Ketika Bayi Dibuang Bundanya

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

BayiKasus pembuangan bayi bukan hanya sekali terjadi. Setiap tahun, selalu saja ada kaum hawa yang dengan berani “menerkam” anaknya sendiri, terutama anak yang dihasilkan dari hubungan gelap. Kasus ini terutama mendera dua kalangan: ibu rumah tangga (termasuk yang sudah menjanda) dan wanita muda (pelajar, mahasiswa dan wanita muda lainnya yang bukan pelajar-mahasiswa).

Kasus teranyar terjadi di Kabupaten Sikka, tepatnya di Desa Ojang, Kecamatan Talibura. Ibu muda Agustina Nona Ina (33 tahun) membungkus bayinya dengan sak semen, lalu membuangnya ke kebun. Sungguh mengerikan, kejahatan yang dibungkus rapih ini dibongkar seekor anjing kampung “cerdas” yang membawa insan malang itu ke jalan raya. Adalah Marianus Daud yang melihat dan mengejar anjing itu karena mencurigai anjing tersebut membawa dalam gigitannya seekor monyet. Ternyata, ketika anjing melepaskan insan tak berdosa itu dari gigitannya, itu adalah bayi malang tak berdosa.

Siapa ayahnya? Ia adalah Edu (entah sekarang berada di mana, entah apa statusnya sekarang) menjalin hubungan gelap dengan Agustina saat keduanya berada di Kalimantan. Agustina sendiri sudah bersuami, namanya Bandi, dikaruniai 4 anak. Ketika sudah kembali ke kampung suaminya di Wodon, Desa Blatatatin, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, ia menyembunyikan kehamilannya dari suami.

Apalah daya, kini upayakan penyembunyian itu dibongkar sehabis-habisnya, bukan oleh suami gelapnya, bukan juga oleh suami sahnya, melainkan oleh seekor binatang. Maka benar bunyi pepatah, “Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga,” atau “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Dan hebatnya, ketika bangkai tercium dan tupai terjatuh, Agustina dengan rendah hati mengakuinya. Tetapi betapa pun rendahnya hati bunda, betapa pun sesalnya nurani bunda, dan betapa pun kuatnya tekad bunda untuk bertobat, bayi malang nan terbebas dosa itu sama sekali tak merasakan kasih bunda dan ayahnya.

Apa yang dinilai di balik persoalan ini? Pertama, sudah pasti kasus ini diproses secara hukum dengan jeratan pasal pidana pembunuhan berencana. Agustina, pelanggar undang-undang pidana.

Kedua, tindakan Agustina dan orang-orang lain yang berperilaku sama (entah terekam media, entah tetap tersembunyi) adalah indikasi rendahnya keberpihakan manusia terhadap kehidupan. Pembuahan dalam rahim seorang wanita semata-mata dipandang sebagai hasil kerja keras (hubungan intim) dua insan beda jenis kelamin, sebaliknya mengabaikan keterlibatan yang ilahi sebagai pencipta bumi dan segala isinya. Pembuahan tidak dipandang sebagai keterlibatan insan beda jenis kelamin dalam prokreasi atau kokreasi (pelibatan manusia dalam meneruskan karya penciptaan yang telah dimulai oleh yang ilahi). Semestinya konsep teologis dipegang, karena kehidupan berumah tangga (khusus orang beriman) selalu disahkan dengan tata cara adat-istiadat agama.

Ketiga, karena kehidupan rumah tangga dilandasi konsep teologis, maka kepincangan hidup berumah tangga adalah bukti inkonsistensi kepada komitmen janji perkawinan. Sifat perkawinan: monogam (satu/unity) dan indissolubility (tak terputuskan) dinodai oleh kurangnya pendengalian nafsu seksual yang notabene bersifat hakiki dalam diri manusia.

Keempat, perkawinan sama sekali tidak mematikan nafsu seksual dalam diri pasangan yang berkawin. Nafsu itu tetap ada untuk selama ia berziarah di dunia ini, dan itu akan terarah bukan hanya kepada pasangan hidup, melainkan kepada orang lain yang dengan spontan “menarik”. Namun hakikat itu bisa diubah dengan cara mengontrol diri. Kasus Agustina dan yang serupa adalah bukti rendahnya kualitas control diri. Dan control diri tersebut mesti lebih menguat pada orang-orang yang belum terlibat dalam perkawinan yang sah.

Penilaian kita tentu bukan hanya sampai pada empat hal tersebut. Ada lagi hal lain, semisal, rendahnya perlindungan sosial terhadap keutuhan hidup orang lain, rendahnya daya akal sehat, melemahnya pelayanan pastoral, suburnya pandangan keliru tentang cinta, jatuh ke dalam lubang hedonisme dan seksualisme, serta masih tersisanya pandangan back to nature yang keliru.

Pelbagai persoalan ini hanya mungkin bisa diatasi kalau pelbagai elemen masyarakat terutama pihak pemerintah dan agama bergerak bersama, yang tentu mengandaikan keteladanan hidup para pemimpin agama dan pemimpin politik itu sendiri terlebih dahulu. Tanpa keteladanan, upaya mengentas persoalan itu bagai membuang garam ke samudra; bayi-bayi malang pun bukan tidak mungkin semakin banyak dibuang oleh bundanya sendiri.*** (Flores Pos, Selasa, 30 Juni 2015)

Baca juga:

Buang Bayi Hasil Hubungan Gelap, Ibu Empat Anak Ditahan

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s