Potensi Penelitian Budaya di NTT

Lonto Leok

Budaya lonto leok (duduk melingkar) di sekitar compang (tugu batu bersusun dibangun di halaman kampung atau halaman rumah adat) di Manggarai. Budaya lonto leok juga dilakukan saat upacara adat di dalam rumah (adat dan pribadi) dan saat pertemuan perundingan tingkat keluarga, kampung, juga tingkat-tingkat pemerintahan sipil.

Oleh Bill Halan

Dalam satu pertemuan dengan Pater Profesor Josef Glinka SVD, berulang kali beliau menegaskan bahwa NTT adalah lahan yang subur untuk dijadikan penelitian, salah satunya, penelitian di bidang kebudayaan. Hanya saja, tidak banyak sekolah, ataupun akademisi yang memberikan perhatian serius terhadap penelitian di bidang ini.

Bil Halan

Bill Halan, Alumnus STFK Ledalero, Alumnus FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Pimred Jendela FISIP Unair dan Pimred Warta Flobamora, Tinggal di Surabaya

Pernyataan ini tentu saja diungkapkan sebagai suatu penegasan terhadap pengalamannya melakukan penelitian di beberapa wilayah di NTT dengan pendekatan seorang antropolog ragawi. Sebagai seorang akademisi, saya menanggapi penyataan Profesor Glinka sebagai satu ultimatum untuk melibatan diri dalam penelitian, khususnya di bidang kebudayaan. Pada akhir tahun 2013 dan pertengahan tahun 2014, saya terjun melakukan penelitian lapangan tentang perkawinan di salah satu kelurahan di Flores Timur yang masuk dalam etnik Lamaholot. Uraian berikut tidak secara spesifik membahas perkawinan, tetapi kondisi umum budaya tempat perkawinan dilangsungkan.

Pengalaman penelitian mempertemukan saya dengan kondisi masyarakat yang sedang resah ke mana arah perubahan kebudayaan. Kebudayaan dalam hal ini  tidak saja dimengerti sebagai kata benda, tetapi juga lebih sebagai sebagai kata kerja, di dalamnya berlangsung dinamika. Kebudayaan, dengannya, tidak saja dipatok pada produk-produk budaya, tetapi juga terutama pola pikir masyarakat yang kian berkembang karena perjumpaan-perjumpaan dengan kebudayaan lain, baik secara langsung maupun melalui media cetak dan elektronik.

Perubahan pola pikir diikuti pula oleh perubahan pemaknaan dan sikap. Perbedaan sikap yang tampak jelas dalam perbedaan kebijakan dan keputusan dalam urusan adat istiadat, melahirkan kegamangan secara kultural, yang mengalir secara spontan, dalam keluhan-keluhan masyarakat, misalnya, pada saat bagadang (atau mete, dalam bahasa setempat) bersama karena ada kematian atau hajatan lain. Untuk pertemuan berikut, keluhan yang sama bisa saja diungkapkan lagi karena ketiadaan lembaga yang menampung keluhan masyarakat, apalagi secara serius membedah persoalan dan  mencari solusi terhadap setiap keprihatinan yang muncul. Pemerintah daerah pun tidak cukup memberikan kontribusi terhadap kondisi ini.

Ada tiga kecemasan yang kurang lebih bersentuhan dengan otoritas, mental materialistis, sikap pragmatis.

Secara struktural para pemangku adat sudah mulai menarik diri dari wilayah yang sebelumnya menjadi wilayah otoritasnya. Itu bisa terjadi karena beberapa urusan adat yang sebelumnya berlangsung di rumah adat (rumah besar) oleh suku, kini mulai dilakukan dan diatur di rumah masing-masing keluarga. Kenyataan ini terjadi karena kebanyakan rumah adat adalah rumah tinggal. Fungsi sebagai rumah adat dilekatkan pada rumah tinggal, salah satunya, karena di tempat ini disimpan barang-barang sakral milik suku, misalnya, gading. Ketika gading sudah tidak lagi disimpan di rumah adat suku karena pelbagai alasan, salah satunya, karena dijual, maka sakralitas rumah adat yang mengikat anggota suku untuk bertemu karena kepemilikan bersama terhadap gading, mulai longgar.

Di sisi lain, rumah adat juga memiliki ruang tamu yang luas yang memungkinkan terjadinya pertemuan. Saat ini, masyarakat sudah membangun rumah modern yang memungkinkan terjadinya pertemuan suku atau juga untuk melakukan ibadat (keagamaan) bersama. Pertemuan-pertemuan yang umumnya tidak selalu menggunakan rumah adat, secara signifikan memengaruhi kebijakan para pemangku adat.

Pada sisi lain lagi, dijumpai kenyataan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang entah disadari atau tidak, disisipkan pihak tertentu, tidak lama berselang menjadi kebiasaan komunal, dan segala sesuatu berjalan secara evolutif. Misalnya, ketika ada perkawinan atau kematian, ada kebiasaan yang mana anggota keluarga yang melakukan hajatan mengantar makanan (yang disimpan di wadah berupa rantang, berisi nasi dan lauk) sebagai penghargaan terhadap keluarga-keluarga inti, khususnya mereka yang dituakan dalam hubungan dengan keluarga tersebut. Dalam perjalanan waktu, jumlah keluarga yang harus diantarkan makanan justru bertambah karena sudah ada praktik di keluarga lain beberapa waktu sebelumnya, yang justru menambah jumlah orang yang harus mendapat makanan tersebut. Satu perubahan sedikit saja kemudian dijadikan patokan untuk kebiasaan yang sama pada waktu berikutnya.

Pengalaman tentang rentannya perubahan patokan dalam menentukan keputusan (yang bisa terjadi kapan saja), secara gamblang menunjukkan bahwa pada level tertentu, ada ruang dalam kebudayaan yang memang tidak diatur secara rigid dibandingkan dengan tata aturan lain. Ruang ini begitu mudah direkayasa (secara sosial) dan rentan terhadap perubahan, serta lebih berkaitan dengan pertimbangan soal ‘penghargaan’.

Berbicara tentang penghargaan, standarnya bisa menjadi begitu lentur dalam konteks sekarang, sebab barometer untuk menyebut tindakan tertentu ‘menghargai atau tidak’ sudah mengalami perbedaan tafsiran. Dengan itu, klaim bahwa tindakan tertentu menghargai pihak lain, belum tentu dilihat demikian oleh pihak lain lagi. Sebab apa yang disebut sebagai common sense dalam masyarakat adat, tidak lagi berangkat dari patokan yang sama. Jika tidak disikapi secara bijak, hal ini bisa melahirkan kesalahpahaman.

Para tokoh adat yang mengikuti perubahan ini kemudian menjelmakan aksi mereka dalam sikap-sikap yang tampaknya pragmatis, tetapi bisa dilihat sebagai antisipasi terhadap kemungkinan kesalahpahaman. Misalnya, dalam urusan adat di wilayah etnik Lamaholot yang menggunakan gading sebagai belis (mahar), sebelumnya masyarakat menggunakan kiasan untuk menyebut ukuran gading, dengan rumusan pernyataan, ‘sepantasnya’.

Penggunaan istilah ‘sepantasnya’dinyatakan dengan asumsi bahwa pihak yang kepadanya pernyataan disampaikan sudah mengerti maksud di balik istilah tersebut terutama berkaitan dengan ukuran panjang dan lebar gading. Namun karena menjumpai perbedaan tafsiran tentang pemaknaan terhadap pernyataan ‘sepantasnya’, masyarakat menambahkan dan mempertegas ukuran gading sesudah kata ‘sepantasnya.’ Hal yang sebelumnya dianggap tidak layak, tetapi harus dinyatakan, untuk menghindari kesalahpahaman.

Pengalaman ini erat berkaitan dengan penggunaan bahasa adat yang padat makna, yang perlahan-lahan menjadi plastis, sebab ia takluk pada keterbatasan pemahaman generasi tentang makna. Situasi yang terjadi, bukan generasi muda diajak dan diajarkan tentang penggunaan bahasa adat dengan pemaknaan terhadapnya tetapi justru bahasa adat yang santun dan penuh makna itu, diperjelas dalam bahasa sehari-hari. Pendidikan kebudayaan kita tidak menangkap fenomena ini secara serius dan mengemasnya sebagai bidang kajian.

Saat ini, cukup banyak generasi muda NTT yang tergila-gila dengan gerakan sastra yang menggali lokalitas NTT. Lokalitas dan kearifannya secara rapih dikemas dalam bahasa-bahasa adat istiadat, di sana pola pikir dan rasa mendapat bentuk istimewa sebagai buah dari relasi dengan yang mahatinggi, sesama dan alam semesta. Dengan itu, berbicara tentang lokalitas tanpa suatu usaha menggali dan menjembatani kualitas bahasa yang digunakan dalam adat istiadat, itu adalah suatu keterputusan dan entah apa model lokalitas yang sedang dipromosikan tanpa pembelajaran terhadap budaya seperti ini (?).

Kembali pada pernyataan Profesor Glinka tentang luasnya wilayah penelitian di NTT, perlu diperhatikan bahwa masyarakat fasih menjelaskan dan menjawab pertanyaan tentang how ketimbang why.  Dalam penelitian, sangat mudah masyarakat menjelaskan tentang bagaimana perkawinan dilangsungkan, bagaimana ritual dijalankan, dan lain-lain. Tetapi akan menjadi tidak mudah ketika dilontarkan pertanyaan mengapa, mengapa harus gading? Mengapa harus seperti itu ritualnya?

Pertanyaan tentang why sudah masuk pada wilayah analitis, seperti logika ilmu pengetahuan umumnya tidak saja menjelaskan relasi kausalitas, tetapi juga relasi antarperistiwa yang membutuhkan kehadiran para akademisi untuk meneliti dan menjelaskannya.*** (Flores Pos, Sabtu, 25 Juli 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s