Jalan Tuhan

Oleh Avent Saur

Jalan Tuhan

Sejak sedia kala sudah dipahami, hidup di dunia ini adalah sebuah perjalanan. Di sepanjang perjalanan, ada dinamika (suka-duka, susah-senang) pengalaman, paradoks (gelap-terang, hitam-putih) kenyataan, bahkan kontradiksi (pertentangan A versus B). Semuanya ini seharusnya dihadapi, bukan malah dihindari, apalagi pejalan melarikan diri dan meninggalkannya tanpa tanggung jawab, sekalipun tetap ditanyakan “mau lari ke mana?”

Akhir dari perjalanan dinamis, paradoksal dan kontradiktif adalah kematian, yang dalam banyak agama (mainstream pun denominasi) dipandang sebagai pintu kepada kehidupan baru (entah neraka atau surga). Menuju kehidupan baru itulah tujuan perjalanan hidup ini.

Dari situ, dipahami pula, hidup ini dimulai dari Yang Ilahi sebagai Maha Pencipta. Dan secara kasat mata, dipandang bahwa pemulaian hidup tampak dalam hasil persatuan dua insan beda jenis kelamin. Itu terjadi karena memang manusia ditugaskan, oleh Yang Ilahi, untuk menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai cocreator: berpartisipasi dalam penciptaan yang telah dimulai oleh-Nya, atau meneruskan tindakan mencipta (prokreasi) yang telah dimulai-Nya.

Dengan itu, perjalanan hidup ini sebetulnya tengah terjadi di dalam jalan-Nya, jalan Tuhan. Di jalan Tuhan ini tentu ada rambu-rambu, pedoman-pedoman, dan itulah yang sering disebut etis-moral, entah moral politik, misalnya. Demikian juga moral agama, moral kemanusiaan, moral sosial, moral budaya, moral bisnis, moral pendidikan, dan moral-moral lainnya seturut aspek-aspek kehidupan.

Pada moral itu, insan berjalan menuju-Nya, dan betapa diharapkan, mengalami kebahagiaan kekal pada-Nya (surga), bukan kesengsaraan tiada akhir jauh dari-Nya (neraka).

***

Namun tentu ada pertanyaan. Karena perjalanan hidup memiliki rambu-rambu-Nya, dan ketika ada orang tidak menuruti rambu-rambu itu, apakah jalan itu masih disebut jalan Tuhan? Ketika perilaku terhadap diri sendiri, orang lain bahkan terhadap Yang Ilahi, tidak lagi etis, mungkinkah itu masih disebut jalan Tuhan? Ketika hati selalu busuk, kasar dan keras serta tak nyaman terhadap diri sendiri dan orang lain, mungkinkah itu masih disebut jalan Tuhan? Ketika pikiran entah kadang entah sering negatif terhadap diri sendiri, orang dan bahkan terhadap Yang Ilahi, masihkah juga itu disebut jalan Tuhan?

Lanjut. Ketika kata-kata yang terucap kedengaran negatif, nada-nada temperamen emosional, dan intimidatif serta membunuh, apakah jalan itu masih disebut jalan Tuhan? Ketika pengabaian demi pengabaian atau kelalaian demi kelalaian sering terjadi; ketika perilaku, tutur kata dan pikiran, semuanya tidak mencerminkan pedoman-pedoman moral, bahwa semuanya itu bertentangan dengan kehendak-Nya, masihkah itu disebut jalan Tuhan?

Lanjut lagi ke hal-hal praktis. Ketika kehidupan rumah tangga kurang terurus, bahkan berujung kemelut perceraian, masihkah itu disebut jalan Tuhan? Ketika keluarga besar tidak saling mendukung, bahkan saling menjatuhkan dan menghalangi; ketika tetangga saling curiga dan mengumbar gosip ini dan itu; ketika vonis sosial dijatuhkan secara semena-mena terhadap tetangga, gosip-isu-rumor-kabar angin tak terpuji disudutkan kepada tetangga; ketika ada keinginan untuk menang sendiri dan menyalahkan sesama; ketika harta orang lain diraup menjadi harta pribadi, masihkah semua itu disebut jalan Tuhan?

Lagi. Ketika tidak ada saling terbuka, tidak ada kerendahan hati untuk membuka diri atau dibuka orang, tidak ada saling membantu; ketika amarah, irihati, dendam hingga kesumat, sampai merasa orang lain tak memiliki kualitas diri apa-apa, masihkah itu juga disebut jalan Tuhan?

Kurang lebih, kenyataan-kenyataan itulah yang sedang terjadi entah di mana pun, entah pada siapa pun, entah kapan pun. Dan itu pulalah yang terjadi dalam coretan “Istri Penghalang” dalam Kutak-Kutik edisi Kamis pekan lalu. Semua kenyataan dari waktu ke waktu dikumpulkan, disimpan dalam memori, direfleksikan untuk membangun kerangka negatif tentang orang lain (tanpa bercermin diri), diperdengarkan kepada orang lain, dan terbentuklah sebuah kerangka sosial tertentu terhadap orang-orang tertentu.

Hemat saya, cara ini tetap baik sekalipun dominan tidak baik. Ia baik, mungkin sebagai titik awal untuk membangun sebuah kerangka relasi sosial yang sebetulnya dalam diri setiap orang selalu diidealkan bisa terwujud. Bersamaan dengan aksi membangun kerangka relasi sosial yang baik, terbongkar pula sebuah kerangka relasi sosial yang buruk-negatif-hitam-kelam, yang sudah dalam waktu lama mungkin sudah melengket dalam individu tertentu atau dalam karakter kumpulan individu atau kelompok masyarakat tertentu.

Dengan itu, diyakni, benar kata seorang Ibu yang menemui saya awal pekan ini: “mungkin ini jalan Tuhan. Jalan Tuhan untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk orang-orang di sekitar serta keluarga-keluarga mereka. Mungkin ini jalan Tuhan yang bisa membongkar segala kerangka negatif dalam kehidupan sosial, dan membangun kerangka baru untuk terus melanjutkan perjalanan hidup yang tersisa, serta membangun kerangka baru bagi generasi penerus”.

***

Sampai pada titik ini, semua pertanyaan tadi bisa dijawab, “Ya, semuanya itu adalah jalan Tuhan. Sebab pengalaman itu, dinamis, paradoksal dan kontradiktif, semuanya dipandang dalam kerangka hidup sebagai sebuah perjalanan”.

Itu adalah jalan Tuhan. Tapi perlu diingat dan harus selalu diingat bahwa dalam narasi hidup seperti ini, jalan Tuhan dicoreng, dirusakkan. Sejak sediakala, jalan Tuhan tetap murni adanya, cuma tampak tercoreng di mata kita oleh karena ulah kita sendiri. Yang diperjuangkan secara personal dan kolektif, adalah kembali kepada rambu-rambu etis hidup dalam pelbagai aspeknya, agar pada mata kita, tampak jalan Tuhan yang bebas corengan.

Di sini, di hadapan pelbagai pengalaman negatif, yang seharusnya dipetik adalah item positifnya, nilainya, maknanya. Perjalanan ini pun akan terus maju, bukan malah mundur. Kalau mundur, pemilik narasi justru akan tenggelam dalam item negatif narasinya, yang tentu akan berujung pada hilangnya kekuatan diri dalam memaknai dan mengembang diri. Itulah yang terjadi pada orang-orang malang, khusus, orang yang mengalami gangguan jiwa.

Selamat berjuang bersama, Ibu. Perjalanan hidup kita tengah terjadi di jalan Tuhan. Mari kita mengangkat narasi hidup orang dekat kita yang sedang tenggelam dalam jurang kegelapan hidup. Pertama-tama, kita menjadi terang yang bercahaya. Salutku untuk Ibu.*** (Rubrik Kutak-Kutik Flores Pos, Kamis, 6 Agustus 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s