Stanislaus Kebesa Langoday, Figur Harapan Lembata?

Oleh Justin L. Wejak

Justin L Wejak

Justin L. Wejak, Dosen Kajian Indonesia, Universitas Melbourne, Australia

Pada tanggal 1 Juni 2015, saya mewawancarai Stanislaus Kebesa Langoday. Beliau adalah seorang PNS di Bappeda Lembata dan sudah menyatakan siap maju dalam Pilkada Lembata nanti. Tujuan wawancara dan tulisan ini, untuk memberikan sedikit gambaran tentang siapa figur ini yang namanya sempat diprediksi bakal menjadi ‘kuda hitam’ dalam Pilkada.

Pertanyaan

Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan termasuk: 1) Kapan dan di mana anda dilahirkan? 2) Ceritakan sedikit tentang pendidikan anda (TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi). 3) Riwayat pekerjaan anda? 4) Kira-kira apa impian anda untuk Lembata ke depan, dan bagai­mana mencapai impian itu? 5) Anda dianggap sebagai figur yang cukup memahami kebutuhan rakyat. Apa reaksi anda dengan anggapan itu? 6) Kalau anda terpilih menjadi bupati atau wakil bupati dalam pilkada nanti, kira-kira apa yang paling pertama anda lakukan untuk memastikan mulusnya proses pembangunan dan pemberdayaan Lembata ke depan? 7) Bagaima­na anda menghadapi kritik-kritik, entah dari masya­rakat atau para wakil rakyat atau kolega anda sendiri dalam birokrasi, terkait kinerja anda nanti?

Jawaban

Stanislaus Kebesa Langoday dilahirkan di Desa Riangbao, pada 25 Maret 1973, dari keluarga petani. Almarhum ayahnya sempat menjadi Kades Petuntawa (1976-1984). Ia adalah anak ketiga dari enam bersaudara.

Stanislaus bersekolah di SDN El Tari Riangbao (1979-1985); SMP Katolik AMPERA Waipu­kang (1986-1989); Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial Suryamandala Waiwerang, Adonara (1989-1993); Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS, BONGAYA) Makassar, Sulawesi Selatan (1993-1997). Ia menuliskan skripsi berjudul: “Presepsi Masyarakat terhadap Proses Pelayanan Anak Panti pada Panti Sosial Asuhan Anak Taruna Harapan Lembata”. Kemudian, ia meneruskan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Admi­nistrasi Negara (STIA-LAN RI Wilayah III Makassar, 2008-2010), dengan konsentrasi pada Manajemen Sumber Daya Aparatur. Judul skripsinya: “Analisis Gaya Kepemimpinan Direktur RSUD Lewoleba, Lembata”.

Stanislaus memiliki pengala­man kerja yang beragam. Ia sempat menjadi Sekretaris Yayasan Solidaritas Sedon Senaren Lamaholot (1998-2000), pekerja sosial pada Panti Asuhan Taruna Harapan Lembata (2000-2002), menjadi Staf Dinas Kesejahteraan Sosial & Pember­dayaan Perempuan Kabupaten Lembata (2002-2007); Staf Perencana pada RSUD Lewoleba (2007-2008); Staf Kantor Guber­nur Sulawesi Selatan (2008-2010); Kepala Sub Bagian umum & Kepegawaian pada RSUD Lewoleba (2010-2012); Kepala Sub Bagian Kerjasama Antar-Daerah & An-Lembaga pada Bappeda (2012-2014); Kepala Seksi Pemberdayaan Fakir Miskin, Keluarga & Komunitas Adat Terpencil (2014-sekarang).

Stanislaus mengimpikan Lembata bisa menjadi sebuah Kabupaten yang bermartabat. Artinya, pembangunan di Kabupaten Pulau Siput itu benar-benar menyentuh semua dimensi – fisik dan mental – menuju masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai impian ini, menurutnya, “Pe­mimpin harus ‘hijau’ (harmonis, inovatif, jujur, amanah, dan unggul) dengan tetap menggu­nakan konsep “Likat matan Telo” (Ekososbud, fisik infrastruktur, dan mental spiritual).”

Terkait pertanyaan kelima, tanpa bersombong diri, Stanis­laus mengakui bahwa anggapan itu memang wajar. Menurut Stanislaus, ia adalah “orang lapangan”, yang selalu berada bersama masyarakat. Mende­ngarkan persoalan mereka, dan bersama-sama mencoba men­carikan jalan keluar atas persoal­an-persoalan tertentu, misalnya, terkait kasus benturan sosial dalam masyarakat.

Ia mengisahkan, “Karena perjuangan bersama orang kecil, maka saya akhirnya terpilih dari dua puluh lima ribu anggota Ankara menjadi Sekretaris Dewan Pimpinan Kopdit Ankara untuk periode 2012-2015. Dengan wadah ini, saya berjuang untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan”. Demikian ungkap Stanislaus.

Dalam perjalanan turba ke 151 desa/kelurahan di Lembata selama ini, Stanilaus selalu mendengarkan dua keluhan utama dalam masyarakat. Pertama, infrastruktur jalan ke wilayah kantong komoditas. Kedua,  ekonomi keluarga morat-marit karena harga pasar, termasuk komoditas rakyat, tak terkendali.

Maka, menurutnya, “Jika Tuhan dan Lewotana memberikan restu, maka konsep saya adalah membangun dari desa infras­truktur jalan untuk mening­katkan daya saing harga. Dan pengendalian harga komoditas tetap menjadi kata kunci saya.” Ia pun menghendaki pihak pengusaha tidak menjadi tuan atas masyarakat setempat. Artinya, masyarakat harus bisa menentukan sendiri harga dari hasil-hasil tanamannya seperti kemiri, kopra, kacang tanah, jambu mente, dan lain-lain, tanpa harus didikte oleh toke-toke besar.

Menanggapi pertanyaan keenam, Stanislaus menyatakan bahwa yang paling pertama akan dilakukannya kalau terpilih nanti adalah mengundang semua paket yang tidak berhasil dalam Pilkada, termasuk semua stakeholders, untuk bersilatu­rahmi dan bersama-sama meramu seluruh kepentingan masyarakat untuk dijadikan pemandu pembangunan.

Terkait pertanyaan ketujuh, Stanislaus tak melihat kritik sebagai ancaman terhadap jabatannya. Malah ia mengajak semua pihak untuk kritis dan korektif terhadap pelaksanaan pembangunan. Diakuinya, “saya besar bersama masyarakat dan saya sangat terbuka. Bagi saya, kritik adalah bentuk evaluasi, dan saya siap untuk dikritik.”

Analisis

Wawancara ini saya lakukan secara tertulis pada tanggal 1 Juni 2015. Tanpa menunda-nunda waktu, dalam waktu kurang dari sejam pada hari/tanggal yang sama, Stanislaus menjawabi semua pertanyaan saya. Saya melihat ini sebagai indikasi positif dari seorang figur calon pemimpin yang siap dan sigap setiap saat melayani kepentingan orang lain.

Seperti terlihat dalam jawabannya atas pertanyaan keenam, Stanislaus menekankan pentingnya “kepentingan masya­ra­kat” sebagai pemandu pemba­ngunan. Bukan kepentingan dirinya dan konco-konconya, juga bukan sekadar kepentingan politik penjinakan terhadap para lawan politiknya dalam Pilkada.

Pascapilkada, Stanislaus menghendaki semua pihak disatukan untuk membangun Lembata menjadi sebuah Kabupaten yang bermartabat, adil dan makmur dalam semua dimensi kehidupan. Niat ini direfleksikan dalam konsepnya, “Likat matan Telo” (ekososbud, fisik infrastruktur, dan mental spiritual).

Konsep “Likat matan Telo” tidak sekadar diangkat untuk bergaya-gaya. Ia memperlihatkan pemahaman Stanislaus akan kebutuhan masyarakat yang hanya bisa dipenuhi apabila konsep ini sungguh-sungguh dipahami dan dilaksanakan. Kedekatannya dengan masya­rakat kelas bawah membuat dia mampu mengidentifikasi per­soalan, kebutuhan dan cara-cara pengentasan persoalan dan pemenuhan kebutuhan ma­syarakat.

Persepsi Stanislaus tentang kritik, dan keterbukaannya terhadap kritik, apa pun isinya dan bentuknya, dan dari siapa, sangat penting untuk diketahui masyarakat Lembata saat ini. Stanislaus memahami ketakutan masyarakat untuk mengkritik pempinan Lembata terkait kinerja mereka dan pelaksanaan pembangunan.

Beberapa kasus hukum yang melibatkan bupati sebagai pelapor atas dugaan penghinaan terhadap dirinya telah mencip­takan semacam budaya keta­kutan baru dalam masyarakat Lembata. Politik ketakutan dan penakutan tercipta manakala suara-suara kritis diberangus oleh penguasa dengan berbagai tuduhan penghinaan terhadap jati dirinya. Penegak hukum dijadikan sekadar alat untuk melanggengkan politik ketakutan dan penakutan dari penguasa, seperti terlihat selama masa Orde Baru Suharto (1966-1998).

Jawaban Stanislaus terkait pertanyaan tentang kritik memperlihatkan kepekaannya tentang keprihatinan dan harapan masyarakat. Eksekutif dan legislatif sebagai wakil rakyat, mestinya membangun semacam koalisi, bukan kolusi, untuk menjawabi kebutuhan-kebutuhan rakyat yang amat banyak dan rumit. Dan semua jawaban Stanislaus atas perta­nyaan-pertanyaan saya men­cerminkan pemahamannya tentang Lembata secara holistik.

Tentu saja, jawaban-jawaban Stanislaus masih perlu dibuk­tikan nanti apabila terpilih menjadi bupati atau wakil bupati Lembata. Namun, jawaban-jawabannya saat ini memberikan sedikit alasan untuk berharap, khususnya di kala lilin harapan tampak meredup.

Mungkin, Stanislaus Kebesa Langoday adalah figur harapan Lembata ke depan. Siapa tahu?*** (Flores Pos, Senin, 15 Juni 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s