Awalnya Kabur, Akhirnya Jelas-Kekal

  • Kisah Panggilan Bruder Vinsen Seran, SVD

Oleh Avent Saur, SVD

IMG_0052

Bruder Vinsensius Seran, SVD

JALAN mengadu nasib berliku-liku. Dari kampung halaman Atambua menuju Surabaya, tinggalkan Surabaya menuju Kalimantan, lalu berputar ke Yogyakarta, kembali lagi ke kampung halaman, dan akhirnya menuju Ende, Biara Santo Konradus (BSK). Kini, ia telah mengucapkan janji setia untuk kekal dalam SVD.

Apa sebenarnya yang dicari oleh Vinsen muda dalam jalan berliku-liku itu? Katanya, ingin mewujudkan kemampuan dalam bentuk pekerjaan-pekerjaan yang layak. Lebih dari itu, ingin memperoleh upah yang wajar.

Mungkin Vinsen kurang tahu dan kurang menyadari, keinginannya itu sekurang-kurangnya mewujudkan gagasan filsuf sosialisme Jerman Karl Marx yang mengujarkan, “dalam hasil kerjanya, manusia mewujudkan dirinya”. Vinsen pun demikian. “Penghasilan semakin tidak memberikan harapan akan sebuah hidup yang layak dan cukup, sehingga saya melancong dari tempat ke tempat, dan minggat dari kota ke kota,” ujarnya lugas.

Lalu, menuju biara, apakah juga untuk mengadu nasib? Tidak! Sekali lagi, tidak! Dengan berani, Bruder Vinsen yang bernama lengkap Vinsensius Seran, menegaskan, “rentangan panjang ziarah panggilan hidup ini sesungguhnya telah digariskan oleh Sang Pencipta. Segala sesuatu yang terjadi adalah misteri yang melampaui akal budi”.

Lanjutnya, “penyelenggaraan Sang Ilahi meremukkan segala egoisme. Akhirnya, saya berserah dengan tulus seraya berujar ‘Jadilah padaku Menurut Perkataan-Mu Itu’ (moto kaul kekal). Bimbingan Tuhan menjadikan saya berarti bagi sesama”.

Berakar dalam Keluarga

Perjuangan Bruder Vinsen kala itu memiliki akarnya dalam nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarganya, Bapa Lambertus Tahu dan Mama Bernadetha Abuk. Dengan semangat militan sebagai petani dan tukang kayu serta nakhoda rumah tangga, Vinsen diajarkan bagaimana mempertahankan nyawa dengan jalan layak, mengisi tempo-tempo ziarah hidup dengan keringat badan sendiri dan semangat tiada kenal lelah.

Ya, untuk orangtua, nilai-nilai itu diwujudkan dan ditanamkan, selain untuk Vinsen, tapi juga kelima saudaranya, 3 putri dan 2 putra lainnya. Dan rasanya, di mata Vinsen, nilai-nilai itu sudah terbiasa diwujudkan dan ditanamkan orangtua lantaran Vinsen dilahirkan sebagai anak keempat, tepatnya 11 Maret 1982 di Kampung Loofoun Bateti, Paroki Santo Yohanes Baptista Besikama, Keuskupan Atambua, Kabupaten Belu (sekarang Kabupaten Malaka).

Bukan cuma dalam menelusuri lorong-lorong berliku mengadu nasib tadi, semangat militan juga sudah mewarnai perjuangan hidup Vinsen kecil ketika memulai pergumulan intelektualnya. Di SDK Bateti, pergumulan itu dimulainya tahun 1990-1996. Lalu ia melanjutkannya di SMP Negeri 1 Malaka Barat di Besikama tahun 1996-1999. Jalanya mulus, tapi lelah di kampung, ia pun meneruskannya di Atambua, Ibukota Kabupaten Belu, di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Atambua tahun 1999-2002.

Dari Buruh Jadi Biarawan

Ijazah adalah modal. Itu prinsip yang dipegang erat oleh Vinsen dalam berjalan dari kota ke kota di beberapa pulau. Hanya satu keinginannya, bekerja dan bekerja.

Usai tamat SMKN, ia segera menuju kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya. “Enam bulan pertama di Surabaya, saya bekerja sebagai buruh di pabrik Meubel. Sementara bekerja, saya juga mengajukan lamaran ke perusahaan lain. Enam bulan kemudian, saya diterima sebagai karyawan produksi di Mepoly Industry Corporation. Perusahaan ini bergerak di bidang penyediaan Selang Air, Tali Tambang, Mapfile dan Pipa Paralon. Saya bertahan di perusahaan ini, satu tahun enam bulan,” pasalnya.

Lalu ia ke mana? Ke Kalimantan. “Saya mengundurkan diri dan bertolak menuju Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di sana, saya bekerja sebagai resepsionist di sebuah hotel, dan bertahan hanya tiga bulan”.

Lalu ke mana lagi? Ke Yogyakarta. “Pada pertengahan Desember 2004, saya mengundurkan diri dan pindah ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sana, saya bekerja di sebuah toko roti, kurang lebih selama lima bulan.”

Lanjutnya, “penghasilan semakin tidak memberikan harapan akan sebuah hidup yang layak dan cukup. Akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan Yogyakarta dan kembali ke kampung halaman, Loofoun Bateti, Besikama, Atambua”.

Jalan hidupnya jauh dari kejelasan. “Nasibku kabur,” ujarnya. Tapi bukan buntu, apalagi putus asa. Sekalipun rasanya berjalan tertatih-tatih, ia tak mundur-mengalah. Pekerjaan yang tanpa butuh ijazah pun dijalaninya saja, antara lain mengojek. “Ojek, ojek, ojek,” tentu kata-kata ini akrab di telinganya atau spontan diucapkannya. “Di Atambua, saya menjadi tukang ojek. Tapi tidak bertahan lama.”

Mengojek tentu bukanlah pekerjaan yang gampang. Mungkin gampang dalam berpikir, tapi bukan demikian dalam hal beradu fisik di medan transportasi. Sekalipun aneka gaya diperlihatkan di atas sadel kuda bermesin itu, tapi gaya-gaya itu sama sekali tidak menurunkan kecapekan dan kelelahan dalam badan fana.

Untuk Vinsen, ketika mengekang sepeda, bayangan ijazah SMKN tentu tak kabur dari memori dan imajinasinya. Ia pun memutuskan untuk melamar ke Dealer Motor Suzuki di Kota Atambua. Kerjanya, sebagai salesman: pemasar, penjual. Syaratnya tentu sangat jelas: penjualan harus mencapai target yang dipasangkan dealer. Tidak mencapai itu, ya, bukan mengundurkan diri melainkan diri dipaksakan mundur. Justru hal itulah yang dialami oleh Vinsen. Pedih rasanya, tapi itulah sistem kerja dan sistem sosial. Dan itu pulalah sistem hidup fana ini. “Selanjutnya, saya menjadi pekerja serabutan,” tukasnya.

Dari buruh lalu kerja serabutan, kemudian jadi biarawan, apa sebab? Tidak ada kisah lebih mendalam dan detail tentang peralihan yang tergolong radikal itu. Tapi kiranya lekas jelas ketika Bruder Vinsen menuturkan kalimat ini: “Rancangan Tuhan bukanlah rancanganku. Ini rencana Tuhan. Apa pun yang terjadi dalam perjalanan di biara, itu semua rencana Tuhan”.

Terlihat sebuah kepasrahan total, tiada sisa. Rupanya Vinsen menyadari betul keyakinan ini: “manusia itu ada dalam genggaman-Nya. Manusia hanyalah sebutir debu pada neraca, setetes embun pada pinggir timba, sebutir pasir pada pinggir pantai, dan sebiji garam pada samudera”.

Rancangan Tuhan itu mulai diwujudkannya dengan menginjakkan kaki pertama kali di Biara Santo Konradus (BSK) Ende, tahun 2006, yang tentu didahului dengan mengajukan lamaran, mengikuti testing dan mendengarkan kabar lulus. Jalannya mulus. Tahun 2007, ia menuju lembaga formasi Novisiat Sang Sabda Kuwu, Manggarai, hingga mengikrarkan kaul pertama, 15 Agustus 2009 dalam SVD. Usai itu, bersama teman-temannya kembali ke BSK Ende, dan saat masa yuniorat, ia mengabdikan diri di SMPK Maria Goreti Ende, sebuah panti pendidikan milik suster-suster CIJ.

Usai praktik yuniorat, ia menuju Yogyakarta, dan memulai menggeluti pergumulan intelektual di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE-YKPN) Yogyakarta, khusus studi ilmu akuntansi, tahun 2010-2014. Kalau dahulu, ia ke Yogyakarta untuk mengais rezeki untuk kebutuhan harian, maka kali ini, ia mendiami kota itu untuk mengais ilmu bagi kebutuhan masa depan SVD.

Pernah Ingin Jadi Imam

Bukan hal baru, dalam SVD, ada bruder novis atau bahkan yang sudah berkaul kekal, beralih menjadi calon imam. Sebaliknya, ada juga frater novis yang beralih menjadi bruder.

Demikian juga sebenarnya yang terjadi pada Bruder Vinsen. Awalnya, ia melamar dan mengikuti testing masuk Kelas Persiapan Atas (KPA) Seminari Santo Paulus Mataloko, Flores. Yang mengikuti tes, 11 orang; yang lulus, 6 orang; yang mengarungi laut menuju Flores, Bruder Vinsen sendirian. Dalam perjalanan dari Timor, Bruder Vinsen terdampar di BSK Ende, hingga mengurungkan niatnya ke Mataloko.

“Sebenarnya, saya ingin menjadi imam. Maunya ke KPA Mataloko. Tapi ketika tiba di Ende, saya jatuh sakit, sehingga tinggal di BSK, dan ambil keputusan untuk teruskan di BSK.”

“Di novisiat” tambahnya, “rencananya baru saya akan berpindah jadi frater, tapi itu juga tidak jadi. Tidak ada orang yang bimbing dan teguhkan keputusan itu. Bergelut sendirian, maka saya pun melanjutkannya menjadi bruder.”

Setelah mengarung lebih jauh di jalan panggilan menjadi bruder, kepada Bruder Rektor Edel Atalema, Bruder Vinsen berterus terang menegaskan, “panggilan adalah sebuah rahmat, dan karena itu, harus dijaga dan dirawat dengan setia. Saya bangga menjadi Bruder SVD”.

Di balik semuanya itu, ia tetap yakin bahwa rancangan-Nyalah yang tetap terjadi, dan tak dapat diganggu apalagi digugat. Dengan itu, mengulang perkataan Maria, Ibunda Juruselamat dan Ibunda umat beriman, ia pun berpegang pada moto “Jadilah padaku Menurut Perkataan-Mu Itu” (Luk 1:38).*** (Flores Pos, Kamis, 13 Agustus 2015)

Baca juga:

Kisah Panggilan Bruder Yonatas Ulu Seran, SVD (1)

Kisah Panggilan Bruder Isidorus Mau Loko, SVD (2)

Kisah Panggilan Bruder Vinsen Tuas Koi, SVD (3)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s