Korupsi dan Kapitalisme: Akar Eksploitasi Alam

Oleh Vianey Lein, SVD

Menulis

Vianey Lein SVD, Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin Jerman

Industrialisasi modern menghilangkan harmoni kosmos, menghadirkan chaos  dan momok kematian ekologi. Pencemaran dan perusakan lingkungan lewat sistem ekonomi perindustrian sangat membahayakan keberlangsungan hayati. Sampah karbondioksida dan metan merusak lapisan ozon. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida menghancurkan fertilasi dan pori-pori tanah.

Manusia, hewan dan tumbuhan terancam rusak oleh tindakan pembabatan hutan secara liar dan pemanasan global (global warming) seperti hujan asam, banjir, kekeringan berkepanjangan dan meningkatnya suhu.

Krisis lingkungan tersebut lahir akibat ulah manusia yang mengeksploitasi alam secara serakah dan tanpa tanggung jawab ekologis-generatif. Kebanyakan rakyat kecil menjadi korban. Krisis ekonomi dan sosial akan terus memperparah bencana ekologi. Para investor dan kaum kapitalis menyerempet masuk ke banyak wilayah dengan proyek raksasa pertambangan yang menggiurkan, namun pada akhirnya, mereka meninggalkan sampah beracun pada tanah.

Politik yang bobrok berandil terhadap kekisruhan ekologi. Politik mencemarkan diri, misalnya, ketika izin usaha pertambangan kepada investor, diberikan oleh pemerintah tanpa menghargai suara dan hak penduduk setempat. Protes dijawab dengan kekerasan.

Mantan Perdana Menteri India, Indira Gandhi mengatakan bahwa “kemiskinan adalah polusi lingkungan yang paling buruk (poverty ist the worst pollution)“, tetapi teolog Jerman dan Juergen Moltmann menandaskan bahwa “sesungguhnya bukan kemiskinan yang merupakan bentuk polusi paling buruk, melainkan korupsi yang menyebabkan kemiskinan itu sendiri”. Korupsi adalah bentuk polusi yang sangat berbahaya.

***

Berhadapan dengan krisis ekologi Leonardo Boff, pakar teologi pembebasan dari Brasil memperkenalkan konsep “budaya ekologi” dengan cakupan berikut.

Pertama, eko-teknologi. Masyarakat modern terstrukturisasi atas prinsip-prinsip ekonomi yang menekankan pertumbuhan tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan. Banyak tenaga kerja diperas demi memenuhi kebutuhan perusahaan atau mencapai target produksi. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang menjanjikan kemajuan sosial malah menyisakan sampah dan polusi. Eko-teknologi menggariskan bahwa segala bentuk penerapan teknik industri harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan membantu menyembuhkan alam yang telah “dilukai”.

Kedua, eko-politik. Politik sering dikaitkan dengan otoritas untuk menentukan kebijakan. Sistem politik dan birokrasi yang cenderung terarah kepada praktik korupsi, kolusi dan nepotisme akan melahirkan bencana ekonomi dan krisis moral yang mengancam iklim kehidupan berbangsa. Format kepemimpinan yang menempatkan interese pribadi, keluarga dan golongan di atas kepentingan bersama akan mengurungkan para elite politik dalam zona kenyamanan hidup, sementara rakyat miskin-pinggiran terus menderita dalam lilitan persoalan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Eko-politik harus mendahului eko-teknologi. Artinya, proses pengambilan kebijakan untuk penerapan teknologi industri terdahulunya mesti mempertimbangkan faktor kehidupan manusia dan ekosistem. Rasa solider dengan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam sekitar harus menjiwai kebijakan-kebijakan politik, juga soal mega projek pertambangan.

Ketiga, ekologi sosial. Berbagai modus pencemaran dan perusakan lingkungan mulai dari membuang sampah sembarangan dan eksploitasi perut bumi secara tidak bertanggung jawab merupakan gambaran relasi yang tidak harmonis antara manusia dan alam. Manusia menempatkan diri sebagai tuan atas alam dan pusat universum.

Paradigma ini menciptakan model “perang” baru yang permanen antara manusia dan alam, di mana manusia tampail sebagai pemenang perang dan alam terus terluka-kalah. Penyembuhan luka alam membutuhkan waktu yang lama, bahkan tak ada harapan penyembuhan. Ritme pertumbuhan alam membutuhkan proses yang panjang, jika dibandingkan dengan buldoser atau mesin yang menggaruk dalam hitungan menit bahkan detik.

Manusia adalah makhluk individual sekaligus sosial (sosialitas human dan infrahuman). Alam adalah kepunyaan manusia, dan manusia adalah kepunyaan alam. Dalam interaksinya dengan alam, manusia harus mengintegrasikan dirinya dengan alam dan melindungi dan melestarikannya. Di sini perlu dipikirkan, model penerapan teknologi industri dan pertambangan yang tidak mendatangkan bencana baik bagi manusia maupun alam.

Keempat, ekologi etik. Etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat dan politik yang otoriter adalah etika utilitarisme dan antroposentrisme. Manusia menempatkan diri sebagai tuan atas sumber daya alam dan memanfaatkannya demi pemuasan diri dan pemenuhan segala keinginannya. Berseberangan dengan itu, ekologi etik menempatkan alam sebagai pusat dalam “komunitas bumi” (ekosentris).

Prinsip dasar etika ekologi adalah penjagaan dan pemeliharaan segala ciptaan, terutama makhluk yang lemah dan tak berdaya. Segala aksi yang melukai dan menghancurkannya adalah keburukan. Etika ekologi menyiratkan tanggung jawab terhadap segala yang ada dan hidup dalam bingkai koeksistensi (ada bersama). Kosmos dan moral merupakan kesatuan yang tak terpisahkan bagaikan Yin dan Yang dalam filosofi Cina.

Kelima, spiritualitas kosmis-mistik. Spiritualitas kosmis-mistik berarti  suatu cara hidup yang menempatkan kehidupan sebagai titik pusat dan secara tegas melawan segala mekanisme pematian. Hidup mesti dijaga dan bukan dimusnahkan.

***

Pelbagai demonstrasi damai dan aksi kreatif (film animasi, kartun dan foto selfie) yang menolak tambang di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tak lain adalah sebuah upaya penyelamatan bumi yang sedang sakit. Perjuangan ini bukan saja diapresiasi, melainkan harus didukung dan terus dikobarkan. Lebih jauh, aksi tersebut bertujuan untuk membasmi polutan korupsi dan kapitalisme yang mencemarkan pertiwi.

Di tengah arus globalisasi, kita dituntut untuk menyelamatkan bumi yang sakit dan terluka oleh aksi “konsumtif” manusia dan menentang segala bentuk pencemaran, khususnya korupsi dan kapitalisme yang menjadi akar keserakahan yang mengeksploitasi alam. Arus globalisasi dengan teknologi industri yang canggih menawarkan pelbagai kemudahan untuk memanfaatkan alam demi memenuhi kebutuhan manusia.

Teolog dan Uskup Emeritus Limburg Franz Kamphaus dengan tegas menyatakan keterkaitan antara globalisasi industri dan teknologi: “tanpa globalisasi religius dan moral, menjadikan dunia kita tanpa masa depan“ (ohne eine religiöse und moralische globalisierung hat die eine welt keine Zukunft).*** (Flores Pos, Selasa, 22 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s