Labuan Bajo, Kota Persoalan

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

labuan bajo

Salah satu pemandangan di Labuan Bajo, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat.

Labuan Bajo dikenal sebagai kota pariwisata. Penamaan itu muncul lantaran Manggarai Barat yang beribukotakan Labuan Bajo, memiliki ikon pariwisata internasional: komodo. Ini yang utama. Objek wisata lainnya hanya komplementer.

Menuju komodo, wisatawan berdatangan. Mereka datang harus melalui Kota Labuan Bajo, tempat mana terdapat fasilitas transportasi, sekaligus pusat pemerintahan lokal. Maka di kota ini, tourist “berkeliaran”.

Seharusnya, sandangan Kota Wisata memacu warga kota dan pemerintah serta pelbagai stakeholders untuk membenahi pelbagai ketidakberesan, mengisi pelbagai kekurangan dan menempa aneka mental destruktif. Pembenahan ini menyentuh bukan cuma objek-objek wisata, melainkan juga pelbagai pembangunan fisik dan mental pemangku lembaga negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif). Ini juga mesti menyentuh aspek sosial-kemasyarakatan, yang di dalamnya juga terdapat aspek budaya. Demikian juga aspek politik dan pendidikan, serta kemanusiaan, dan lain-lain.

Namun nyatanya, “yang seharusnya” itu lebih banyak dilalaikan. Bahkan, ada kenyataan yang berjalan melawan arah “yang seharusnya” itu. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, timbullah ragam masalah baru. Pembenahannya pun membutuhkan waktu panjang, berikut energi dan anggaran.

Dalam bidang pariwisata itu sendiri, misalnya, justru bukan perkembangan ke arah baik yang terlihat, melainkan justru berbuntut buruk. Beberapa pulau potensial wisata diisukan telah dijual, entah oleh siapa. Pantai Pede terancam digadaikan kepada orang empunya modal raksasa. Jalan dalam Kota Labuan Bajo sudah lama tak terurus, sementara turis dibiarkan secara tak terhormat terus-menerus berwisata di atasnya.

Objek-objek wisata lainnya juga kurang terurus, bahkan tidak diurus. Demikian juga sarana dasar seperti jalan menuju objek-objek itu. Cerita sejurus, adalah dugaan korupsi dana sail Komodo September 2013 lalu. Bermaksud memajukan pembangunan, malah dananya terkatung di saku pribadi. Belum lagi korupsi di beberapa satuan kerja perangkat daerah.

Bersamaan dengan ini, sejauh mana lembaga peradilan merasa “angkara” (serius) terhadap ketidakberesan ini? Diamnya lebih banyak, kompromistisnya lebih tinggi. Persoalan jalan terus, dokumen perkaranya aman di laci lembaga negara itu.

Itu soal wisata dan korupsi. Ada juga masalah keberadaan pasar, perilaku-perilaku miring di pasar, beserta keruwetannya termasuk sampah. Masalah sampah ini, bukan cuma pada dua pasar di pinggir kota itu, melainkan juga di pusat kotanya. Bahkan, wisata bukit cinta juga menjadi tempat pembuangan sampah maskapai penerbangan tertentu.

Wakil rakyat tak kalah juga dalam carut-marut kota persoalan itu. Masih tersimpan di memori, soal isu wakil rakyat yang bertandang di lapangan kerja tak wajar. Menjadi kontraktor, mafia proyek. Ini salah satu penyebab mutu proyek di beberapa titik di wilayah kabupaten ujung Flores itu.

Lainnya lagi, persoalan tambang yang terus mengancam dari waktu ke waktu. Demikian juga bencana alam yang dialami rakyat pada beberapa wilayah serta nasib pegawai honorer kategori II yang tak kelar. Yang teranyar, soal pilkada. Ini kejadian kedua, setelah yang pertama pada pilkada 2010 lalu. Entah apa solusinya nanti, kita akan pantau selalu.

Ya, memang dipandang wajar, sebuah pembangunan tentu tidak tanpa persoalan. Justru karena persoalan, pembangunan itu teruji kualitasnya. Tetapi menyertakan persoalan dalam setiap pembangunan, ini tidak wajar. Kualitasnya bukan lagi teruji melainkan termurah.

Ada beragam jalan untuk keluar dari aneka persoalan ini. Salah satunya, kualitas pemimpin yang kita sendiri pilih. Katakan saja, kalau pemimpin lama justru sudah membuat Labuan Bajo kota persoalan, maka kesimpulannya, pemimpin barulah yang mesti tampil dalam pilkada Desember nanti.*** (Flores Pos, Selasa, 25 Agustus 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s