Buah Solidaritas Gisela

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Gisela

Gisela

‘Penderitaan’ balita Gisela telah usai, setidaknya, derita ketiadaan anus ketika ia dilahirkan. Anusnya telah dioperasi, dan kini sudah ‘normal’ sebagaimana manusia pada umumnya. Keadaan ini hanya mungkin dialami Gisela karena terhadap penderitaannya, ‘solidaritas’ berdatangan dari mana saja dan siapa saja. Seandainya, solidaritas itu tidak datang, maka bukan tidak mungkin, telur hidup Gisela yang berposisi di ujung tanduk maut itu, pasti jatuh dan pecah.

Terhadap solidaritas itu, pantaslah, orangtuanya, Andreas Arya Yoga dan Agustina Veronika mengucapkan ‘syukur dan terima kasih’ kepada semua orang yang telah bersolider atas penderitaan Gisela, termasuk media Flores Pos yang membuka ‘kesempatan dan ruang’ kepada segenap pembaca untuk bersolider.

Di sini, ada sekurang-kurangnya lima kata kunci: penderitaan, solidaritas, kesempatan-ruang, normal (sehat), dan syukur-terima kasih. Penderitaan mendapatkan solidaritas karena media massa membuka ruang dan kesempatan, dan penderitaan itu dilalui hingga Gisela sehat, dan hal itu disyukuri.

Penderitaan tentu tidak pernah dikehendaki. Ia memiliki kehendaknya sendiri; datang kapan saja ia kehendaki. Memang sebetulnya, ia adalah bagian hakiki dari tubuh manusia. Bahkan ketika manusia sudah meninggalkan dunia ini, dalam agama-agama, terdapat keyakinan bahwa tubuh rohani manusia juga bisa mengalami penderitaan di dunia akhirat. Namun sekalipun datang kapan saja ia kehendaki, manusia bisa mengusirnya. Penderitaan Gisela datang pada saat awal hidupnya. Terhadapnya, orangtua dan Gisela berkehendak mengusirnya dengan cara operasi.

Dalam himpitan ekonomi, langkah awal upaya pengusiran itu hanya terarah kepada satu hal fundamental yakni keyakinan kuat akan adanya solidaritas sesama manusia. Keyakinan ini juga ada pada semua manusia. Demikian juga solidaritas. Dengan keyakinan fundamental ini, buruh bangunan Andreas Arya Yoga dan ibu rumah tangga Agustina Veronika, entah sadar atau tidak, dalam dirinya terdapat pemahaman luar biasa tentang salah satu hakikat manusia: homo socius, atau ens sociale. Bahwasanya, sebagaimana manusia tidak bisa ada dengan sendirinya di dunia, demikian juga manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia membutuhkan manusia lainnya, termasuk dalam mengusir penderitaannya. Ketika kebutuhan diisi, ketika penderitaan itu diupayakan usir, pada saat itulah, ada wujud solidaritas.

Namun solidaritas tidak mewujud dengan sendirinya, sebaliknya, membutuhkan ruang dan kesempatan. Ruang dan kesempatan itulah, yang dalam konteks solidaritas Gisela, disediakan oleh media massa Flores Pos. Media ini hadir ke hadapan pembaca bukan sekadar membawa informasi, melainkan juga, oleh informasi itu, pembaca diusik untuk mewujudkan solidaritasnya. Boleh jadi, ada pembaca yang sama sekali tidak terusik; “anjing menggonggong kafilah berlalu”. Boleh jadi juga, ada pembaca yang terusik lalu mendiamkan keterusikannya; “terima talenta lalu menguburkannya”. Dan tentu, sekalipun tidak seberapa, di antara dua kelompok orang ini, selalu saja ada pembaca (personal dan intitusi/kelompok) yang terusik dan mewujudkan solidaritasnya seturut kemampuannya; “hatiku haus akan kebenaran”.

Dalam solidaritas sosial ini, penderitaan sesama dialami secara bersama. Secara bersama pula, mengusirnya dan saling menguatkan Gisela. Dengan itu, solidaritas sosial bukan sekadar menaruh perhatian, bukan sekadar memberikan sesuatu dari dompet pribadi atau insitusi, bukan sekadar menunjukkan keahlian yang dimiliki. Sebaliknya, di dalamnya, orang menemukan kebenaran hidup dan hakikat sosialnya.*** (Flores Pos, Selasa, 28 Juli 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s