Perjuangan Tiada Akhir

anak2

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Di usia kemerdekaan Republik yang kian tua ini, sekian banyak perihal yang perlu dikatakan ketika bercermin pada kisah perjuangan prakemerdekaan, berkaca pada cerita mengisi kemerdekaan dan mengawang jauh ke depan di jalan kemerdekaan ini.

Di jalan perjuangan “prakemerdekaan”, ada sekian liter darah tertumpah dari sekian banyak nyawa yang terkapar termakan rayap, yang hancur teracun maut moncong algojo. Demikian juga sekian banyak tokoh menanggung beban mental dan fisik serta beban hidup lainnya.

Dalam perjuangan itu, dengan susah-payah, Soekarno yang berdiri tegak dan tegap di garda terdepan, yang bersuara nan lantang melampaui suara angin angkasa dan melampaui deruan bunyi ombak dahsyat, telah merengkuh kemerdekaan. Lebih dari itu, Soekarno meletakkan dasar pijakannya, dan membangun pedoman arah perjalanan selanjutnya. Itu pun, Soekarno meyakini bahwa perengkuhan itu bukan semata-mata sebagai buah perjuangannya dan seluruh rakyat Republik ini, melainkan terutama sebagai anugerah dari pribadi adikodrati.

Namun kemerdekaan yang direbut dari tangan negara adidaya kolonial tidak serta merta terawat dengan bijak. Perjuangan para pahlawan kemerdekaan dinodai dengan nafsu kekuasaan, anugerah adikodrati dibercaki tinta hitam keserakahan oleh kolonialisme dari dalam.

Tanpa melupakan pelbagai kemajuan, di dalam genggaman tangan orde baru-lah, kemerdekaan itu dikebiri, tidak dibiarkan berkembang lebih leluasa. Yang lebih menonjol, itu tampak dalam praktik KKN, otoritarisme, kapitalisme dan mafia politik serta pelbagai praktik destruktif lainnya.

Dikira bahwa setelah orde baru rontok, praktik-praktik ini dengan sendirinya ikut terontok, padahal tidak. Daunnya rontok, tapi akarnya tetap mengandung makanan untuk  menyambung nyawa. Dengan kemasan baru bernama orde reformasi, hasil perjuangan mahasiswa belasan tahun lalu, praktik-praktik itu tiada henti hidup hingga sekarang ini.

Pada pelbagai level pemerintahan dan sosial serta ekonomi, KKN terpraktikkan begitu rapi. KPK yang begitu rapi membongkar kerapian KKN justru terkriminalisasi. Pada eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak luput dari mafia dalam pelbagai bentuk. Politik dan demokrasi selalu tercoreng dan sekian sering membawa tumbal. Relasi antarumat beragama tidak kurang morat-maritnya. Pada bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi, ada kecemaran dengan pelbagai dinamikanya. Moral sosial dan moral pribadi mulai dari masyarakat akar rumput sampai pucuk kekuasaan selalu menampakkan kenyataan yang memprihatinkan. Kesenjangan ekonomi tak kunjung menyempit, malah semakin melebar.

Namun dalam konteks ini, Republik ini tak malu-malu merayakan hari jadinya. Dari ulang tahun yang satu ke ulang tahun yang lain, termasuk di ulang tahun yang ke-70 ini, yang lebih tampak adalah ritus-ritus yang memang mengandung makna, tapi sungguh jauh dari internalisasi. Sekalipun kini, semuanya ini dijalankan dalam jargon revolusi mental. Entah mengapa semua itu terjadi, padahal isi Pancasila tidak pernah dan tidak akan berubah; ia selalu ada sebagai pedoman arah dan panduan moral perjalanan Republik.

Dalam teologi Kristen, dikatakan, “selagi jiwa ada di dalam badan fana, manusia dan segala jejaknya mengandung dosa”. Demikian juga, selagi kekuasaan dipegang manusia berdosa itu, tidak ada kemerdekaan yang benar-benar merdeka. Dan untuk seterusnyalah, manusia berdosa. Cuma perbedaannya, dosa itu berat-ringat, besar-kecil, dalam waktu lama-singkat.

korupsi

Namun kenyataan ini semestinya tidak membuat manusia berhenti berjuang, tidak takluk pada nasib dan kodrat. Manusia mesti melampaui kodrat yang bisa diubah, memperjuangkan kemerdekaan selagi diberikan kesempatan dan semasih memiliki kemampuan untuk itu. Perjuangan merawat kemerdekaan dan memperjuangkan kemerdekaan yang sesungguhnya berlangsung tiada henti, tanpa mengenal titik akhir, apalagi garis puncak.*** (Flores Pos, Selasa, 18 Agustus 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s