Sikap Batin

Markus 7:1-23

Oleh Avent Saur, SVD

sikap batin

Di Katedral Surabaya, September 2013, hari Minggu, saya duduk di panti umat. Rasanya, agak heran saja, banyak anak muda baik perempuan maupun laki-laki mengenakan pakaian seadanya saat mengikuti ekaristi – yang tentu kita semua anggap sakral: puncak dan sumber hidup kristiani. Laki-laki bercelana pendek dan perempuan dengan rok atau celana seadanya. Tidak semua mereka, tapi ya cukup kentara, mayoritas. Orang tua terutama ibu-ibu juga demikian, pakaian seadanya.

Di gereja Katedral saja begitu, apalagi di tempat-tempat ibadah lainnya, semisal, gua Maria dan tempat pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Di tempat-tempat itu keheranan saya berkurang.

Mengapa heran? Sebabnya hanya satu hal bahwa di gereja-gereja di Flores, penampilan demikian sangat kurang. Bahkan di tempat-tempat tertentu sama sekali tidak ada, atau lebih lagi, umat, bukan hanya orang tua (perempuan), melainkan juga para perempuan muda, mengenakan kain adat (sarung).

Lebih dari pada heran, sebenarnya, saya merasa agak terganggu dengan suasana itu. Dengan itu, tanpa merasa bersalah, saya pun coba memperhatikan mereka sedang perayaan ekaristi berlangsung. Wah, luar biasa, mereka toh seperti umat lainnya sangat khusyuk berdoa. Kekhusyukan itu secara spontan menegur saya, untuk jangan terus memperhatikan mereka, untuk mesti seperti mereka, mengikuti ekaristi sakral itu dengan sungguh-sungguh.

Kepada orang-orang yang saya kenal, dengan tak tahu malu, saya menyeringkan pengalaman itu. “Penampilan seperti itu sudah biasa, Romo. Umat khusyuk berdoa. Orang baru pasti awalnya merasa heran, tapi sebenarnya biasa. Yang terpenting, batinnya.” Begitu ujar mereka.

Dalam beberapa hari Minggu selanjutnya, berkali-kali, saya memimpin ekaristi di beberapa gereja paroki dan kapel stasi, juga rumah umat di lingkungan. Suasana seperti di Katedral selalu ada, tapi sedikitpun tidak lagi membuat saya heran, apalagi terganggu. Biasa, wajar.

Namun keheranan saya kembali muncul ketika beberapa waktu lalu, di Ende-Flores, seorang pastor mengumumkan dari mimbar berisi imbauan kepada umat khususnya perempuan, “jangan memakai pakaian seadanya, yang tidak sopan”. Bahkan ditambahkan, “pakaian-pakaian itu hanya boleh dipakai di rumah, atau di tempat pribadi”. Dan lebih lagi, “tubuhmu adalah untuk suamimu kini atau nanti”.

Ada umat yang merasa setuju, tapi ada juga yang merasa geli dengan imbauan itu. Dan saya merasa bahwa imbauan itu tidak perlu dan bahkan mengumumkan imbauan itu menunjukkan kualitas iman pengimbau dan kualitas afeksinya. Pengimbau bukan hanya heran, melainkan sangat terganggu, padahal orang-orang yang dia anggap mengganggunya (juga orang lain) sama sekali tidak merasa sedang melakukan tindakan mengganggu itu. Bahkan orang-orang yang dia anggap mengganggu itu mungkin justru lebih khusyuk berdoa daripada orang-orang yang merasa terganggu itu.

Ini hanya satu-dua pengalaman. Tentu banyak lagi pengalaman lainnya, semisal, dalam biara, dilarang pakai sandal ini dan itu ketika memasuki kapel, dan lain-lain, seakan-akan biara menentukan produksi jenis sandal khusus untuk kapel biara.

***

Pengalaman-pengalaman ini sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa betapa masih banyak orang, dengan pandangan masa lampau, mementingkan hal-hal lahiriah saat berurusan dengan yang Ilahi. Padahal, hal-hal lahiriah itu belum dan tak akan pernah diutamakan oleh yang Ilahi itu. Dengan mementingkan hal-hal lahiriah, bukan tidak mungkin mereka merasa bahwa dirinya lebih suci daripada orang lain, atau sekurang-kurangnya lebih layak daripada orang lain di mata yang Ilahi, dan mengajak serta mengajarkan orang untuk meneladani pementingan hal lahiriah itu.

Lebih dari pada itu, mereka merasa bahwa dengan mementingkan hal lahiriah, mereka tergolong orang yang menjaga kesakralan yang Ilahi, padahal tanpa dijaga pun, yang Ilahi itu tetaplah sakral sejak awal mula hingga keabadian.

Mirip-mirip pengimbau tadi, dalam cerita Injil Markus, segerombolan orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem, semacam delegasi, datang kepada Yesus dengan membawa satu pertanyaan: “Mengapa murid-murid-Mu makan tidak membasuh tangan lebih dulu?” Dalam padangan dan keyakinan mereka, perlakuan para murid itu tergolong dosa, najis, pelanggaran hukum taurat, dan pengabaian adat-istiadat nenek moyang. Dengan ini, kekudusan para murid-Nya dipertanyakan, berikut kekudusan Yesus dipertanyakan juga.

Namun bagi Yesus, kesucian atau kenajisan, kekudusan atau kedosaan seseorang bukan ditentukan oleh seberapa jauh peraturan adat-istiadat atau hukum agama ditepati atau tidak ditepati; bukan juga sejauh mana pelbagai tata ritual di rumah ibadat ditepati atau tidak ditepati, dan bukan sebesar apa atau seberapa sering korban dibawakan di mesbah Tuhan, dan bukan bagaimana berpakaian saat menghadapi Tuhan dalam ritus-ritus di rumah-rumah ibadah.

Bagi Yesus, semuanya itu adalah “apa pun dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang”. Ini semua sama sekali tidak dapat menajiskan atau menguduskan seseorang. Dengan kata lain, tidak mencuci tangan sebelum makan tidak membuat para murid-Nya najis – demikian juga, berpakaian yang telanjur dianggap sopan secara adat-istiadat saat memasuki tempat ibadah sama sekali tidak membuat orang itu suci daripada orang-orang yang berpakaian seadanya.

Kiranya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut lagi, kata-kata Yesus sudah sangat jelas.

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.”

Mengutip Yesaya, Yesus juga mengatakan, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”.

***

Inti hidup beriman adalah sikap batin (hati). Kalau batinnya baik, maka hal-hal lahiriahnya akan beres pula. Tapi keberesan lahiriah belum tentu menampakkan sikap batin. Saya heran dan terganggu dengan suasana di Katedral tadi, bukan karena suasana umat itu, melainkan karena kedewasaan iman dan kematangan afeksi saya yang sedang berproses. Untungnya, setelah kejadian itu, saya merasa aman-aman saja.

Pengimbau tadi juga merasa terganggu bukan karena umat-umat itu, melainkan terutama karena kedewasaan iman dan kematangan afeksinya, yang tentu, menurut saya, memalukan karena keadaan iman dan afeksinya diumumkan kepada publik.

Demikian juga delegasi dari Yerusalem itu. Kedewasaan iman mereka masih jauh dari harapan, lantaran mereka senantiasa lebih mengutamakan adat-istiadat daripada sikap batin. Maka mereka pun sungguh memalukan diri sendiri, dan yang mereka peroleh saat itu justru kecaman dari Yesus. Bahkan Yesus mengecap mereka sebagai orang munafik.

Sikap batin, bukan sikap tubuh, adalah inti hidup beriman.*** (Mimbar Flores Pos, Sabtu, 29 Agustus 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s