Humanis Franz Magnis

Oleh Avent Saur

Franz Magnis-Suseno

Franz Magnis-Suseno

Di usianya yang ke-79, ia masih menguras tenaga, sekalipun kian lemah, untuk memperhatikan nasib bangsa. Bersamaan dengan memberikan perhatiannya itu, toh ia juga diberikan perhatian oleh bangsa dan oleh lembaga kemanusiaan.

Pekan lalu, tepatnya, Kamis, 13 Agustus, Franz Magnis-Suseno secara mengejutkan mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. Bersama dengan tokoh-tokoh lainnya, dan bersama dengan pelbagai bentuk perhatian lainnya, Magnis menerima dari Sang Presiden, sebuah penghargaan Bintang Mahaputra Utama, sebagai salah seorang sipil yang berjasa bagi perjalanan bangsa.

Dua hari sesudahnya, perhatian yang persis dalam bentuk tidak jauh berbeda, Magnis menerima penghargaan Roosseno Award V. Bentuknya berupa miniatur fondasi dan lukisan. Itu berasal dari lembaga Biro Oktroi Roosseno, Jakarta yang memperhitungkan jasa-jasa warga bangsa dalam bidang demokrasi, sosial dan pluralitas.

***

Ketika menerima Bintang Mahaputra Utama, tak ada banyak komentar dari para penerima. Mungkin karena diterima secara massal. Demikian juga seorang Franz Magnis-Suseno. Namun ketika secara individual menerima Roosseno Award V, ia berkomentar seadanya, tapi dengan nada berani sekaligus terkesan rendah hati.

Berani, lantaran ia mengungkapkan dua kesusahan sekaligus ancaman terbesar yang sedang dihadapi bangsa. Satu, ekstremisme agama. Dua, praktik korupsi.

Baginya, ekstremisme agama tidak memberikan ruang bagi rasa kebangsaan dan meremehkan segala pertimbangan kemanusiaan. Ekstremisme agama memang mau menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dengan cita-cita ideologi tertentu, tapi itu tetaplah sempit, melenceng dari cita-cita kemanusiaan pada umumnya.

Sementara yang kedua, praktik korupsi, malah jauh lebih berat dan riskan. Korupsi, yang kini sudah membudaya pada pelbagai tingkat pemerintahan dan pada pelbagai jenis lembaga, membusukkan integritas bangsa dan merusakkan cita-cita bangsa. Katanya, “Itu juga berarti, korupsi membusukkan jati diri bangsa”. Lebih mendalam, ujarnya, “Orang, kelompok dan bangsa yang tidak tahu lagi apa itu kejujuran mesti sudah busuk dalam substansi kemanusiaannya”.

Magnis-Suseno mengusik dan merongrong segala kenyamanan semu agama dan praktik kotor dalam politik. Atau dalam bahasanya yang lain, yang pernah terungkap dalam opus magnum-nya Etika Politik, ia “menggonggong” kenyamanan itu.

***

Namun rendah hati, dipersaksikan seorang bekas Jerman (Kasman) ini, lantaran ia melantunkan rasa malunya di hadapan Petinggi Biro Oktroi Roosseno (Toeti Heraty N. Roosseno) dan para dewan juri Roosseno Award V antara lain B.J. Habibie (mantan Presiden RI), Ahmad Syafii Maarif (mantan Ketua Umum Muhammadiyah), Karlina Supelli (Dosen STF Driyarkara), sosiolog Tamrin Amal Tomagola (dosen Universitas Indonesia) dan Yudi Latif (dari lembaga Reform Institute).

Logisnya, ia mesti merasa bangga. Tapi tidak. “Saya merasa malu. Apakah saya pantas menerima award ini? Ini adalah tanda kepercayaan yang telah saya terima; sebuah kepercayaan yang termasuk pengalaman dasar saya sejak 54 tahun silam menginjak bumi Indonesia,” tukasnya.

Dengan ini, sekurang-kurangnya, Magnis merasa bahwa usikan dan rongrongannya tidak mempan terhadap ancaman-ancaman itu. Juga menyadari bahwa ia tidak mampu sendirian mengubah situasi secara pasti, gesit dan berarti.

Ekstremisme, misalnya, sudah lama menjadi objek kegelisahannya, tapi toh justru berkembang dan malah berbentuk terorisme. Inklusivisme agama perlahan meredup, berubah menjadi eksklusivisme. Toleransi yang dahulu ada, perlahan redam, tampaklah intoleransi. Bahkan di tanah Papua yang sejak dahulu kala tidak pernah mengenal isu SARA, malah muncul belakangan, dan tragedi itu sungguh sangat menggelisahkan.

Demikian juga virus korupsi. Dahulu, virus itu hanya diidap pengendali otoritas tertinggi atau otoritas beberapa tingkat di bawahnya. Atau juga kroni-kroninya. Tapi kini, bukan cuma pengendali, bukan juga cuma karena kroni-kroni, melainkan semua kalangan masyarakat merasakan sedang mengendalikan bangsa dan masyarakat, dan dengan itu juga, mempraktikkan kehidupan politik-sosial-ekonomi yang kotor. Siapa peduli? Bagai kerbau dicocok hidung, yang satu mengikuti yang lain, yang lain merasa memiliki arus yang sama untuk sama-sama belajar membusukkan integritas atau jati diri bangsa.

Namun bagi Magnis-Suseno, ancaman adalah ancaman, dan harus dibongkar dengan ide-ide kritis. Semuanya terarah kepada penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap kemanusiaan; sebuah nilai yang melampaui pelbagai tapal batas.

Penghargaan yang diberikan kepadanya justru ada tersebab kegemilangannya dalam hal kemanusiaan ini. Ia patut mendapatkannya lantaran konsisten dan kritis di bidang humaniora dan ilmu sosial.

Atas dasar itu, ia humanis bukan terutama karena berbicara dengan nada berani, bukan juga karena terkesan rendah hati, sebagai dua di antara ribuan ciri khas kemanusiawian manusia, melainkan terutama karena keterbukaannya terhadap dinamika konteks sosial-politik (dan lain-lain) yang berkembang dari waktu ke waktu. Lebih tepat, benar kata Syafii Maarif, “Magnis tidak hanya seorang intelektual yang selalu berteori, tapi juga seorang aktivis demokrasi”. Lebih tepat lagi perkataan Karlina Supelli, “Magnis itu seorang humanis sejati. Rekam jejaknya menegaskan bahwa kebangsaan dan agama sama-sama menjadi wadah untuk mewujudkan kemanusiaan”.

Franz Magnis-Suseno-Jokowi

Humanis Franz Magnis bersalaman dengan Presiden Jokowi usai acara penerimaan bintang mahaputra utama.

***

Bidang giat Franz Magnis-Suseno pun semakin kaya; seorang humanis, etikawan, moralis, budayawan, filsuf, teolog sosial dan rekan dialog tokoh ekstremis. Sekurang-kurangnya, sekalipun sedikit dan seturut pontensi diri kita, kita mengambil bagian dalam keteladanan tokoh ini untuk secara kolektif menjaga integritas bangsa dan substansi kemanusiaan kita.*** (Rubrik Kutak-Kutik Flores Pos, Kamis, 20 Agustus 2015)

 

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s