Namanya Santa Dymphna (3)

DSC04810

Pemandangan dari luar gerbang Panti Santa Dymphna. Tampak Frater Danto di pintu gerbang dan seorang suster PRR (bertugas di rumah Keuskupan Maumere).

  • Orang Gila, Suster Lucia dan Panti Santa Dymphna

Oleh Avent Saur, SVD

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Sebuah panti sosial sudah mulai punya rupa. Tapi namanya? Memberi nama pada sesuatu tentu bukanlah hal yang sulit. Namun karena nomen is omen (nama adalah tanda), maka Suster Lucia mencari inspirasi dan bertukar ide dengan Suster Pemimpin CIJ saat itu. Disepakati, namanya, “Panti Santa Dymphna”.

Adalah lebih baik, kisah perihal orang kudus yang masih belia ini didalami sedikit serius. Dymphna wafat secara tragis sebagai martir pada tahun 620, dalam usia 15 tahun. Kepalanya dipenggal oleh ayahnya sendiri bernama Demon, seorang raja lokal (setingkat kepala daerah sekarang) di Irlandia.

Pada abad ke-7 itu (tahunnya belum bisa dipastikan), Dymphna mungil lahir di Oriel, Irlandia. Ibunya (nama kurang diketahui), seorang Kristen, sedangkan ayahnya seorang kafir. Sang ibu menempa putri cantik belia itu untuk semakin mantap dalam beriman.

Mengapa kepalanya dipenggal? Ketika Dymphna berusia 14 tahun, ibunya meninggal dunia, entah karena menderita penyakit atau sebab lain. Kedukaan mendatangkan petaka bagi sang suami. Demon mengalami guncangan jiwa: depresi hebat, stres berat lantaran seperti laki-laki pada umumnya, kematian sang istri sama sekali tidak dikehendakinya.

Satu hal yang secara spontan muncul dalam benak Demon adalah mendapatkan seorang istri baru yang sama persis secantik almarhumah. Demon pun (ditemani orang-orang kerajaan) berkelana dari kampung ke kampung, dari desa ke desa untuk mencari perempuan yang paling tidak memenuhi dua syarat: gadis yang parasnya secantik almarhumah dan sekaligus gadis bangsawan (bukan gadis biasa).

Setelah berkelana kurang lebih selama satu tahun, tak satu pun gadis yang memenuhi syarat-syarat itu. Jalan pencarian tampak buntu. Demon pun kembali ke kerajaannya diselimuti rasa kecewa dan putus asa yang mendalam: depresi bertambah hebat, stres semakin berat. Ia pun tenggelam dalam depresi dan stres itu pada titik yang terdalam.

Namun sekalipun demikian, Demon tak kehilangan akal. Ya, akal masih bekerja sekalipun agak dangkal (tidak sehat), tetapi hati nurani tidak bekerja sedikit pun. Apa yang terjadi? Demon melirik dengan sebelah mata terhadap anak gadisnya sendiri. Ia mengidentifikasi gadis yang dicarinya saat berkelana itu ada dalam diri anak gadisnya, Dymphna belia. Atau dengan kata lain, wajah sang almarhumah ditemukannya pada anak gadisnya itu. Betapa tidak, memang apa yang disebut darah daging pasti menampilkan kebenaran pepatah ini: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Paras Dymphna belia itu secantik sang ibu.

Singkatnya, Demon ingin menikahi anaknya sendiri; tindakan amoral, inses; atau dalam bahasa rumusan sakramen pernikahan, “Demon (ingin) mengambil Dymphna sebagai istrinya”. Namun sebelum keinginan itu terwujud, entah mengapa, sedemikian rupa bisa diketahui Dymphna. Dymphna pun berniat menghindar.

Adalah seorang pastor bernama Gerebernus, yang notabene menjadi bapa pengakuan, kepadanyalah, Dymphna berlindung. Dan bukan cuma berlindung, melainkan juga, bersama Pastor Gerebernus, Dymphna dan dua pembantunya melarikan diri ke luar negara yakni Belgia, tepatnya di Antwerpen, lalu menyembunyikan diri di Kota Gheel, dekat Amsterdam.

Kota Gheel bukanlah tempat biasa. Gheel adalah tempat pertapaan para biarawan. Tanpa dipaksa oleh siapa pun, termasuk Pastor Gerebernus, Dymphna berani mengikrarkan janji hidup murni dan mempersembahkan seluruh potensi diri kepada Kristus yang diimaninya.

Namun sang ayah, Demon, bukanlah raja yang pasif. Apa yang menjadi keinginannya harus terwujud. Ia pun aktif mencari dan mencari, dan setelah sekian lama mencari, ia memasuki Kota Gheel dan menemukan Dymphna.

Tindakan apa yang diambilnya? Ada tiga. Pertama, ia menghunus pedangnya, membunuh sang imam, Gerebernus. Kedua, menghabisi nyawa kedua pembantu yang menyertai Dymphna. Ketiga, atas suruhannya, para prajurit menggunakan kekerasan, memaksa Dymphna pulang ke kerajaan di Oriel, Irlandia, untuk kemudian menjadikannya istri.

Lalu? Sebagaimana Demon yang beringas itu konsisten pada keinginan amoral yang hendak diwujudkan dengan cara apa pun, demikian juga Dymphna tenang nan berani konsisten pada kaulnya dengan menanggung risiko apa pun. Dymphna tidak menuruti kemauan sang ayah dan tidak meng-ya-kan pemaksaan para prajurit. Dymphna menolak dengan keras. Dan risikonya, Demon menghunus pedang, lalu memenggal kepala Dymphna. Selesai. Hidup Dymphna tamat.

Ketika itu, sekali lagi, sebagaimana disinggung tadi, Dymphna baru berusia 15 tahun, anak bawah umur dalam sistem hukum Indonesia. Bersambung ke Rupa-Rupa Kesembuhan (4) *** (Flores Pos, Senin-Rabu, 20-23 Juli 2015)

Tulisan serialBerawal dari Kepekaan (1)Kembali ke Dasar Iman (2)Namanya Santa Dymphna (3)Rupa-Rupa Kesembuhan (4) dan Orang di Pinggir Perhatian (5)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s