Sekolah sebagai Laboratorium Sosial

Oleh Frans Nala, Pr

Frans Nala Pr

Romo Frans Nala, Pendidik pada SMP Santu Klaus Kuwu, Manggarai

Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 mengungkapkan bahwa pendidikan memiliki dimensi pencerdasan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Secara khusus, pada bab 2 pasal 3 dikatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan, membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan memiliki tujuan luhur dan mulia untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, berilmu, cakap dan kreatif, mandiri dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, pendidikan secara tidak langsung bertanggung jawab kepada pembentukan keadaban publik.

Melalui sistem pendidikan yang terencana, bangsa ini mengharapkan lahirnya generasi-generasi yang beradab, cerdas, unggul dan kompetitif dalam aneka bidang kehidupan. Kecerdasan sebagai salah satu tujuan pendidikan diungkapkan Howard Gardner (tentang Gardner, klik) sebagai kemampuan yang didasarkan pada potensi biopsikologis manusia untuk memecahkan suatu masalah atau menciptakan sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu. Itu berarti kecerdasan bermakna kreatif, inovatif, menghargai kehidupan, serta mampu mengaplikasikan ilmunya untuk diri dan lingkungannya. Karena itu, seluruh proses pendidikan di sekolah harus terarah kepada aktualisasi diri siswa dan pengungkapan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual secara integral.

Membentuk Peradaban

Secara sosiologis, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk peradaban bangsa. Hal ini berkaitan dengan tiga fungsi strategis sekolah. Pertama, fungsi sosialisasi. Sebagai institusi formal, sekolah bertugas menjaga dan memelihara nilai-nilai sosial dan kearifan budaya yang hidup dalam masyarakat.

Selanjutnya, sekolah diharapkan menjadi cerminan masyarakat ideal, atau imagine community dalam ungkapan Benedict Anderson (tentang Anderson, klik). Dengannya sekolah mesti menjadi laboratorium sosial yang mengkonservasi dan mereproduksi nilai-nilai yang unggul yang dapat ditimba oleh masyarakat demi mewujudkan habitus sosial yang baru. Itu berarti, seluruh proses pembelajaran di sekolah hendaknya menjadi momen pembudayaan pola hidup baru yang memelihara nilai-nilai luhur kehidupan, seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, saling menghormati, respek dan etos kerja yang tinggi.

Sekolah yang berbudaya dapat menjadi kekuatan perubahan menuju civil society. Dalam budaya sekolah yang unggul, nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, subsidiaritas, keadilan dan demokrasi dijunjung tinggi. Pola pembelajaran demikian sudah mulai diterapkan di beberapa negara.

Sebagai contoh, para guru di Amerika Serikat mengajar dan melatih para siswanya untuk menjadi insan yang mandiri, otonom dan berdaya saing. Dengan demikian, out put yang dihasilkan menjadi generasi yang kreatif, inovatif, mandiri, unggul dan kompetitif.

Seyogianya, Indonesia perlu mengembangkan pola pembelajaran serupa. Di tengah maraknya persoalan korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan seperti sekarang ini, para guru mesti menekankan pembelajaran pada aspek nilai, seperti anti korupsi, anti kekerasan, dan wawasan ekologis.

Kedua, fungsi kontrol sosial. Emile Durkheim (tentang Durkheim klik) mengatakan bahwa pendidikan moral bertujuan untuk membentuk pribadi manusia yang utuh, agar sanggup melawan kecenderungan egoisme. Dengan pendidikan moral, seseorang bertumbuh dalam kesadaran dan tanggung jawab sosial untuk membangun kehidupan bersama ke arah yang lebih baik. Bagaimanapun hidup bersama harus dibangun di atas dasar standar etis tertentu sebagai pilar perekat utamanya. Nilai-nilai etis tersebut menjadi horison dasar yang mesti diprehensi setiap orang. Apabila standar etis tersebut rusak, maka tatanan sosial akan hancur. Maka pendidikan harus menjadi wahana yang memungkinkan terjadinya internalisasi nilai-nilai dalam cara hidup seseorang. Pada gilirannya, nilai-nilai tersebut direproduksi kembali untuk mengarahkan perubahan sosial.

Dalam konteks ideologis, lembaga pendidikan (sekolah) hendaknya menjadi tempat bertumbuh-kembangnya nilai-nilai luhur pancasila. Nilai-nilai pancasila harus dikonservasi dalam laboratorium hidup sosial dan dicerap sebagai cara hidup dan kesadaran setiap pribadi dan kelompok masyarakat. Dengannya pengaruh-pengaruh dari luar yang merongrong kehidupan berbangsa atau merusak kohesitas sosial tidak mudah menguasai ruang sosial kita. Sekarang kita tengah mengkhawatirkan pengaruh ISIS di Indonesia. Secara ideologis, gerakan radikal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur pancasila dan bhineka tunggal ika. Sekalipun berbenderakan agama, gerakan tersebut mesti ditolak karena menggunakan kekerasan sebagai caranya. Lembaga pendidikan harus berperan sebagai barometer-kontrol untuk mengkritisi ajaran, gerakan atau ideologi apa pun yang tidak senafas dengan pancasila, dan bukan sebaliknya.

Ketiga, fungsi perubahan sosial. Suatu masyarakat bertumbuh di atas tatanan nilai tertentu sebagai fondasinya. Nilai-nilai tersebut berfungsi untuk menjaga keutuhan hidup bersama dan memelihara kerekatan hubungan antarpribadi. Perkembangan suatu masyarakat mengandaikan modifikasi-kreatif dan reproduksi nilai secara terus menerus. Tentu nilai-nilai dasar yang menjadi prinsip utama hidup bersama tidak berubah. Aspek penyesuaiannya berkaitan dengan formulasi dan pola-pola penerapannya dalam menjawabi kebutuhan dan tantangan hidup konkret. Apalagi di tengah pengaruh globalisasi saat ini, perubahan dan penyesuaian menjadi suatu keniscayaan dalam dinamika hidup yang berjalan begitu cepat dalam keserentakan. Dalam hal ini, lembaga pendidikan berperan mengarahkan perubahan tersebut ke arah yang lebih manusiawi.

Secara khusus, lembaga pendidikan harus menjadi wahana yang mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan dan demokrasi di tengah arus persaingan bebas yang begitu kuat. Sebab kadang struktur sosial kita membelenggu kehidupan manusia. Dan struktur yang membelenggu dapat melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, kekerasan, tirani sosial, fundamentalisme religius dan ideologis. Untuk itu lembaga pendidikan tidak boleh menciptakan “menara gading”, atau menjadi alat kaum penindas untuk melegitimasi struktur sosial yang tidak adil. Pedagog Brasil, Paulo Freire (tentang Freire klik) mengatakan pendidikan harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan. Artinya, pendidikan harus mampu melahirkan spirit pembebasan dan transformasi sosial menuju masyarakat madani.

Pendekatan Integratif

Sebagai laboratorium pembentukan keadaban publik, sekolah mesti mengembangkan pendidikan karakter secara integratif. Sekalipun mungkin tidak secara khusus termuat dalam silabus materi, tetapi pendidikan karakter mesti menjiwai seluruh dinamika pembelajaran di sekolah. Apalagi dengan sistem evaluasi akhir yang diterapkan saat ini, sekolah memiliki peran mutlak untuk menentukan kelulusan siswa berdasarkan evaluasi kepribadian, ketuntasan belajar dan perolehan nilai sekolah. Indikator khusus untuk mengukur pencapaian kreteria tersebut merupakan kewenangan sekolah. Namun hal ini mengandung tanggung jawab moral, bukan hanya sekadar lulus atau (di)luluskan saja demi menjaga image sekolah, melainkan harus mencerminkan kualitas pribadi yang utuh, baik kognitif maupun afektif dan psikomotorik.

Lembaga pendidikan tidak boleh lagi hanya terpaku pada studi akademis dan pengembangan eksperimentasi ilmiah, atau memburu nilai-nilai fantastis dalam UN namun dengan cara-cara yang tidak jujur atau manipulatif. Sebab semuanya itu akan menjadi tidak berguna kalau para lulusan tidak mampu berbuat sesuatu di tengah masyarakat, baik untuk perkembangan dirinya maupun untuk pencerahan sosial. Untuk itu proses pembelajaran di sekolah mesti terarah pada pembentukan softskills, seperti kecakapan hidup, penanaman nilai, pembentukan sikap dan pandangan hidup baru. Hanya dengan demikian kita boleh berharap akan lahir generasi-generasi baru yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan emosi dan keterampilan hidup. Pada gilirannya, masyarakat akan menimba sari-sari nilai hidup baru yang berharga dari sana!*** (Flores Pos, Rabu, 27 Mei 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s