Membangun Batu-Batu Hidup

169

Seorang wartawan berpose di tangga masuk Kapel Stasi Kurulimbu, Paroki Ndona, Keuskupan Agung Ende, Minggu (12/7).

  • Pemberkatan Kapel Kurulimbu, Paroki Ndona, Ende
  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Kurang lebih ada tiga alasan pembangunan kapel atau gereja baru. Pertama, umat setempat sama sekali belum memiliki gereja. Kedua, gereja lama sudah tidak layak lagi (usang) sebagai tempat berdoa. Ketiga, gereja lama tidak mampu mengakomodasi jumlah umat yang semakin meningkat.

Tiga alasan yang tentu dipandang sebagai persoalan ini hanya mungkin dipecahkan dengan memperhitungkan kemungkinan mampu atau tidak mampunya ekonomi umat, bisa atau tidak bisanya ekonomi paroki atau stasi, dan ada atau tidak adanya (juga kecil atau besarnya sumbangan dari) donatur. Dan juga, tiga alasan itu bisa menjadi pendorong bagi umat, pemimpin gereja setempat dan donatur untuk bergerak bersama dalam semangat persaudaraan dan kemandirian.

Sekurang-kurangnya, itulah yang telah dialami oleh umat Katolik di Stasi Santo Yosep Kurulimbu, Paroki Ndona, Keuskupan Agung Ende. Pada acara pemberkatan kapel stasi itu, Minggu (12/7), Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota menegaskan hal tersebut. Bahwasanya, kapel yang dibangun dari kemandirian dan jerih lelah umat (dan donatur) itu adalah lambang persaudaraan dan kebersamaan umat Stasi Kurulimbu.

Namun lebih dari pada lambang, kapel itu mesti dimanfaatkan: tempat berdoa. “Kapel atau gereja dibangun bukan hanya sekadar simbol atau lambang, melainkan harus terbuka bagi umat untuk berdoa. Kalau kita kunci kapel ini selama 24 jam, pertanyaannya: untuk apa kita bangun gedung ini? Umat harus memanfaatkannya sebagai tempat ibadah,” tegas Mgr. Sensi.

Ajakan dan penegasan ini beralasan lantaran sekian sering pembangunan dan peresmian gereja baru kurang berpengaruh secara signifikan terhadap semangat kesaksian hidup rohani umat. Memang gereja dibangun dengan semangat kemandirian, tetapi tentu harus diakui, kemandirian dengan kadar kurang atau lebih. Memang gereja dibangun dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan, tetapi tentu harus diakui, kebersamaan dan persaudaraan dengan kadar kurang atau lebih. Imbasnya sejauh mana dan seberapa banyak umat yang memanfaatkan gereja itu secara intensif dan efektif?

Ajakan dan penegasan ini, kiranya membuat umat merasa digugah, dikritik dan digerakkan untuk (dari sisi ritual) mewujudkan identitasnya sebagai orang beriman Katolik, yang memandang gedung gereja (yang dibangun dengan bahan-bahan atau batu-batu mati) sebagai tempat berdoa entah pribadi entah bersama. Dengan memanfaatkannya sebagai tempat berdoa, umat memberikan semangat hidup pada batu-batu mati itu. Kalau tidak, gedung itu akan tetap tampak sebagai simbol semata.

Mengabadikan persaudaraan dan kemandirian dalam bentuk simbol batu-batu mati sekalipun simbol itu bermakna, mengandung risiko bahwa simbol itu terancam tidak dimaknai. Dengan itu, persaudaraan dan kemandirian yang terutama mesti diwujudkan bukan lagi hanya menghadirkan simbol bermakna melainkan diwujudkan secara nyata dalam batu-batu hidup (manusia) yang dililiti pelbagai persoalan hidup.

Persaudaraan, misalnya, terutama bukan sebagai lambang ketika umat hidup berdampingan satu sama lain. Dan persaudaraan itu bukan cuma sebagai keadaan tidak adanya masalah dan gesekan, melainkan bagaimana antara satu dengan yang lain saling membantu, meringankan beban hidup. Di sini, yang kita bangun, bukan lagi batu-batu mati (kapel, gereja) melainkan batu-batu hidup yang di dalamnya ada martabat luhur manusia. Inilah kesaksian hakiki Gereja.

Senada dengan itu, mungkin terlalu ekstrem ketika John M. Prior mengatakan, “Allah tidak menghendaki pembangunan Rumah Tuhan dalam rupa batu-batu mati yang tersusun rapih, tetapi sebaliknya Tuhan menginginkan pembangunan rumah yang dirangkai oleh batu-batu hidup (memecahkan masalah-masalah kemanusiaan).”*** (Flores Pos, Selasa, 14 Juli 2015)

 

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s