Kembali ke Dasar Iman (2)

Wawancara2

Romo John O.Carm, Suster Lucia dan Dion Ngeta diwawancarai di ruang tamu Panti Santa Dymphna, pada Kamis, 26 Maret 2015.

  • Orang Gila, Suster Lucia dan Panti Santa Dymphna

Oleh Avent Saur, SVD

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Seorang teolog dan filosof, Franz Magnis Suseno pernah berujar, “apabila kita menghadapi tantangan, dan apabila kita ingin menguatkan hidup, marilah kita back to basic, yakni kembali ke dasar iman”.

Kehadiran 10 gadis cacat itu merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Suster Lucia untuk berbuat sesuatu. Ia ditantang, sekaligus ia diperkuat, dan itu semua digelutinya dalam terang iman dan keterpilihannya sebagai seorang misionaris.

Bagi Suster Lucia, inilah momen untuk secara sungguh mewujudkan amanat ajaran sosial Gereja universal dan visi-misi kongregasi yakni option for the poor sebagaimana pernah diwujudkan Yesus dahulu ketika Ia hidup di tengah bangsa Israel; dan misi itu diamanatkan-Nya kepada Gereja untuk diteruskan sampai akhir zaman.

“Inillah kehendak Allah. Dan karena itu, kami membiarkan Allah untuk menunjukkan jalan terbaik kepada kami. Kesepuluh gadis cacat itu adalah representasi nyata dari orang kecil dan hina dina. Kan ada firman, Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40),” kata Suster Lucia mengingat kembali refleksi teologis dan praksis imannya 11 tahun lalu itu.

Dalam sebuah bundelan berisi profil panti untuk kepentingan laporan kepada Dinas Sosial Kabupaten Sikka, “kambali ke dasar iman “ itu tertulis sangat jelas.

“Bila Allah menghendaki dan menyelenggarakan semuanya ini, pasti Dia selalu memberikan jalan. Berjuang dan bekerja keras sambil tetap berharap pada penyelenggaran Allah adalah kunci kesuksesan walaupun harus menghadapi banyak kesulitan. Suster yakin bahwa apa yang dibuatnya adalah sebuah panggilan Tuhan. Allah mempunyai segala sesuatu yang ada di muka bumi ini termasuk uang.”

Sebenarnya, refleksi teologis yang amat lengkap telah dituangkan Suster Lucia dalam sebuah karya ilmiah, skripsi, ketika ia mengukir pengumulan intelektualnya di Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (Stipas) Santo Sirilus Ruteng, Manggarai, pada tahun 2011. Dalam Kata Pengantar skripsi itu, ia menulis: “Fenomena penyandang berkebutuhan khusus (gangguan jiwa) selalu menghiasi kehidupan manusia dari masa ke masa, termasuk pada zaman Yesus. Pandangan dan perlakuan terhadap mereka tidak proporsional dan tidak adil”.

“Mengapa mereka mengalami demikian? Masalahnya sangat kompleks. Yang paling penting adalah bukan soal bagaimana kita menggali akar masalahnya, melainkan bagaimana kita menanggapi kenyataan itu dengan aksi-aksi nyata sebagai wujud solidaritas dan keberpihakan kita terhadap mereka. Karya pastoral kontekstual yang menyentuh mereka merupakan konkretisasi dan aktualisasi tugas kegembalaan Allah yang menyata dalam kegembalaan Yesus Kristus yang memperhatikan orang-orang kecil itu.”

Persoalan memang bisa ditilik dan diselesaikan serta dibedah dengan menggunakan pelbagai pisau ilmu, semisal, psikologis, budaya, politik, ekonomi dan sosial. Tetapi cara psiko-spiritual praktis, adalah cara manjur yang ditempuh Suster Lucia dalam menghadapi persoalan demi persoalan yang datang menghiasi perziarahan hidup dan panggilannya. Inilah keteladanan iman yang mesti dipelajari oleh siapa pun.

Di atas dasar dan dorongan iman yang kokoh itu, hal fisis pertama yang mau digapai adalah sebuah rumah layak huni. Ya, optimisme baru nan menggairahkan, tetapi modal Rp2.462.500 sama sekali tidak cukup untuk membangun sebuah rumah, ditambah lagi dengan pemenuhan pelbagai kebutuhan harian. Namun betapa tidak, selalu saja ada hal-hal tak terduga yang membuat optimisme itu semakin menjadi. Suster Lucia menamakan “mukjizat” terhadap pelbagai kemujuran yang datang tiba-tiba atau pelbagai bantuan yang tiba-tiba seusai melakukan lobi sana-sini dengan mulus, tanpa rintangan.

Misalnya, dari Dinas Sosial Kabupaten Sikka, panti mendapat donasi sebesar Rp8.000.000. Dari orang-orang tak dikenal yang menaruh kepedulian terhadap karya sosial ini, panti memperoleh pelbagai bantuan material dan moril.

Alhamdulilah, pada Juni 2004, pembangunan sebuah panti semi permanen pun berhasil terampung. Peletakan batu pertama yang dilaksanakan beberapa bulan sebelumnya, 26 Januari 2004, diwarnai berkat Tuhan lewat tangan imam-Nya, Romo Beslon O.Carm. Sebuah prestasi awal yang dimulai hanya dengan tiga kebajikan: iman, harap dan kasih. Bersambung ke Namanya Santa Dymphna (3)*** (Flores Pos, Senin-Rabu, 20-23 Juli 2015)

Tulisan serialBerawal dari Kepekaan (1)Kembali ke Dasar Iman (2)Namanya Santa Dymphna (3)Rupa-Rupa Kesembuhan (4) dan Orang di Pinggir Perhatian (5)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s