Gizi Buruk Menyebar di 12 Puskesmas di Sikka

  • Tertinggi di Kecamtan Lekebai dan Waigete
  • Total 36 Anak Balita Gizi Buruk

Oleh Wall Abulat

Bunda mengecup kening anaknya yang menderita gizi buruk

Bunda mengecup kening anaknya yang menderita gizi buruk

Maumere, Flores Pos — Jumlah anak balita yang menderita gizi buruk hasil penimbangan pada bulan Mei 2015 di Kabupaten Sikka tercatat bahwa ada 36 anak tersebar pada 12 puskesmas dari 23 puskesmas. Kasus tertinggi alias menempati urutan pertama yakni Puskesmas Lekebai Kecamatan Mego, dan Puskesmas Waigete Kecamatan Waigete dengan masing-masing jumlah balita gizi buruk 6 orang.

Para penderita gizi buruk lainnya tersebar pada 10 puskesmas yakni Puskesmas Teluk di Kecamatan Alok ada 5 anak balita, Puskesmas Nelle di Kecamatan Nelle dan Puskesmas Wolomarang di Kecamatan Alok Barat masing-masing 4 anak balita, Puskesmas Beru di Kecamatan Alok Timur ada 3 anak balita, Puskesmas Kopeta di Kecamatan Alok dan Puskesmas Waipare di Kecamatan Kangae dan Kecamatan Kewapante masing-masing 2 anak balita.

Ada empat puskesmas yang masing-masing 1 anak balita yakni Puskesmas Nanga di Kecamatan Lela, Puskesmas Nita di Kecamatan Nita, Puskesmas Bola di Kecamatan Bola, dan Puskesmas Boganatar di Kecamatan Talibura.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sikka, Dokter Maria B.S. Nenu  didampingi Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan (Yandas) Gizi dan Kesehatan Keluarga (Kesga), Silvia Elvriyansi Wanti, pada Jumat (3/7).

Kadis Maria menjelaskan, jumlah balita yang ditimbang  Mei 2015 lalu sebanyak 19.854 orang. Hasil penimbangan menunjukkan bahwa anak balita gizi baik sebanyak 15.744 atau 79,33%, anak balita dengan gizi kurang sebanyak 4.075 atau 20,5%, dan gizi buruk sebanyak 36 anak balita atau 0,1%.

”Anak balita gizi buruk ditentukan menurut tinggi anak balita per berat badan,” kata Dokter Maria.

Di Bawah Standar MDG’s

Dokter Maria B.S. Nenu mengakui, meskipun pada tingkat provinsi, kasus gizi buruk di Kabupaten Sikka termasuk tertinggi yakni 36 anak, namun bila mengacu pada standar MDG’s (millennium development goals), maka jumlah itu di jauh sangat kecil.

“Standar MDG’s tidak lebih dari 0,5% dari total balita yang ditimbang. Sedangkan di Kabupaten Sikka, persentasinya sangat kecil yakni 0,1%,” kata Maria.

Meskipun demikian, Dokter Maria berjanji untuk terus meningkatkan kerja sama dengan para pihak, termasuk para tokoh agama untuk terus mencari solusi atas gizi buruk sehingga jumlahnya menurun di waktu yang akan datang.

”Kita terus membangun kemitraan dengan pihak lain untuk mengatasi gizi buruk dan gizi kurang di Kabupaten Sikka,” katanya.

Masalah Kemiskinan

Dokter Maria juga menjelaskan, Dinkes Sikka telah menggali akar permasalahan di balik tingginya kasus gizi buruk dan gizi kurang di Kabupaten Sikka, terutama di beberapa Kecamatan yang menempati urutan pertama di antaranya karena masalah kemiskinan dan ketidaktahuan ibu dalam menangani kesehatan bayi dan anaknya.

”Akar masalah gizi di Kabupaten Sikka adalah kemiskinan. Data menunjukkan bahwa 82,71% dari total penduduk Sikka 317.101 jiwa adalah termasuk kategori miskin atau berjumlah 262.264 termasuk kategori miskin,” katanya.

Penanganan

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan (Yandas) Gizi dan Kesehatan Keluarga Silvia Elvriyansi Wanti kepada Flores Pos menjelaskan, ada beberapa langkah penanganan  untuk mengatasi gizi buruk yakni melalui pemberian makanan tambahan  (PMT) dengan pola positif deviden  di mana pola makanan dengan memberdayakan makanan lokal langusng di pos gizi berbasis masyarakat yang dikelola oleh masyarakat sendiri dengan menggunakan menu makanan lokal yang bergizi, dan beras empat bintang yang meliputi makanan pokok (beras, ubi, dan jagung), sumber protein baik protein hewani seperti ikan teri dan ikan lainnya, sumber protein nabati seperti kacang hijau dan kacang kedelai, serta sumber mineral seperti vitamin.

”Keempat sumber ini harus diperhatikan dalam upaya mewujudkan kesehatan bayi dan balita serta mencegah gizi buruk dan gizi kurang,” katanya. *** (Flores Pos, Sabtu, 4 Juli 2015)

Baca juga:

TPDI Bentuk Tim Advokasi Korban Gizi Buruk

Advokasi Kasus Gizi Buruk di NTT

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s