Berawal dari Kepekaan (1)

Wawancara

Suster Lucia sedang diwawancarai di lobi Panti Santa Dymphna pada Kamis, 26 Maret 2015.

  • Orang Gila, Suster Lucia dan Panti Santa Dymphna

Oleh Avent Saur SVD

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Catatan: Sebulan lalu, 22 Juni 2015, Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere memperingati 25 tahun hidup membiara. Dengan kaca mata internal, seorang pegawai pantai itu Dion Ngeta telah merefleksikan hidup dan karya Suster Lucia, dan telah dipublikasikan Flores Pos dalam beberapa edisi. Dengan kaca mata eksternal, saya coba menyelisik karya dan hidupnya. Kiranya, ada hal-hal baru yang bermanfaat untuk kita (masyarakat, pemerintah, Gereja).

Di seantero wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencakupi 24 kabupaten/kota, ada hanya dua panti rehabilitasi jiwa. Yang satu, Panti Renceng Mose di Ruteng, milik bruder Kongregasi Fraterum Caritas. Panti ini dibangun tahun 2013, dan diresmikan tahun 2014, berkapasitas 20-an pasien, untuk laki-laki dan perempuan. Letaknya di Jalan Lingkar Luar, Kelurahan Golodukal, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai.

Yang lain, Panti Santa Dymphna di Maumere, milik suster Kongregasi Pengikut Yesus/Congregatio Imitationis Jesu (CIJ). Panti ini terletak di Jalan Litbang, Napunglangir, Wairklau, Maumere, Kabupaten Sikka; berkapasitas ratusan pasien, khusus untuk perempuan.

Sekalipun Yayasan Bina Daya (Yasbida) yang membawahi panti ini sudah dibangun jauh sebelumnya, Panti Santa Dymphna riilnya dibangun tahun 2004. Pada papan nama yang terletak di dekat pintu gerbang panti itu, tertulis “Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Santa Dymphna”, bukan “Panti Orang Gila Santa Dymphna”, bukan juga “Panti Rehabilitasi Jiwa Santa Dymphna”. Ya, tentu ada penyandang cacat mental dan jiwa, seperti orang dengan gangguan jiwa (bahasa yuridis dan medis) atau orang gila (bahasa sosial-tradisional sejak nenek moyang dulu), dan orang idiot atau autis, atau tunagrahita. Tetapi nama panti itu bukan tanpa cerita.

10 Gadis Cacat Fisik

Pada Kamis, 26 Maret 2015 siang, pemimpin dan penggagas sekaligus pendiri Suster Lucia CIJ ditemui Flores Pos (Pater Avent Saur – ditemani Frater Danto SVD, Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero Maumere, sekarang sudah diakon), di lobi panti itu. Di situ juga ada kru panti, Dion Ngeta selaku koordinator umum, Romo John O.Carm selaku pendamping rohani dan seorang pegawai lainnya. Ketika itu, mereka mengelilingi sebuah meja persegi panjang, mungkin sedang berdiskusi tentang perencanaan dan prospek panti pada masa mendatang.

Dari luar, kompleks panti itu tampak megah nan sederhana. Lantai dua dari sebuah bangunan bertingkat terlihat jelas dengan warna kalem putih kemuning tua. Dari jalan umum, bangunan-bangunan lainnya tak tampak karena pagar tembok panti itu lebih menjulang tinggi.

“Awalnya, kompleks ini hanyalah sebuah yayasan dengan rumah sederhana. Ketika pemimpin umum CIJ yang menetap di Potunggo, Ende, mengutus saya untuk berkarya di kantor cabang yayasan ini, saya agak bingung, entah apa yang hendak dikerjakan. Kantor pusat yayasan ini berada di Ende,” tutur Suster Lucia mengawali kisahnya.

Hari itu, 13 Januari 2003, ia menginjakkan kaki pertama kali sebagai misionaris di tanah bersejarah seluas 2.400m2 itu.

“Saya hanya memiliki keterampilan menjahit. Tapi seturut nama yayasan (Bina Daya), dengan keterampilan kecil ini, saya coba membina dan memberi daya kepada orang-orang yang membutuhkan. Suatu ketika, atas inisiatif sendiri, dan didanai Dinas Sosial Kabupaten Sikka, saya memberikan pelatihan menjahit untuk 10 gadis cacat di Maumere, 1-26 November 2003. Ketika sedang mengikuti pelatihan itu, mereka sempat melontarkan suatu permintaan yang terkesan menggugah: Mama suster, bagaimana kalau kami ditampung untuk terus belajar menjahit,” lanjut Suster yang mengikrarkan kaul pertamanya dalam kongregasi religus CIJ pada 22 tahun silam.

Menampung gadis-gadis cacat, membina dan memberdayakan mereka, adalah suatu misi yang terhitung “bisa diwujudkan” bahkan mudah bila pelbagai fasilitas dan modal kebutuhan pokok (makan-minum) tersedia. Namun apa hendak dikata, fasilitas dan modal tidak mudah didapat. Ini menjadi tantangan yang mesti dihadapi.

“Saya tidak punya uang untuk membangun rumah bagi kamu,” ungkap Suster Lucia singkat menanggapi permintaan para gadis penuh daya juang itu. “Kita mencari bersama, mama suster, bagaimana pun caranya,” tukas mereka penuh optimistis.

Tidak lama berselang, Suster Lucia, misionaris asal Paroki Mangulewa, Ngada, itu berani mulai mewujudkan permintaan mereka. Di gubuk sederhana layak pakai, kesepuluh gadis cacat itu mulai mengukir sejarah Panti Santa Dympna, tepatnya 22 November 2003. Mereka menyusun proposal untuk disebarkan kepada orang-orang yang dianggap “berpunya”, antara lain para pengusaha di sekitar pertokoan Kota Maumere (Ibukota Kabupaten Sikka) dan beberapa instansi pemerintah untuk meminta satu-dua sen. Itu dibuat selama kurang lebih tiga hari. Alhasil, Rp462.500 ada pada genggaman mereka. Ditambah dengan Rp2.000.000 yang ditampung Suster Lucia dari uang honorarium pelatihan menjahit, modal itu cukup memberikan optimisme baru. Bersambung ke Kembali ke Dasar Iman (2) *** (Flores Pos, Senin-Rabu, 20-23 Juli 2015)

Tulisan serialBerawal dari Kepekaan (1)Kembali ke Dasar Iman (2)Namanya Santa Dymphna (3)Rupa-Rupa Kesembuhan (4) dan Orang di Pinggir Perhatian (5)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s