Tolak Tambang dan Pastoral Alternatif

Tambang

Uskup Hubert Leteng mengunjungi salah satu lokasi pertambangan di Manggarai.

  • Apresiasi atas Karya Benny Denar

Oleh Romo Louis Jawa

Luis Jawa

Romo Louis Jawa, Pastor Desa di Lingkar Tambang Reo, Manggarai

Mengagumkan dan sangat inspiratif, kata-kata yang tepat melukiskan bahasa batin ketika membaca dan mendalami buku “Mengapa Gereja (Harus) Tolak Tambang”. Benny Denar, seorang aktivis dan rohaniwan muda memaknai panggilan hidupnya dalam tonggak sikap kritis yang luar biasa. Benny tidak hanya bergelut dalam pendidikan formil di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero dan formasi sebagai rohaniwan, melainkan juga memberi bobot baru tentang sikap kritis yang mesti dibangun Gereja (mulai dari dirinya sendiri) berhadapan dengan korporasi pertambangan, yang boleh disebut sebagai “gurita pertambangan”.

Buku karya Benny membahasakan secara tajam alasan gerakan tolak tambang dalam tinjauan etis filosofis dan teologis. Karya ini sejak awal didalami oleh sejumlah rohaniwan dan aktivis kemanusiaan dalam bedah buku dan diskusi publik pada 18 Juli 2015 dalam tajuk “Manggarai Raya, Pencaplokan Sumber Daya dan Masa Depan Kita”.

Tulisan ini hanyalah sebuah apresiasi dan afirmasi atas tesis Benny, betapa gerakan tolak tambang mesti memiliki dasar yang kuat dan harus selalu diwacanakan, digencarkan dan dibenturkan demi sebuah disintegrasi positif.

Tambang: Celah Keuntungan Penguasa Pengusaha

Globalisasi dan pertambangan nyata. Wacana di masa silam sudah menguat serta mimpi kemajuan dan keuntungan terjebak dalam lingkaran maut kekuasaan dan kekayaan. Polemik tambang di Flores mencerminkan ketegangan antara jaringan pemodal – penguasa melawan jeritan rakyat jelata – jeritan kosmis. Perkawinan konglomerat – penguasa dapat dipahami sebagai oportunisme politik-bisnis: membuka ruang bagi pemodal serentak menggenggam kekuasaan sekuat mungkin, tak peduli dengan keutuhan ciptaan dan masyarakat di lingkar tambang.

Jeritan rakyat jelata tenggelam dalam kepasrahan bisu selama berpuluh-puluh tahun, ketika pengusaha tambang datang dengan mengantongi izin pemerintah, yang konon disegani dan ditakuti. Nama perusahaan dari kota besar bahkan luar negeri meninabobokan penderitaan rakyat kecil sekitar area pertambangan. Artinya, kebijakan perizinan di masa lalu dimanfaatkan oleh kekuatan pengusaha untuk mencari peluang area pertambangan lain, mengeruk dan mengeksploitasi habis-habisan.

Pater Mike Peruhe OFM dalam sidang pastoral postpaska 2013 di Ruteng membentangkan manipulasi pertambangan berdasarkan studi dokumen perizinan dan operasional teknis lapangan di wilayah Manggarai Timur. Pegiat masalah kemanusiaan ini membuka ruang kesadaran bersama tentang keutuhan ciptaan dan perjuangan kemanusiaan. Janji kesejahteraan bagi rakyat sekitar area pertambangan hanyalah kebohongan, ketika upah mereka ternyata jauh di bawah standar upah minimum regional (UMR) Provinsi NTT.

Gereja dan Kepedulian Alam Ciptaan

Sri Paus Yohanes Paulus II peduli pada lingkungan hidup. Pada 1979, setahun setelah menduduki kursi kepausan, ia menyatakan Santo Fransiskus Asisi sebagai pelindung para pelestari lingkungan hidup. Dalam suratnya, Sanctorum Altrix, ia juga menyebut Santo Benediktus sebagai orang kudus lain, pelindung ekologi.

Benediktus bukan hanya membaca sabda Tuhan dalam Kitab Suci tetapi juga dalam kitab raksasa yakni alam raya. Ia menulis, “ kekuasaan yang diberikan pencipta kepada umat manusia atas seluruh bumi bukanlah kekuasaan yang mutlak. Kita tidak berhak berbicara tentang kebebasan untuk menggunakan atau mengatur segalanya sesuka hati. Dalam berhadapan dengan alam, kita harus tunduk di bawah hukum biologi dan hukum moral”.

Sebagai peringatan 20 tahun atas Ensiklik Populorum Progressio, ia mengeluarkan ensiklik Solicitudo Rei Socialis (SRS) atau Keprihatinan Sosial yang menekankan arti penting lingkungan hidup yang dilanda krisis.

Pertama, SRS lebih menyadari bahwa pemanfaatan mahluk ciptaan bernyawa atau tak bernyawa selalu menimbulkan akibat yang tidak terhindarkan. Penggarapan kekayaan alam demi keperluan ekonomi tanpa mengingat kodrat setiap pengada dan saling keterkaitan di antara sistem organisme teratur (kosmos) memang berbahaya.

Kedua, terdapat ciri keterbatasan sumber-sumber alam. Pemanfaatan kekayaan alam dengan sikap dominasi mutlak bukan hanya membahayakan generasi sekarang, tetapi juga generasi mendatang.

Ketiga, industrialisasi selalu menambah kontaminasi lingkungan dengan akibat-akibat berat untuk kesehatan masyarakat.

Selain itu, perhatiannya bagi lingkungan hidup ditegaskan kembali dalam ensiklik Centesimus Annus (CA), ajaran sosial Gereja untuk mengenangkan 100 tahun Ensiklik Rerum Novarum. Secara tajam, ia mengkritik kerakusan manusia yang berusaha menggantikan peran Tuhan. Eksploitasi atas lingkungan adalah irasional, bertentangan dengan akal sehat dan dilatarbelakangi oleh antropologi yang sesat: alam adalah objek yang harus dieksploitasi (CA, 37).

Ignas Kleden secara tegas menempatkan persoalan lingkungan hidup dalam ranah keterbukaan ruang dunia satu sama lain (2000; 24). Globalisasi membuka wajah dunia dan kerusakan ekologi di satu wilayah akan berdampak pada wilayah lain. Polusi udara tidak lagi dapat dibatasi secara teritori atau pengotoran laut tidak bisa dibatasi menurut ketentuan hukum laut dan perairan. Ekologi atau lingkungan hidup semakin cerah ketika dunia yang satu dan sama ini menjadi tempat bernaung bagi semua manusia. Egoisme kapitalistik akan sangat berdampak pada subordinasi bangsa-bangsa dan eksploitasi alam semakin menjadi-jadi. Problematika negara-negara kuat sering memperalat isu perdamaian untuk terus mengeruk kekayaan alam bangsa-bangsa yang secara geopolitis tak terlalu menguntungkan.

Fenomena bosisme terkuak di balik polemik tambang. Boni Hargens, pakar politik nasional menyebutkan empat kekuatan yang menjadi pilar bosisme dalam konteks Manggarai (2009; 16): tuang pelitik (elite partai politik), tuang pegawe (elite birokrasi), ata bora (konglomerat) dan ata rani (preman). Bosisme menguat dan melemahkan demokrasi lokal. Gerakan tolak tambang mesti berhadapan dengan mekanisme yuridis dan politis dari sebuah kebijakan (pertambangan). Jeritan alam semesta yang ‘sakit bersalin’ menyeret persinggungan ‘bola panas’ antara rasa nyaman/mapan dalam struktur politik bosisme dan panggilan untuk setia pada tugas kemanusiaan.

Tolak Tambang dalam Keberlanjutan

Berpastoral di daerah lingkar tambang adalah pergulatan panjang yang tiada hentinya, ketika kata tolak tambang tidak lagi didengungkan dari jauh dan dalam kemapanan, melainkan digaungkan dalam keseharian. Dalam keseharian inilah, agen pastoral seperti saya dan sahabat lainnya mendengarkan jeritan umat miskin: “Romo, kalau kami tolak tambang, kami makan apa? Romo, apakah Gereja dan Romo bisa membantu kami ketika semua pertambangan ditutup?” Dalam praksis, cukup banyak agen pastoral lainnya mnghindarkan tema pertambangan dalam katekese demi alasan kenyamanan dan tidak mau ambil risiko.

Torong Besi, Serise dan Tumbak (Satarteu) menjadi medan pelayanan pastoral nyata ketika saya dan sahabat pastor desa lainnya mesti bergumul dalam cara bertutur yang cerdas, tepat dan santun. Gereja dalam konteks yang lebih sederhana dan bersahaja, memang mesti membangun pastoral kontekstual dalam metodologi dan sistematika yang tepat sasar.

Hemat saya, Gereja tidak boleh hanya sekadar tolak tambang, melainkan memperjuangkan pastoral ekonomi kreatif di tengah kehidupan umat yang dililit problem kemiskinan dan ketidakadilan. Di sisi lain, agen pastoral mesti mengambil bagian dalam kesederhanaan umat dan bukan sebaliknya menjadi kaum elitis di tengah air mata umatnya. Karya Benny Denar memang kembali menghantar pembacanya dalam kegelisahan untuk kembali berani tolak tambang.*** (Flores Pos, Selasa, 21 Juli 2015)

Rotok

Berita tentang Bupati Manggarai Christian Rotok (klik di sini) yang memimpin Manggarai dua periode.

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s