Berharap Berbuah Banyak

Oleh Avent Saur, SVD

Catatan: Peristiwa bersejarah dalam kongregasi religius Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah terukir secara abadi oleh lima bruder muda. Itu terjadi di Aula Biara Santo Konradus (BSK) Ende, 15 Agustus 2015.

Kelima bruder muda yang mengikrarkan kaul kekal itu, antara lain Bruder Yonatas Ulu Seran SVD, Bruder Isidorus Mau Loko SVD, Bruder Vinsensius Tuas Koi SVD, Bruder Vinsensius Seran SVD, Bruder Matheus Anin SVD. Berikut sekilas kisah panggilan  mereka.

  • Kisah Panggilan Bruder Yonatas Ulu Seran, SVD
IMG_0022

Bruder Yonatas Ulu Seran, SVD

LAHIR di Timor Barat, merantau ke Timor Timur, lalu bereksodus kembali ke Timor Barat (Atambua), serta memutuskan hidup membiara, adalah kisah menarik untuk dinikmati.

Di Timor Barat, Bruder Yonatas Ulu Seran SVD atau biasa disapa Bruder Yonas, lahir dari pasangan Bapa Herman Seran dan Mama Yosefina Lotu (almarhumah). Teman-teman seangkatannya bahkan hanya memanggil dia dengan nama amat singkat: “Ulu”. Hari itu, 26 Juni 1984, ia menjadi buah hati pertama dalam keluarga sederhana ini, di Kampung Fafoik, Malaka, yang kini sudah menjadi nama daerah otonomi (kabupaten) baru, Kabupaten Malaka. Mengikutinya, dua putra dan dua putri.

Entah mengapa, duabelas tahun kemudian, 8 September 1996, Yonas yang sudah mulai menginjak masa remaja, baru diantar orangtuanya kepada pastor, untuk dibaptis menjadi anggota Gereja. Itu juga bukan terjadi di wilayah pastoral di mana ia dilahirkan, melainkan di Baucau, Timor Timur, tepatnya di Paroki Santo Anthonius Baucau.

Dalam keluarga, Bapa Herman hanyalah seorang petani. “Dia seorang ayah yang ulet,” ujarnya. Namun entah mengapa ia terdorong untuk memboyong keluarganya ke tanah rantauan, tidak ada kisah yang terungkap. Bruder Ulu hanya tersenyum, ketika ditanyai perihal itu.

Pendidikan

Semua orang tentu tahu, Timor-Timor bukanlah wilayah yang aman secara politik. Ini tentu berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi warganya. Dan ketidaknyamanan itu, secara total di seantero negara muda itu, memaksa keluarga Bapa Herman bereksodus bersama warga lainnya kembali ke kampung halaman. Tentu ini bukan karena kehendak dan kegagalan pribadi atau keluarga atau juga kelompok melainkan kehendak situasi sosial dan kegagalan politik nasional.

Namun di Timor Timur, Bruder Ulu sempat menggumuli ilmu di bangku sekolah dasar: SDN XI Baucau, tahun 1990-1996. Bersama dengan tamatnya ia dari SD, pergumulan ilmu di Timor Timur pun usai juga. Ia bereksodus, dan segera melanjutkan pendidikan di bangku SMP Liurai Kaputu, Malaka Tengah, tahun 1996-1999.

Lelah menuntut ilmu di kampung, ia bergegas ke Kota Atambua, Ibukota Kabupaten Belu untuk  melanjutkan pendidikan di bangku SMA Kristen Atambua. Ini digelutinya, tahun 2000-2003.

Ingin Profesional

Usai tamat, Ulu yang mulai dewasa itu, entah mau ke mana? Sekitar Tiga tahun, ia kehilangan arah untuk merintis masa depannya. Namun, sesungguhnya, tidak ada kehilangan selamanya, semasih seseorang bergumul terus mencari.

Di lubuk hatinya yang terdalam, ia mendengar bisikan yang tidak  biasa. “Tahun 2005, saya merasa tertarik menjadi biarawan-misionaris,” ujarnya lugas. Tahun berikutnya, ketertarikan itu mulai terwujud, ketika ia dan teman-temannya mendatangi Biara Bruder Santo Konradus (BBK) Ende (kini Biara Santo Konradus/BSK. Kata “Bruder” dihilangkan). Ia mau menjadi bruder. Mengapa? Tidak ada jawaban lain, “saya ingin menjadi seorang yang profesional dalam bidang tertentu. Dan sekarang, saya telah merengkuhnya, menjadi seorang ekonom. Syukur eee…..,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Oemathonis Kupang ini.

Tahun demi tahun, ia melewati kehidupan membiara dengan perjuangan yang jauh dari tantangan luar biasa. Dari BSK, Ulu ke Novisiat Santo Yosef Nenuk. Itu dijalaninya mulai tahun 2007 hingga mengikrarkan kaul pertama dalam SVD tahun 2009. Usai masa novisiat, untuk calon imam SVD, biasanya, langsung menjalani pergumulan intelektual, misalnya, di Sekolah Tinggi (STFK) Katolik Ledalero, Maumere. Tidak demikian bagi para bruder SVD. Demi mendalami profesionalimenya dalam bidang keilmuan tertentu, sebelum menjalani pergumulan intelektual di perguruan tinggi, para bruder harus terlebih dahulu menjalani masa yuniorat. Itu dijalani Bruder Ulu bersama teman-temannya pada tahun 2009-2010 di BSK Ende.

“Bruder Ulu, mau profesional dalam bidang apa?” Kira-kira itu pertanyaan yang ia dengar dari pemimpin serikat Provinsi SVD Ende, atau juga Pemimpin BSK Ende. Dengan tegas, ia bersuara: “Saya mau mempelajari ilmu ekonomi”.

Di panti pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Oemathonis Kupang, ia mulai bergelut dengan bidang profesinya, tahun 2010 dan berakhir tahun 2014. Bersamaan dengan tahun demi tahun perjalanan intelektualnya, bersama itu pula ia membarui kaul-kaul kebiaraannya dalam SVD, serta bersama itu pula lagi, ia membentuk diri dan mengalami pelbagai tantangan panggilannya. Itu semua dijalaninya di Biara Beato Gregorius (BBG) Kupang.

Prinsip Spiritual

Perjalanan panggilan Bruder Yonas bukan tanpa sebuah prinsip spiritual. Kepada Bruder Rektor BSK Edelbertus Atalema, ia mengujar prinsip, “Hanya Tuhan Saja”. Kepada Tuhan itu, dalam pelbagai keterbatasan yang dimilikinya, ia yakin bahwa Tuhan mengasihinya bagai tuan taman merawat bunga-bunganya. Tentu ada yang bengkok dalam garis-garis perjuangannya, tapi pada garis bengkok itulah, Tuhan tetap menulis lurus panggilan mulia Bruder Yonas.

Titik simpul dari seluruh perjalanan panggilannya terangkum dalam moto kaul kekalnya: “Firman itu Telah Menjadi  Manusia, dan Diam di Antara Kita” (Yoh 1:14). Katanya, ia hidup untuk menaburkan benih sabda ke dalam hati semua orang. Betapa ia harapkan, benih itu hidup, bertumbuh dan berbuah, dan buahnya banyak entah berapa kali ganda.*** (Flores Pos, Senin, 10 Agustus 2015)

Baca juga:

Kisah Panggilan Bruder Isidorus Mau Loko, SVD (2)

Kisah Panggilan Bruder Vinsen Tuas Koi, SVD (3)

Kisah Panggilan Bruder Vinsen Seran, SVD (4)

Kisah Panggilan Bruder Matheus Anin, SVD (5)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s