Kemerosotan Moral Sosial

Oleh Avent Saur, SVD

gisela

Gisela

Coretan Ignasius Suswakara bertajuk “Gisela dan Azizah” menampilkan beberapa gagasan dan solusi konstruktif yang patut diapresiasi, tetapi mengandung beberapa uraian dan alur berpikir yang kurang logis (FP, 19/6). Saya tidak ingin terbawa ke arah hal yang kurang logis itu, demi mengantisipasi sebuah pertukaran ide yang kurang nyambung (demikian logat Jawa).

Untuk itu, saya lebih cenderung menyelisik dan menanggapi gagasan-gagasan inti dalam coretan tersebut, yakni gagasan moral sosial, sebab persoalan moral menjadi hal yang selalu diprioritaskan baik dalam menggagas, melakukan, maupun dalam membicarakan berkaitan dengan hal apa saja.

Pertama, membuat perbandingan antara (dan menilai) solidaritas masyarakat terhadap Azizah dan Gisela sama sekali bukanlah sebuah aksi “mempersalahkan” atau “membenarkan” siapa-siapa. Justru karena konteks kedua tokoh ini berbeda dan dukungan terhadap kedua tokoh berbeda ini pertanda sebuah solidaritas, maka perbandingan dan penilaian itu muncul. Selain Azizah dan Gisela, ada banyak tokoh dan keadaan berbeda yang sudah saya paparkan dalam coretan terdahulu: “Azizah dan Popularitas, Gisela dan Penderitan” (FP, 6/6).

Lebih jauh, karena bukan mempersalahkan siapa-siapa, maka perbandingan dan penilaian itu juga tidak berarti pembanding dan penilainya “berpikir negatif”. Ignasius Suswakara, misalnya, membuat perbandingan dan penilaian terhadap ide demi ide dalam coretan saya terdahulu, itu tidak berarti Ignas berpikir negatif terhadap saya. Sama sekali bukan.

Berdiskusi, berdebat adalah sebuah pertukaran gagasan; mencari cela-cela dan kelemahan gagasan, menguji gagasan demi gagasan, semuanya itu dibutuhkan demi saling membangun, bukan saling merendahkan dan menjatuhkan. Dalam konteks yang lebih luas, sekian sering, orang tidak mudah mengungkapkan penilaian termasuk kritiknya terhadap orang di sekitar atau juga atasan karena berpikir bahwa penilaian dan kritik itu sebuah aksi “mempersalahkan dan berpikir negatif”. Sebetulnya, inilah perwujudan dari hakikat sosial manusia; “mempersalahkan dan berpikir negatif” menodai kesejatian dan maksud awali hakikat sosial tersebut.

Kedua, karena bukan “mempersalahkan dan berpikir negatif”, maka sebetulnya coretan “Azizah dan Popularitas, Gisela dan Penderitan” lebih menggambarkan situasi sosial yang cenderung solider terhadap popularitas terkait prestasi hiburan dan ekonomi daripada terhadap penderitaan terkait prestasi perjuangan membebaskan “telur” nyawa dari “ujung tanduk” kehidupan. Ini pertanda faktual kemerosotan moral sosial kemanusiaan. Mungkin agak berlebihan, kalau saya mengatakan bahwa kalau moral sosial kemanusian yang mewujud pada “menderita bersama orang-orang yang menderita” semakin berkurang, maka bukan tidak mungkin, akan semakin banyak orang yang tidak peduli terhadap sesamanya yang menderita, dan demikian juga, akan semakin banyak orang menderita yang tidak mendapat solidaritas dari orang-orang yang didekatnya.

Dalam waktu bersamaan, misalnya, ada acara pesta dan ada juga orang menderita sakit yang tinggal berdekatan. Apakah orang lebih banyak berdoa dan memberikan sumbangan kepada orang sakit itu, ataukah terhadap tuan pesta? Perbandingan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana “moral sosial kemanusiaan” warga masyarakat disadari dan lebih jauh diamalkan. Dan inilah yang saya maksudkan dengan “petaka sosial kemanusiaan”. Dan lebih parah lagi, ketika petaka ini secara spontan lebih dipertontonkan oleh para tokoh publik seperti pemimpin daerah dan pemimpin agama. Pergi ke tempat pesta itu tidak berarti salah, atau pergi rumah orang sakit itu benar, tetapi pilihan ke tempat pesta daripada ke rumah orang sakit atau sebaliknya, sudah cukup terang menandakan secara jelas kualitas moral sosial kemanusiaan seseorang.

Ketiga, Flores Pos yang menghadirkan Gisela ke ruang publik adalah media lokal yang pembacanya sudah pasti lebih sedikit dibandingkan saluran televisi yang ditonton oleh puluhan ribu orang sehingga menurut Ignasius Suswakara, hal ini memengaruhi seberapa besar dan banyak wujud solidaritas masyarakat terhadap Gisela. Namun media sebetulnya hanya menjadi sarana untuk menggugah hati orang, tetapi mewujudkan kegugahan hati dalam aksi nyata, itu sangat bergantung pada kualitas pandangan dan aksi moral sosial kemanusiaan orang itu sendiri. Dan ini tidak bisa dipaksakan, sekalipun secara moral, diwajibkan (kewajiban moral).

Beberapa kali, saya bertemu dan bercerita dengan orang-orang yang pernah membaca Flores Pos. Ada di antara mereka yang menyinggung penderitaan Gisela, tetapi seberapa banyak dari mereka yang mewujudkan singgungannya dalam bentuk bantuan nyata? Ada juga di antara mereka yang menyinggung prestasi Azizah, tetapi ketika saya menyinggung penderitaan Gisela, mereka malah bertanya, “Gisela itu siapa?”, padahal dalam Flores Pos, berita tentang Gisela dan Azizah selalu dimuat sejajar pada halaman 20 Flores Pos.

Bukan cuma melalui Flores Pos, derita Gisela juga diketahui oleh teman-teman media sosial Facebook. Sebagai tanda keprihatinannya, ratusan orang menyukai itu, demikian juga yang berkomentar, tetapi berapa orang yang mewujudkan secara nyata keprihatinan itu? Sekalipun kita boleh mengandalkan media, juga pelbagai cara, tetapi sekali lagi, semuanya itu bukan bergantung semata pada media sebagai sarana, melainkan pada kualitas moral seseorang. Dan sekarang, dalam konteks Gisela, terjadi kemerosotan moral sosial. Akhirnya, mengulang ajakan Ignasius Suswakara, “mari kita bersolider terhadap Gisela”.*** (Flores Pos, Rabu, 24 Juni 2015)

 

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s