Kajian Postkolonial dan Indonesia Pascakemerdekaan

Oleh Redem Kono

Redem Kono

Redem Kono, Mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta, dan Ketua Divisi Akademi PELITA Jakarta

Bagaimanapun juga, Indonesia tidak dapat luput dari pengaruh sejarah kemerdekaan. Sejarah Indonesia sebagai negara bekas jajahan Barat (Belanda, Portugal, Inggris)  maupun Timur (Jepang) menjadi sangat menarik bila dicermati melalui kajian postkolonial. Dalam kirab kajian postkolonial, saya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan, wawasan dan praktik politik Indonesia seperti perdebatan Sutan Takdir Alisjabana, Sanusi Pane, dan Poerbatjaraka dalam Polemik Kebudayaan dan kebijakan neo orientalisme tidak terlepas dari riwayat penjajahan atas negeri ini ratusan tahun.

Polemik Kebudayaan

Pada 2 Agustus 1935, Sutan Takdir Alisjabana (selanjutnya ditulis STA) mempublikasikan tulisan berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia-Pra-Indonesia. Tulisan dalam majalah Pujangga Baru itu, pada umumnya berbicara tentang “periode pra-Indonesia” (berhenti pada akhir abad ke-19) dan “periode Indonesia. Dalam tulisan ini, STA menyerukan perlunya periode Indonesia itu untuk belajar dari peradaban Barat, supaya Indonesia bisa maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Tulisan ini menuai tanggapan beragam, di mana Sanusi Pane dan Poerbatjaraka mengkritik keras argumen STA. Dalam tulisannya di majalah Suara Umum berjudul Persatuan Indonesia (4 September 1935), Sanusi Pane menanggapi pandangan STA tersebut. Poerbatjaraka mengangkat persoalan-persoalan yang timbul dari pemikiran, dan atau peradaban Barat, dan karena itu, kebudayaan Timur mesti tetap dilanjutkan dalam pembangunan dan persatuan bangsa.

STA memulai perdebatannya dalam Polemik Kebudayaan, “maka telah sepatutnya pula alat untuk menimbulkan masyarakat yang dynamisch yang teristimewa sekali kita cahari di negeri yang dynamisch pula susunan masyarakatnya. Bangsa kita perlu alat-alat yang menjadikan negeri-negeri yang berkuasa di dunia yang dewasa ini mencapai kebudayaannya yang tinggi seperti sekarang: Eropa, Amerika, Jepang. Demikian saya berkeyakinan, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang terjadi sekarang ini akan terdapat sebagian besar elementen Barat, elementen yang dynamisch. Hal itu bukan suatu kehinaan bagi sesuatu bangsa. Bangsa kita pun bukan baru sekali ini mengambil dari luar: kebudayaan Hindu, kebudayaan Arab. Dan sekarang ini tiba waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat” (Alisjabana: 1948).

Pandangan STA mementaskan Barat sebagai sumber kemajuan. Indonesia sebagai bagian dari “Timur”: daerah bekas jajahan mesti berguru pada peradaban Barat. Barat menjadi patokan dan sokoguru kehidupan berbangsa, termasuk perubahan sosial dalam masyarakat Indonesia pascakemerdekaan.

Terhadap pandangan STA ini, Sanusi Pane mengajukan kritik bahwa pandangan STA bersifat ahistoris. STA lupa bahwa Indonesia sebagai bangsa ditenun dari sejarah peradaban pelbagai kebudayaan yang kaya. Patokan ke Barat dapat menghapus nilai-nilai kekayaan budaya, pemikiran, atau pun peradaban Timur. Barat tidak dapat menjadi patokan karena nilai dan praktik peradaban Barat yang secara ontologis dapat menghancurkan pembangunan dan persatuan Indonesia.

Kata Sanusi, “Barat….mengutamakan jasmani sehingga lupa akan jiwa. Akalnya dipakai untuk menaklukkan tenaga alam. Ia bersifat Faust, ahli pengetahuan (Goethe), yang mengorbankan jiwanya, asal menguasai jasmani. Timur mementingkan rohani sehingga lupa akan jasmani. Akalnya dipakainya untuk mencari jalan mempersatukan dirinya dengan alam. Ia bersifat Arjuna yang bertapa di Indrakila” (Pane: 1948).

Namun, dalam pelbagai kesempatan, Sanusi masih mengusung keunggulan mistik dari Timur. Manusia Timur dengan konsepnya tentang manusia rohani lebih unggul daripada manusia materialisme Barat dalam mencapai perubahan yang integral di masyarakat.

Dalam kacamata STA, Barat memiliki keunggulan-keunggulan seperti rasionalitas, kemajuan progresif, alat-alat produksi, dan nilai-nilai yang penting bagi perkembangan bangsa Indonesia sebagai bagian dari Orient (Timur). Sedangkan Pane menunjuk pada keunggulan peradaban Timur dengan kualitas mistik, dan semangat komunitasnya: kekeluargaan, persaudaraan, semangat kolektif.

Postkolonial dan Pascakemerdekaan

Dalam ilmu-ilmu sosial, perdebatan STA dan Pane sudah menjadi wilayah kajian teori-teori postkolonial. Pada umumnya, kajian postkolonial menunjukkan bahwa setelah negara-negara jajahan mengalami kemerdekaan, riwayat penindasan dan ketidakadilan dalam kurun lama tetap saja membukakan kolonialisme baru. Pola relasi kolonial dan pengaruh Barat terhadap (bekas) negeri jajahan tetap ada. Meskipun penjajahan secara formal ditinggalkan, tetapi konstruksi Barat terhadap Timur tetap saja menyisakan kepentingan, ideologi, dan kekuasaan Barat. Ini dapat menimbulkan dan membenarkan ketidakadilan.

Dengan menggunakan strategi baca teori kritis dan postmodernisme, sekelompok teoretisi berusaha membongkar pengandaian-pengandaian a la Barat tersebut sehingga membebaskan (bekas) jajahan dari cara baca Barat. Ini disebut teori postkolonial yakni penelitian-penelitian metodis, kritis, dan berdasarkan konteks terhadap masalah ketidakadilan sebagai imbas dari hegemoni, kolonialisme, dan narsisme epistemologi Barat sejak awal modern.

Teori postkolonial mengingatkan model pembelahan logika biner dalam menghadapi segala sesuatu, yakni menempatkan segala sesuatu dalam tegangan tak berujung: pembedaan dunia ide dan dunia materis (Plato), jiwa dan badan (abad pertengahan), rasional-empirik, yang berpuncak pada pemilahan Cartesian tentang rasio (res cogitans) dan tubuh sebagai objek terukur (res extensa). Model oposisi biner merambah pada pelbagai teori sosial-budaya. Salah satu contoh model ini adalah Timur (Orient) dan Occident (Barat). Para pemikir postkolonial seperti Edward Said, Gayatri Spivak, Homi Babha menolak model dikotomis ini karena pada gilirannya mengafirmasi gagasan subyek Barat sebagai penjajah, diri (self), pengamat, subyek rasional yang mengisahkan, dan lain-lain, sedangkan Timur memperoleh takdirnya sebagai orang terjajah, objek yang diamati, irasional, kekanak-kanakan, dan lain-lain.

Jika dibedah dalam kaca mata postkolonial, logika oposisi biner penjajah-terjajah dalam kondisi tertentu masih tetap dipertahankan dengan cara tertentu di negeri ini. Salah satu pokok penting kajian postkolonial dalam konteks Indonesia pasca kemerdekaan yakni postkolonial baru (neo-postcolonial). Di sini, oposisi biner ketika penjajahan (penjajah-terjajah, Eropa-pribumi) berubah wajah dalam pembicaraan tentang Barat (wilayah Indonesia Barat) dan Timur (wilayah Indonesia Timur). Logika biner ini berkaitan dengan keragaman suku, agama, ras (SARA) dan juga bergantung pada kontelasi politik dan keadaan ekonomi pascakemerdekaan.

Secara singkat, cara berpikir dikotomis (Islam-Kristen, Barat-Timur, kita-mereka), yang pada tingkatan radikal dapat mengubah tatanan masyarakat. Pelbagai konflik horizontal dalam masyarakat di Indonesia sedang menunjukkan model berpikir demikian.

Kontelasi politik menunjukkan kekhasan pandangan potkolonial: sebagai diskursus yang tidak bebas nilai sehingga pembedaan Timur dan Barat mengandung bibit keberpihakan politik. Dalam konteks politik Indonesia, Barat dianggap lebih dekat dengan pusat kekuasaan, di mana penentuan tentang hajat hidup penduduk Indonesia di ambil (termasuk Timur). Barat memiliki keunggulan  inferior di atas Timur karena berada jauh dari pusat kekuasaan. Barat memiliki kekuatan politis, prioritas pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan atas Timur.

Perbedaan ini melekat sehingga menciptakan, katakanlah, identitas bahwa Barat berarti kemajuan, kesejahteraan, berpendidikan, bermartabat. Sedangkan Timur identik dengan keterbelakangan, kekunoan, kebodohan, dan kelemahan. Identitas-identitas ini dapat menciptakan streotip-stereotip yang melecehkan, seperti Timur adalah geografi imajinernya Barat, dan lain-lain.*** (Flores Pos, Rabu, 15 Juli 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s