TPDI Bentuk Tim Advokasi Korban Gizi Buruk

Oleh Leonard Ritan

Petrus Selestinus

Petrus Selestinus

Kupang, Flores Pos — Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) bersama sejumlah praktisi hukum, wartawan, politisi, aktivis HAM dan demokrasi asal NTT atau diaspora NTT di Jakarta bersepakat untuk membentuk tim advokasi sosial dan bantuan hukum terkait persoalan kesejahteraan dan keadilan sosial yang dihadapi Pemda dan masyarakat NTT saat ini, seperti korban gizi buruk.

Koordinator TPDI, Petrus Selestinus menyampaikan ini dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Jumat (3/7).

Petrus menyebutkan, selain dirinya, sejumlah tokoh diaspora NTT di Jakarta yang telah bersepakat membentuk tim advokasi sosial dan bantuan hukum dimaksud, antara lain Bonifasius Gunung, Petrus Loyani, Robert B. Keytimu, Servas Serbaya Manek, M. Ardi Mbalembout, Heri Soba, dan Frans Herdiman. Kesepakatan itu diambil dalam forum rapat pada 2 Juli 2015.

Menurut pengacara kawakan nasional ini, pemberitaan media massa nasional dan lokal tentang kasus gizi buruk dan kelaparan yang masih menyertai keseharian masyarakat NTT, sungguh sangat memalukan dan sulit diterima akal sehat. Hanya pemimpin yang tidak mempunyai rasa malu dan berdarah dingin yang melihat peristiwa ini sebagai hal yang biasa-biasa saja. Padahal pemerintah pusat sudah menghabiskan dana triliunan rupiah melalui Pemda NTT untuk mengatasi masyarakat yang mengalami masalah kesejahteraan sosial seperti miskin, terpencil dan rentan sosial ekonomi di beberapa Kabupaten di NTT.

Menurut Petrus, advokasi sosial dan bantuan hukum dilakukan sesegera mungkin karena masyarakat NTT mengalami masalah kesejahteraan sosial bukanlah perkara baru. Bukan pula sebuah guncangan dan kerentanan sosial yang baru terjadi secara tiba-tiba sebagai akibat dari situasi krisis sosial, ekonomi, politik, bencana dan fenomena alam.

“Masalah kesejahteraan sosial adalah sebuah penyakit akut yang telah berlangsung puluhan tahun sebagai akibat terjadinya kemiskinan struktural yang dipelihara oleh pemerintah atau karena salah urus oleh pemerintah,” tandas Petrus.

Petrus menyampaikan, tim advokasi sosial dan bantuan hukum yang segera dibentuk merupakan wujud kepedulian Diaspora NTT di Jakarta dan sekitarnya. Ada fakta bahwa triliunan dana dari pusat ke NTT sudah dikucurkan. Berkali-kali gubernur, bupati dan DPR digantikan melalui pemilu, namun masyarakat NTT yang memiliki kehidupan tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial seperti kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, keterpencilan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku, korban tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi sama sekali tidak tertangani atau mengalami perubahan.

Petrus mengatakan, para tokoh profesional diaspora NTT di Jakarta meyakini betul bahwa persoalan anomali kesejahteraan dan keadilan sosial yang susul-menyusul terjadi di NTT, pada pokoknya merupakan persoalan “pembiaran”. Pemerintah lalai atau mengabaikan tanggung jawab, terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang secara sistimatis dan terstruktur demi kelanggengan kekuasaan dan membangun dinasti politik secara jangka panjang.

“Pembentukan Tim Advokasi Sosial dan Bantuan Hukum ini untuk melindungi dan membela hak masyarakat miskin yang dilanggar oleh pemda, dan menyadarkan pemda tentang hak masyarakat miskin yang sudah dilanggar itu supaya dipenuhi dengan segala akibat hukumnya,” ujar Petrus.

Petrus menyebutkan, para diaspora NTT di Jakarta memetakan empat bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial untuk kabupaten tertentu tidak dilaksanakan atau dilaksanakan tetapi tidak dengan rasa tanggung jawab, yaitu bidang rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan perlindungan sosial. Empat bidang ini stagnan, tidak jalan sama sekali.

“Untuk persoalan gizi buruk dan busung lapar, cepat atau lambat, suatu saat NTT hanya akan melahirkan satu generasi idiot, minder atau rendah diri sehingga menjadi manusia yang tidak produktif, yang pada gilirannya hanya akan menjadi beban negara,” papar Petrus.

Petrus juga menyampaikan, langkah-langkah advokasi sosial yang segera dilakukan dalam waktu dekat antara lain (1) menyerahkan LHP-BPK RI Perwakilan NTT ke KPK dan mendesak KPK untuk memprioritaskan penyelidikan dan penyidikan kasus dugaan korupsi dana bansos, karena persoalan busung lapar, gizi buruk dan warga konsumsi pakan ternak ini memiliki korelasi dengan perilaku korupsi pejabat-pejabat di NTT. (2) Meminta DPD RI dan DPR RI serta Komisi-Komisi terkait di DPR memanggil Gubernur NTT untuk menjelaskan secara transparan persoalan anomali kesejahteraan dan keadilan sosial yang paling sial di NTT selama ini. (3) Menyusun dan mendaftarkan gugatan terhadap gubernur NTT, bupati-bupati yang daerahnya terkena busung lapar berikut Presiden Jokowi, sebagai pihak yang telah melakukan perbuatan melawan hukum, yaitu lalai melakukan tugas dan kewajiban di bidang kesejahtaan dan keadilan sosial sehingga rakyat dirugikan.

Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stef Bria Seran dalam laporan tertulisnya menguraikan, dari 330.214 balita yang ditimbang selama periode Januari hingga Mei 2015, sebanyak 21.134 balita yang mengalami gizi kurang dan 1.918 balita menderita izi buruk tanpa kelainan. Dari jumlah balita yang ditimbang selama periode Januari-Mei 2015 itu, ada delapan kasus marasmus, satu kasus marasmus-kwashiorkor dan 11 (sebelas) balita meninggal dunia.

“Balita yang meninggal dunia ini, hanya berada di Kabupaten Timor Tengah Utara,” sebutnya.*** (Flores Pos, Senin, 6 Juni 2015)

Baca juga:

Gizi Buruk Menyebar di 12 Puskesmas di Sikka

Advokasi Kasus Gizi Buruk di NTT

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s