Ibu

ibu

Ilustrasi

Oleh Kristo Suhardi

“Ibu, hari ini tulisan kakak kembali dimuat di koran,” teriak Anna, gadis berusia 13 tahun, seolah memecah keheningan yang tertata rapi pagi itu. Sebuah pagi yang menggigil lantaran dingin dan angin, meski jarum jam sudah menunjuk angka 08.30 Wita. Ruteng memang selalu begitu, dingin telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh narasi hidup penghuninya.

“Ah, kakakmu pasti menulis puisi lagi tentang Sophie, perempuan pujaannya itu. Dia selalu berkata, Sophie adalah perempuan masa kecilnya yang selalu mencuri ruang di otak hingga jantungnya. Padahal Ibu sudah bilang berkali-kali padanya, tak perlu terlalu mengumbar pujian untuk gadis impian itu karena akan berakhir luka. Ibu sudah mengingatkannya, Sophie itu telah menambatkan hatinya pada lelaki lain yang memang lebih mapan dari kakakmu,” seloroh Ibu.

Ibu, yang dalam kesehariannya, biasa tampil sebagai pribadi pendiam dan hemat kata, akan langsung berubah bila mengomentari tulisan anaknya. Perempuan yang rambutnya sudah memutih itu memang sangat menaruh perhatian pada tulisan anaknya, dan biasanya tanpa ragu memberikan komentar.

“Tetapi ini bukan puisi Ibu. Ini cerpen kakak. Yah, cerpen pertamanya yang dimuat di Flores Pos. Ibu baca saja dulu, nanti aku akan buatkan segelas kopi untuk menemani Ibu,” kata Anna seolah tak mau kalah.

“Ya, tetap saja, kalau isinya masih tentang pujiannya pada si Sophie itu. Kakakmu itu memang berkeras kepala, mati-matian mengagumi perempuan yang memang tak pernah menaruh perhatian padanya. Ibu juga kasihan padanya. Mungkin karena terlalu sering mengigaukan nama gadis pujaannya itu, kemarin dua temannya bertanya pada Ibu, tentang si Sophie itu. Ya, Ibu kalang kabut, tak tahu mesti menjawab bagaimana, karena Ibu memang tak pernah tahu perempuan itu,” kata Ibu.

“Ah Ibu, Ibu baca saja dulu cerpennya, barangkali ini akan berbeda,” kata Anna, sambil menuju dapur.

“Ya, baiklah. Semoga cerpen kakakmu kali ini, bukan lagi tentang si Sophie itu. Ibu masih ingat satu cerpennya dulu, yang ia tulis lima tahun lalu. Kalau Ibu tidak salah, judulnya Lelaki yang Tak Bisa Kusebut Namanya. Tetapi Ibu lupa, cerpennya dimuat di mana. Itu cerpen yang bagus Anna, membuat Ibu tak kuasa menahan air mata, meskipun sampai sekarang Ibu belum tahu, siapa sebenarnya lelaki itu. Ya, kakakmu memang begitu, tertutup dan tak pernah mau menceritakan, siapa di balik tokoh-tokoh ceritanya, kecuali, tentu saja, si Sophie itu,” kata Ibu.

Meski hanya tamat SD, Ibu yang kini sudah berusia 55 tahun, memang gemar membaca. Apalagi semenjak kakak bekerja sebagai staf redaktur di Flores Pos, koran lokal itu telah menjadi menu pagi yang wajib ia konsumsi. Kata Ibu, membaca itu sangat penting. Hal itu juga yang membuat kakak selalu malu setiap kali datang liburan dari Flores Pos. Meskipun sudah menyelesaikan strata satu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, minat baca kakak, diakuinya, masih kalah dari Ibu.

***

Betapa aku tahu, tak ada rumah rindu selain teduh hatimu.

Betapa aku tahu, tak ada tempat pulang selain lapang senyummu.

Sungguh, setiap sapamu, seolah menjelma serupa mazmur sang Pencipta yang memaksaku mendekatkan hatiku, hati kita pada-Nya.

Di hari-hari terakhir ini, aku terseret dalam sakit yang tak biasa. Aku selalu mengigaukan namamu dan memujamu tak henti-henti.

Rasa sakit ini justru membuatku mampu menikmati setiap detik perjalanan dan setiap senti jejak sejarah.

“Seperti yang sudah kuduga, ini juga pasti tentang si Sophie itu,” celetuk Ibu. Kulihat Ibu mengambil telepon genggamnya, bermaksud menelpon kakak. Namun, niat itu urung dilakukannya. “Jam begini, kakakmu pasti masih tidur,” kata Ibu.

Apa kabarmu hari ini? Aku baru saja pulang dari kantor ketika mulai menulis surat ini. Hujan baru saja berhenti di sini, dan tiba-tiba sebuah rindu yang menggigil menyerangku, menjalar di sekujur tubuh hingga nadiku. Aku baru saja merapal namamu untuk kali ketujuh, ketika suratmu yang hanya berisi sepotong kalimat itu selesai kubaca. Ya, kubaca untuk kali ketujuh juga. Sungguh. Suratmu membuatku seolah lupa bagaimana merapal doa, bagaimana mendaraskan mazmur, dan bagaimana duduk sopan di depan altar. Gagu. Aku gagap, tak pernah membayangkan bahwa engkau akan menjumpaiku lewat sepotong surat.

Mori, kukut koe lite na’in…* Ah, sepotong doamu itu membuatku tak kuasa membendung air mata. Sudah berkali-kali kucoba menyembunyikan tiap tetes air mataku itu di bawah rintik hujan malam ini, berharap hujan yang lapar itu akan segera melahapnya, tapi tak bisa. Aku hanya menggantungkannya bersama angin, agar kelak, bila malam ini engkau merasakan sepoi angin di sana, ketahuilah, aku sedang meneteskan air mata untuk dirimu yang menjelma dalam doa yang menggetarkan itu.

Air mataku malam ini mengingatku akan sebuah kisah kecil, salah satu potongan kecil dari narasi kehilangan, yang saban hari sengaja engkau sembunyikan dariku. Tapi cinta, getar rindu, dan debar hatiku mengetahui bahwa hatimu terus menangis semenjak melepaskan kepergianku di dermaga kala itu. Rumah akan jadi begitu kosong, katamu. Engkau tahu, akupun sama. Kita sama-sama menyembunyikan tangis itu, seolah tangis adalah haram, lalu mati-matian bersembunyi di balik keyakinan yang kita paksakan, tak ada yang abadi ‘kan? Kita akhirnya paham, detak waktu kebersamaan adalah cara paling indah untuk mempersiapkan keterlepasan.

Berat memang, daun-daun mimpi kita seolah patah di permulaan hari, atau mungkin tepatnya, merelakannya patah untuk sesuatu yang kala itu sepakat kita namakan ‘cita-cita’. Terlalu. Tetapi waktu, membuat kita akhirnya belajar bahwa jarak selalu menciptakan rindu, dan rindu membuat kita belajar bagaimana merawat dan mengawetkan remah-remah kenangan yang tercecer. Seperti yang selalu engkau katakan, rindu hanyalah bentuk lain dari perasaan takut akan kehilangan; dan akupun juga akhirnya paham, cinta itu selalu berjalan bersama rasa takut akan kehilangan dan rindu yang acapkali menduri.

Apa engkau masih ingat, di penghujung tahun lalu, hujan tiba-tiba datang menyerang kita ketika kita masih ingin lebih lama menikmati keindahan Kota Ruteng? Ketika begitu banyak orang ramai-ramai mencari tempat untuk berteduh sejenak, tanpa ragu, di bawah payung, engkau justru berkata ‘hujan membuat kita belajar untuk saling berbagi dingin dan berjuang mengekalkan rentet kenangan yang mungkin esok tak akan ada lagi’. Dan sekali lagi, kala itu, di hadapan kecerdasanmu, aku kembali gagu; kepandaianku yang selama ini aku banggakan di depan teman-temanku, luntur seketika.

Ah, semoga engkau belum bosan membaca suratku ini. Saya masih ingat, ketika rasa sepi menyerangku pada hari-hari awalku di kota ini yang melahirkan rasa rindu tak teredam akan rumah; engkau malah mengingatkanku bahwa kesendirian adalah lahan yang paling subur untuk menumbuhkan benih-benih kerinduan. Engkau malah memintaku untuk merapal namamu dalam doa bila rindu itu mulai menyerang. Ya, persis seperti yang selalu engkau lakukan, merapal namaku dalam doa yang sengaja engkau sembunyikan dalam rahim waktu, memohon Tuhan agar memeluk erat hatiku dan tidak membiarkanku lupa jalan pulang. Doa, katamu, adalah sebentuk cinta yang meleleh di hadapan Tuhan dan abadi.

Kristo Suhardi

Kristo Suhardi, Inisiator Komunitas Sastra Rakyat Ende (Sare), Tinggal di Ledalero, Maumere

Pernah suatu kali, ketika tanpa malu kukatakan padamu bahwa aku telah jatuh cinta dengan seorang perempuan yang telah berhasil merampas perhatianku di sini; tanpa dendam dan curiga, engkau malah mengingatkanku agar jangan terlalu cepat mengatakan ‘aku mencintaimu’ kepada perempuan itu. Karena mencintai itu selalu tidak mudah, katamu kala itu; butuh kerelaan untuk menyalibkan ego, kesediaan untuk keluar dari diri sendiri hingga melupakan diri sendiri. Cinta juga butuh kerelaan untuk terlepas dan melepaskan diri, katamu, dan kemudian baru aku tahu apa arti semua itu pada batas akhir surat ini. Kerelaan itu katamu, termasuk ketika engkau merelakanku untuk Tuhan dan mengizinkanku meretas hidup di jalan panggilan ini.

***

Air mata ibu, mulai tumpah ketika sampai pada batas akhir surat itu.

Ibu, betapa aku tahu, tak ada rumah rindu selain teduh hatimu.

Betapa aku tahu, tak ada tempat pulang selain lapang senyummu.

Dan sungguh, semua ini tentang engkau, IBU.

*Mori, kukut koe lite na’in (ungkapan Manggarai): Tuhan, genggam erat hatinya. Ledalero, Juli 2015.*** (Flores Pos, Selasa, 28 Juli 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s