Rupa-Rupa Kesembuhan (4)

Berpose bersama

Dua ibu (dari kiri) telah sembuh dari gangguan jiwanya setelah menjalani perawatan di Panti Santa Dymphna. Tampak Frater Danto sedang memangku Noven, anak tunadaksa.

  • Orang Gila, Suster Lucia dan Panti Santa Dymphna

Oleh Avent Saur, SVD

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Suster Lucia CIJ, pendiri dan pemimpin Panti Rehabilitasi Cacat Mental (dan Orang Gila) Santa Dymphna Maumere, Flores

Selama kurang lebih 600 tahun (6 abad), nama Dymphna dan Pastor Gerebernus serta kedua orang lainnya itu tenggelam dalam “diam”. Tidak ada informasi terkait ada atau tidak adanya orang yang memprotes kejahatan keji dan kejam sang raja lokal itu, seperti pada era sekarang ini (andaikan terjadi pada zaman sekarang). Dalam kurun abad itu, tempat pemakaman mereka pun tidak diketahui oleh siapa pun. Dimakamkan secara tersembunyi oleh prajurit pembunuh atas perintah sang raja? Entahlah.

Entah atas dasar apa, pada abad ke-13, kejadian pembunuhan Dymphna kembali bergema. Di tempat mana Dymphna diduga dimakamkan (dekat tempat pembunuhan), yakni di sebuah gua, sekitar Kota Gheel (dekat Amsterdam), warga Gheel coba mencari dan menggalinya (semacam ekskavasi). Alhasil, di sana, para penggali menemukan empat jasad tersisa tulang-belulang. Dua jasad berada dalam sebuah batu sarkofagus (peti jenazah berbentuk lesung terbuat dari batu). Tidak diketahui, entah siapa yang memakamkan kedua “musuh raja” itu secara terhormat. Yang satu, jasad perempuan, sedangkan yang lain, jasad laki-laki. Pada batu sarkofagus itu terdapat sebuah ubin berwarna merah bertuliskan kata “Dymphna”.

Penemuan luar biasa itu tidak disia-siakan. Rupanya, khayalak ramai masih menyimpan peristiwa itu secara rapih dalam ingatan mereka. Jenazah Dymphna yang tidak lagi utuh itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti perak dan ditempatkan di Gereja Gheel. Dalam perjalanan waktu, Gereja itu dinamakan Gereja Santa Dymphna. Sementara itu, Jenazah Santo Gerebernus dipindahkan ke Xanten Jerman.

Pada akhir abad ke-15, Gereja Santa Dymphna di Gheel terbakar. Sebabnya? Unknown. Namun kebakaran sama sekali bukan tidak meninggalkan bekas, sebaliknya malah mendorong orang-orang berbaik hati untuk mendirikan Gereja baru yang lebih megah. Dan hingga sekarang, menurut data yang diperoleh, gereja itu masih berdiri kokoh.

Sejak sisa jenazah Dymphna dikuburkan dengan hormat seturut tradisi Gereja Katolik, banyak umat berdatangan ke makamnya. Ke makam pribadi yang dianggap sebagai “orang tak bersalah rela mati tumpahkan darah” itu, umat memohon doa Dymphna untuk membantu anggota keluarganya yang menderita epilepsi, gangguan saraf dan sakit ingatan, sakit mental dan kerasukan roh jahat. Seturut kesaksian umat, anggota keluarga yang sakit itu sembuh. Dalam perjalanan waktu, bukan cuma keluarganya yang mendatangi makam itu, melainkan juga orang sakit itu sendiri. “Lima penderita saraf tidur di tempat Dymphna terbunuh,” dan alhamdulilah, mereka sembuh.

Adalah Uskup Cambrai ditugaskan oleh pemimpin Gereja lebih tinggi untuk menulis pelbagai pengalaman umat yang mendapat pertolongan Dymphna. Cerita lisan tentu menjadi sumber informasi yang dianggap akurat. Sebagai penghormatan yang lebih terhadap Dymphna, pada akhir abad ke-13, di dekat gerejanya, didirikan sebuah rumah sakit khusus untuk menampung dan merawat penderita sakit mental. Kemudian, rumah sakit itu dikenal sebagai rumah sakit bertaraf internasional, dengan kapasitas 2000 pasien.

Ketika Dymphna digelar santa, yang pestanya diperingati setiap tanggal 15 Mei setiap tahunnya. Ia dinobatkan sebagai santa pelindung penyakit saraf, penderita ingatan dan sakit mental serta sakit jiwa. Karena Dymphna juga diduga mengalami penganiayaan seks oleh ayahnya, Demon, maka Dymphna juga dinobatkan sebagai santa pelindung korban penganiayaan seksual dan orang yang melarikan diri.

Dari narasi ini, para pelukis mengabadikan Santa Dymphna yang adalah seorang martir dan perawan, dengan beberapa lukisan memikat. Sebagai seorang perawan, pada kepalanya, ada mahkota. Pada tangannya yang satu, ada sebuah pedang, tetapi bukan tanda kekerasan (kejam dan keji) sebagaimana telah dilakukan oleh ayahnya, melainkan tanda bahwa kekerasan tidak bisa mengalahkan keberanian iman. Sementara pada tangannya yang lain, ada Kitab Suci sebagai lambang himpunan kehendak Tuhan yang tertulis; sebuah kehendak yang mesti ditaati apa pun risikonya termasuk pertumpahan darah sekalipun.

Yang lain, pada kakinya, terdapat lilitan rantai yang menandakan bahwa Santa Dymphna membuka pintu bagi orang-orang yang sedang diikat oleh penyakit (ingatan, mental, jiwa, pelecehan seksual). Para penderita dengan harapan akan pembebasan, menyerahkan semua rantai itu agar dia memutuskan rantai-rantai itu dan membuatnya tidak berguna lagi.

Ada juga gambar rantai yang sedang melilit pada salah satu insan di dekat kakinya. Salah satu ujung rantai itu dipegang Dymphna. Setidaknya, ini menandakan bahwa ujung rantai itu ditariknya dari pelilitan orang yang menderita itu, dan dengan tarikan itu, terlepaslah ia.

Rasanya, profil seorang Dymphna sebagai nama panti orang gila, digali begitu dalam dan panjang dalam refleksi teologi sosial-kontekstual ini. Mengapa? Sebab sekalipun Suster Lucia mampu berdoa di hadapan Yesus, namun sebagaimana para pelayan pada pesta di Kana yang memohon bantuan Ibu Maria untuk melanjutkan permohonan itu kepada Yesus (Yoh 2:1-11), Suster Lucia juga membutuhkan orang kudus sebagai pelindung dan jembatan yang selalu mendoakan atau yang menjembatani doa-doanya kepada Yesus, Sang Tabib itu. Bersambung ke Orang di Pinggir Perhatian (5) *** (Flores Pos, Senin-Rabu, 20-23 Juli 2015)

Tulisan serialBerawal dari Kepekaan (1)Kembali ke Dasar Iman (2)Namanya Santa Dymphna (3)Rupa-Rupa Kesembuhan (4) dan Orang di Pinggir Perhatian (5)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s