Gisela dan Azizah

Oleh Ignasius Suswakara

gisela

Gisela

Membaca opini Avent Saur SVD bertajuk “Azizah dan Popularitas, Gisela dan Penderitaan” (FP, 6/6), kita akan dibawa pada suatu refleksi yang mendalam mengenai kemanusiaan kita. Apakah adil jika memilih mendukung Azizah menjadi juara Kontes KDI daripada mendukung kehidupan Gisela yang masih menderita? Penulis termasuk orang yang tersentuh dengan tulisan ini?

Namun, ada hal yang mengganjal setelah membaca tulisan ini. Kesimpulan dari tulisan  ini menyoroti beberapa hal, salah satunya adalah “orang gampang luluh terhadap bujukan mendukung Azizah daripada menderita bersama Gisela”. Dan kesimpulan ini tentunya ditujukan kepada semua yang telah mendukung Azizah entah dukungan langsung (mengirim SMS) atau pun tidak langsung (menonton, membicarakannya dan lain-lain). Apakah kesimpulan ini sudah tepat? Apakah dengan mendukung Azizah, orang kurang solider terhadap nasib Gisela? Penulis membayangkan bagaimana perasaan Azizah dan panitia saat membaca tulisan ini. Kesimpulan ini seolah-olah menyatakan bahwa popularitas Azizah membuat berkurangnya perhatian masyarakat terhadap penderitaan Gisela.

Menulis

Ignasius Suswakara, Staf Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende, Flores

Ada beberapa argumen yang bisa dikemukakan mengapa kesimpulan ini tidak tepat. Pertama, dukungan Azizah dan “Dompet Kemanusiaan Gisela” adalah dua hal yang mempunyai konteks yang berbeda, sekalipun menyentuh objek dukungan yang sama. Azizah sebagai kontes KDI adalah kisah nyata seorang gadis Maumere yang berjuang mencapai prestasi terbaik, yang tentunya akan berhubungan dengan popularitas dan dunia hiburan. Sementara, Gisela adalah kisah nyata seorang gadis kecil yang menderita sakit, namun proses penyembuhan terhambat karena kesulitan ekonomi orangtuanya.

Melihat sosok Azizah, mata kita tidak bisa melihat hanya pada kepopulerannya, tetapi juga perjuangan seorang gadis yang berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai impiannya. Perjuangan ke pentas KDI bukanlah perjuangan instan, tetapi melalui proses yang tidak semua orang dapat mencapainya. Pengamatan yang hanya bertumpu pada popularitas Azizah akan membuat penilaian kita tidak adil.

Azizah yang dalam perjuangannya merebut tempat nomor 1 dalam Kontes KDI membutuhkan bantuan semua pemirsa televisi (bukan saja orang Maumere) untuk mengirim SMS yang tentunya sudah merupakan bagian dari bisnis hiburan. Sebagai kontestan, wajarlah, jika ada banyak orang yang kemudian memberi dukungan kepada Azizah entah lewat mengirim SMS, menonton bareng, mengumpulkan dana dan sebagainya. Inilah dunia panggung di mana semua orang dapat berpartisipasi di dalamnya. Dan, jika kehadiran Azizah ini ternyata dilihat oleh pemerintah dan Gereja sebagai yang bisa membawa nilai berbeda tidak saja dunia hiburan tetapi juga nilai jual “pariwisata” daerah, dan simbol toleransi antaragama, tentunya ini merupakan hal yang menggembirakan. Apakah kita sulit melihat nilai toleransi antaragama di balik dukungan terhadap Azizah?

Sebagaimana tulisan dalam rubrik Bentara (FP, 5/6) yang melihat terlalu berlebihan jika Azizah dianggap sebagai simbol toleransi antarumat beragama di Kabupaten Sikka. Bukankah toleransi terjadi jika seorang yang beragama minoritas mampu berkembang dan mengaktualisasikan dirinya di tengah orang lain yang beragama mayoritas? Azizah diangkat sebagai duta pariwisata pun bukanlah hal yang berlebihan. Dengan tampil di televisi nasional, yang membawa nama “Maumere” dan kekhasannya, Azizah telah menjadi promosi pariwisata yang paling depan.

Sementara, Gisela adalah seorang gadis kecil yang belum bisa mencapai impiannya karena kesehatannya terganggu. Dan kisahnya adalah kisah yang lebih menyedihkan karena ia bahkan belum bisa berjuang meraih impiannya karena masih harus berjuang mempertahankan hidupnya. Sudah ada penderma yang menyumbangkan uang, namun belum cukup untuk membiayai seluruh pengobatan. Flores Pos sebagai media publik telah berupaya untuk membuka “Dompet Kemanusiaan” dan hal ini tentunya membutuhkan keterlibatan lebih banyak orang untuk membantunya.

Kondisi Gisela yang “gawat” tentunya tidak bisa disandingkan dengan “perjuangan Azizah di pentas KDI”. Kondisi Gisela adalah menyangkut nyawa seorang anak manusia, dan perjuangan Azizah adalah perjuangan mencapai prestasi. Namun, hal ini tidak berarti bahwa apa yang dipentaskan oleh Azizah tidaklah penting. Keterlibatan pemerintah dan Gereja mesti dilihat sebagai hal yang positif karena justru dukungan positif mereka tidak saja untuk mendukung Azizah mencapai prestasi tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan: toleransi antarumat beragama dan ekonomi (dampak pariwisata) yang tentunya juga akan berhubungan dengan nasib dan nyawa banyak orang. Ada banyak bukti bahwa kedua nilai ini turut mempengaruhi kehidupan banyak orang, bahkan nyawa banyak umat manusia.

Pembedaan kedua peristiwa ini merupakan hal penting karena berhubungan dengan argumen kedua, yaitu karena peristiwa yang berbeda, maka cara penanganannya pun berbeda. Penderitaan Gisela sudah seharusnya ditanggapi secara serius terutama oleh keluarga Gisela, pemerintah dan pihak-pihak yang membawa penderitaan Gisela ke tengah publik. Mengapa tiga orang disebutkan karena merekalah yang seharusnya bertanggung jawab lebih daripada melemparkannya ke ranah publik yang “juga” mempunyai tanggung kemanusiaan atas Gisela. Mengingat kondisi keuangan, pihak keluarga tidak mampu bertanggung jawab, maka sudah seharusnya pemerintah turun tangan atas hal ini. Flores Pos sebagai media publik adalah pihak luar yang telah mau membuka tangannya untuk membantu keluarga ini dengan membuka “Dompet Kemanusiaan Gisela”. Mengenai “Dompet Kemanusiaan”, jika memang sumbangan melewati jalur ini pun tidak bisa menyokong biaya Gisela, maka perlu dipikirkan cara lain yang lebih tepat dan upaya-upaya ekstra, mengingat gawatnya keadaan Gisela.

Satu hal yang perlu disadari adalah kecenderungan kodrati manusia bukan untuk menderita tetapi untuk bergembira dan bahagia. Suatu kecenderungan kodrati yang tidak bisa disalahkan. Kesadaran ini penting dalam upaya-upaya menyentuh hati orang lain untuk membantu penderitaan orang lain. Untuk itu, ada beberapa jalan keluar yang bisa dilakukan.

Pertama, melibatkan lebih banyak orang dalam tanggung jawab mencari sumbangan bagi Gisela. Kedua, pendekatan personal kepada pihak-pihak yang bisa membantu Gisela. Tentunya pihak pemerintah, Gereja, lembaga-lembaga pendidikan dan institusi lainnya tidak akan berpangku tangan terhadap penderitaan Gisela. “Gawatnya” keadaan Gisela tidak bisa mengandalkan masuknya sumbangan ke Dompet Kemanusiaan Flores Pos (dalam kolom surat kabar FP) tetapi juga usaha lebih untuk membantunya. Penderitaan Gisela membutuhkan lebih banyak media dan sarana untuk menyentuh hati masyarakat.

Popularitas Azizah sebaiknya ditanggapi secara positif. Mengapa kita tidak memakai ketenarannya untuk menyentuh hati masyarakat demi membantu Gisela? Itu hal yang lebih simpatik ketimbang membandingkan sumbangan SMS masyarakat kepada Azizah dengan sumbangan ke “Dompet Kemanusiaan Gisela”. Ini suatu hal yang kurang bermanfaat untuk kebaikan kedua anak-anak Flores ini, yang sama-sama membutuhkan bantuan masyarakat. Usaha-usaha ekstra dan simpatik perlu dilakukan agar kita tidak membuat asumsi atau kesimpulan yang salah tanpa diimbangi dengan upaya-upaya yang cukup.

Azizah kini telah meraih juara II di pentas KDI. Ia telah membuktikan bahwa seorang “nona” dari Maumere mampu mengunjuk potensinya di pentas nasional. Dengan itu, Azizah pun telah membuka jalan bagi semua orang yang mempunyai impian yang sama. Euforia ini telah berakhir, namun nama “Maumere-Flores-NTT” akan selalu dikenang berkat Azizah. Mereka yang beragama minoritas di Flores pun merasa semakin nyaman hidup di tengah masyarakat yang menghargai prestasi tanpa melihat agamanya. Sekarang, masih tersisa Gisela yang masih terkulai lemah di RS Denpasar. Nyawanya membutuhkan uluran kemanusiaan kita. Mari menyumbang untuk kehidupan Gisela.*** (Flores Pos, Jumat, 19 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s