada 8 Juni lalu. Dirinya saat itu berada dilokasi, namun tidak tahu pernyataan-pernyataan yang disampaikan Pater Vande.

Sementara itu, Kapolres Lembata melalui Kasubag Humas Polres Lembata, Bripka Yusuf Dharmawan mengatakan, Pater Vande memiliki hak menolak untuk diperiksa. Kasus yang dilaporkan Michael Bala ini masih dalam proses penyelidikan.*** (Flores Pos, Kamis, 25 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s