Nilai Kemanusiaan Diabaikan

Oleh Beatrix Polen Aran

Beatris Aran

Beatrix Polen Aran, Mahasiswa Universitas Flores, Ende

Peran elite politik kini perlahan bergeser dari menyejahterakan masyarakat menuju melecehkan nilai kemanusiaan. Salah satunya, elite politik di Lembata diduga terlibat kasus pembunuhan Lorens Wadu (FP, 19/6). Hal ini membuka ruang bagi masyarakat untuk melitanikan dosa elite politik yang selalu mempertontonkan kejahatan.

Pelbagai kebenaran tentang beberapa hal dibungkam oleh elite politik, dan masyarakat kecil hanya bisa bergeming dan cuma menyaksikan gerak-gerik elite politik. Seringkali elite politik berpura-pura mencari solusi, tetapi pada ujungnya, upaya itu akan memperkuat kedudukannya.

Soe Hok Gie pernah mengatakan bahwa “masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa”. Pernyataan ini perlu diingatkan lagi agar kita mengkritik secara militan rias kemegahan elite politik yang menggelikan yang berjuang mengabaikan nilai kemanusiaan yang semestinya dijunjung tinggi.

Mungkinkah praksis politik masih dipandang sebagai sebuah panggilan yang luhur dan mulia? Ataukah hanya sekadar sarana untuk memperkaya diri dan menodai kehendak luhur masyarakat?

Pemimpin yang ideal semestinya pro rakyat dan bukan malah memahat persoalan yang menimbulkan kontroversi di ruang publik dan membiarkan persoalan itu berlarut-larut tanpa solusi.

Kasihan bangsa ini, kasihan daerah kita. Seharusnya, elite politik yang dianugerahi kesanggupan untuk mengambil inisiatif untuk lebih banyak berbuat kebajikan menjalankan amanat rakyat malah berpaling kepada kebiadaban.

Sebuah adagium klasik mengatakan “ada berarti berada untuk yang lain” (est co esse). Pemimpin siap berada untuk masyarakat. Ketika ada masalah yang membingkai kehidupan masyarakat, pemimpin mesti segera mencari solusinya.

Sudah saatnya pemerintah harus bangun dari tidur lelap dan tidak alpa dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Jangan membiarkan masyarakat terlalu lama menunggu kebenaran. Elite politik harus menjadikan moral sebagai patokan dalam memimpin. Kita berharap semoga kasus pembunuhan Lorens wadu segera diselesaikan. Kalau tidak, semua pihak akan terus mempertanyakannya.*** (Flores Pos, Rabu, 24 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s