Pelaku Sejarah

Oleh Avent Saur

Jacob Oetama2

Petrus Kanisius Ojong dan Jacob Oetama

Membaca “Syukur Tiada Akhir”, sebuah karya monumental, merayakan 80 tahun kelahiran pendiri koran Kompas Jacob Oetama (2011) rasanya dahaga intelektual betul-betul hilang, menguap. Terutama, dahaga itu berkaitan dengan sepak terjang perjalanan koran nasional itu, dan tentu juga perziarahan seorang pendiri yang memiliki tekad kuat dan keberanian luar biasa.

Sepak terjang perjalanan koran dan pendirinya, dua hal yang melekat erat dengan konteks politik baik Orde Lama maupun Orde Baru. Berawal dari permintaan Soekarno, tahun 1964, kepada beberapa tokoh nasional yang beragama Katolik dan berwawasan nasionalis untuk mendirikan sebuah lembaga media massa, Jacob Oetama dan Petrus Kanisius Ojong (1920-1980) mulai menerbitkan Kompas pada 28 Juni 1965.

Dalam diri pendiri terdapat semangat juang, yang tentu bukan hanya diyakini bahwa itu dijamin oleh negara melainkan memang nyatanya demikian, untuk terus mengarahkan pandangan ke depan perihal harapan hidupnya sebuah dunia bisnis nasional dan tercapainya sebuah dunia penyadaran massal lewat media komunikasi.

Sebagai sebuah idealisme, hal itu wajar saja, sangat manusiawi. Namun adalah manusiawi juga, yang sekalipun terutama memang terasa sangat aneh mirip perlakuan makhluk tidak berakal budi, justru negara sendiri yang berkali-kali menghentikan perjalanan Kompas. Ini terjadi di era Orde Baru yang sakitnya sangat sulit lupa dirasakan, dan yang bekas kekejamannya sangat sulit dibuang jauh.

Februari 1978, setelah mengalami dua kali pemberedelan oleh pemerintah yang sama, Soeharto, adalah awal kebangkitan kembali koran milik tokoh Katolik berpandangan nasionalis/pancasilais ini. Hebat memang, lantaran bukan cuma Kompas itu sungguh menampilkan sebuah harapan baru, melainkan juga usaha-usaha bisnis Jacob Oetama yang dibantu teman-temannya, berkembang pesat. Lahirlah pelbagai media lain baik cetak maupun elektronik, baik harian, maupun mingguan. Semuanya sama-sama bermaksud menggapai idealisme menyuarakan “Amanat Hati Nurani Rakyat” (taqline Kompas cetak), bukan sekadar bisnis, bukan sekadar penyediaan lapangan kerja, bukan sekadar menunjang ekonomi kreatif.

Kiranya tidak berlebihan kalau Jacob Oetama menamakan seluruh perjalanan kariernya dalam bahasa yang tercakup dalam humanisme transendental, bahwa karyanya adalah sebuah providential Dei, penyelenggaraan Allah. Dalam suasana tak keruan, kekejaman penguasa, dan tidak memiliki gambaran apa pun masa depan sebuah media, dia berani melangkah maju. Dan itu semua adalah berkah,yang dalamnya terdapat keterlibatan yang Ilahi. Prinsip hidup beriman sudah diinternalisasi dalam keseluruhan hidupnya, juga perjalanan negara, bangsa dan masyarakat.

Sampai pada titik ini, saya teringat, kisah dialog penuh ketegangan antara Jacob dengan Ojong menjelang 5 Februari 1978 itu, ketika diminta pemerintah untuk menandatangani persyaratan dari Soeharto dan harus menulis surat permintaan maaf kepada pemerintah atas berita-berita sebelumnya menyinggung pemerintah. Terasa tegang memang karena keduanya yang adalah memiliki peran sama dalam media itu, tak sepaham dalam menghadapi perilaku pemerintah tersebut.

Jacob bilang, “ikuti saja keinginan pemerintah”. Tapi Ojong bilang, “jangan ikuti mereka, Jacob. Jangan meminta maaf”. Lanjut Ojong, “Jacob, mati dibunuh hari ini, besok, atau nanti tahun depan, sama saja”. Tapi Jacob menimpali, “Mayat hanya bisa dikenang, Ojong. Tapi mayat tidak akan mungkin diajak berjuang. Perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, media massa”.

Ada semacam dialektika dalam dialog ini, sekalipun sintesisnya tidak sama-sama disetujui secara sungguh. Bagi Ojong, dalam dialog ini, Ojong kalah atau mengalah. Tapi dalam konteks permintaan pemerintah, Jacob kalah. Tapi juga, dalam perjalanan selanjutnya, apalagi ketika Ojong sudah pergi dipanggil yang Ilahi, Jacob selalu menang hingga sekarang mengalami kemenangan itu sampai di usianya yang ke-84. Oleh seorang temannya ketika mengikuti pelatihan jurnalistik di Amerika, Jacob dinobatkan secara lisan sebagai: a living hero, pahlawan yang hidup.

***

Terhadap kebaikannya dalam bidang komunikasi, pelbagai perhargaan diterimanya, dimulai tahun 1973, Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah. Dalam waktu selanjutnya, penghargaan dituainya berkali-kali, hingga yang terakhir, diberikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dengan jasa bidang yang sama: komunikasi. Ini diterimanya bersama 13 tokoh lain dalam bidang: pendidikan, sains, kebudayaan dan komunikasi.

Bersama kawan-kawannya itu sekalipun tidak didahulu urung rembuk, Jacob dipandang berhasil mewujudkan rencana strategis internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui program salah satu komisinya, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Oleh negara, Jacob dipandang sangat berjasa, terutama dalam mencerahkan negara, bangsa dan rakyat melalui media yang notabene tahan uji dan kuat. Dengan amat singkat, Anies menamakan Jacob, termasuk penerima lainnya, sebagai pelaku sejarah.

Soekarno dan Soeharto

Soekarno dan Soeharto

Tentu bukan pelaku sejarah gelap dan kelam, melainkan justru memberikan terang kepada kegelapan dan kekelaman sejarah akibat perilaku tak bertanggung jawab pelaku bangsa, akibat penggunaan kebebasan secara keliru bahkan salah, akibat pandangan sempit dan dangkal perihal sistem pemerintah dan penataan sosial.

***

Secara tidak langsung atau tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar, perjalanan hidup kita sebagai bangsa, turut dipengaruhi media komunikasi Kompas milik Jacob Oetama ini. Dan tentu secara moral, kita diwajibkan untuk meneladani ketokohannya yang berlimpah jasa baik, dalam konteks kerja dan lingkungan hidup kita masing-masing. Sekalipun kecil, dan sekalipun mungkin bahkan pasti, partisipasi kita tidak akan dimonumenkan dalam bentuk penghargaan, tapi setidaknya, partisipasi kita dalam jangkauan tertentu turut mempengaruhi baiknya perjalanan negara dan bangsa kita.*** (Rubrik Kutak-Kutik Flores Pos, Kamis, 3 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s