Buah dari Ketangguhan

  • Kisah Panggilan Bruder Vinsen Tuas Koi, SVD

Oleh Avent Saur, SVD

DSC07370

Bruder Vinsensius Tuas Koi, SVD

UNIK dan hebat, mungkin dua kata yang pas sekalipun tidak mewakili semuanya, ketika kita berkisah tentang pribadi Bruder Vinsensius Tuas Koi SVD. Mengalami mukjizat penyembuhan, berkutat dengan krikil-krikil proyek demi proyek pembangunan rumah dan jalan, di masa kecil tinggal bersama kakek-nenek, itulah yang membuat kisahnya unik dan hebat.

Proyek demi Proyek

Ketertarikan menjadi bruder dirasakan Vinsen muda ketika usianya memasuki usia ke-25, tahun 2006. Padahal ia sudah menamatkan SMA enam tahun sebelumnya, tahun 2000. Selama periode itu, ia ke mana dan berbuat apa? Vinsen yang lahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara (5 putra, 2 putri) dari pasangan Bapa Moses Luan dan Mama Hyasintha Motu, di Kampung Weluli, 19 Maret 1981, Belu-Atambua ini, bergabung dengan kelompok tukang batu-bangunan. Proyek demi proyek baik rumah maupun jalan, ia kerjakan demi mendapatkan sesuap nasi.

“Membiayai hidup dari hasil keringan sendiri, itulah yang disebut kemandirian,” ujarnya lugas.

Lanjutnya, “Usai tamat SMA, saya bekerja sebagai buruh bangunan di beberapa proyek yang dilakukan beberapa PT di Kabupaten Belu. Ada pembangunan aspal lintas daerah seperti jalan Memoli – Haekesak, pembangunan gedung SMA Weluli, pembangunan ruko di Weluli, pembangunan jalan rabat beton dan pembangunan rumah tinggal”.

Semangat kerja yang militan ini, ia peroleh dari keuletan orangtuanya, petani tulen. Terlebih, keuletan itu, ia peroleh dari kakek-neneknya, Martinus Mali dan Anna Maria Bui yang memelihara dan menempanya sejak berusia empat tahun. Pada pangkuan kakek-nenek, ia diperlakukan bukan sebagai cucu, melainkan sebagai anak bungsu.

Mengapa? Kesembilan anak dari kakek-nenek ini, semuanya sudah menikah, dan meninggalkan keduanya di rumah besar. Kasih-sayang pun dialaminya begitu mendalam, hingga ia tidak tahu lagi bahwa itu kakek-nenek, bukan orangtuanya. Bersama mereka, ia bekerja di kebun (lahan kering dan sawah). Di saat ia menginjak bangku SMP kelas 2 baru ia mengetahui bahwa pasangan tua renta itu adalah kakek-neneknya, bukan orangtuanya, tanpa sedikitpun rasa protes.

Pergumulan Intelektual dan Mukjizat

Mengawali pergumulan intelektualnya, di bawah naungan kasih kakek-nenek, Vinsen kecil disekolahkan di TKK Lalawar Weluli, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu tahun 1987-1988. Usai tamat, di melanjutkannya ke SDK Nuawain II Weluli tahun 1988-1994; lalu ke SMPN 1 Lamaknen Weluli tahun 1994-1997, dan SMA Sinar Pancasila Betun tahun 1997-2000.

Sewaktu SMA, ada kisah mukjizat, membekas dalam ingatannya.

“Saat SMA kelas II, saya jatuh sakit berat, dan dirawat oleh teman-teman di kos. Suatu sore, ketika hendak turun dari tempat tidur, kepala terasa sangat pening dan hendak jatuh menimpa tiang tempat tidur. Tiba-tiba, sinar dari sudut kamar kos, rasanya, memindahkan kepala yang hendak terbentur itu ke tempat/lantai kosong. Kepala pun tak terbentur pada tiang itu. Ini dikisahkan teman-teman kos, juga pemilik kos ketika saya sudah siuman. Saya menamakan itu sinar kerahiman Tuhan yang menyelamatkan,” ujarnya.

Sinar adikodrati itu dialaminya lantaran saat didera sakit berat, dari kedalaman hatinya ia pernah melantunkan sebuah nazar: “Kalau saya sembuh, saya mengabdikan hidup saya untuk Tuhan”.

Anggota Preman Beriman, Berandal Bermoral

Usai tamat SMA, ia pun dari waktu ke waktu dan dari serikat religius ke serikat religius lainnya, melayangkan lamaran untuk bergabung entah menjadi imam atau bruder. Tapi sial, lamarannya selalu dikirim terlambat, atau juga diterima terlambat. Balasannya pun singkat, “Kalau adik masih punya niat untuk bergabung, datanglah tahun depan”.

Sebagaimana anak muda pada umumnya, kenyataan ditolak terasa sebagai sebuah pukulan agak berat. Ia pun putus asa dan merasa tidak pantas hidup membiara. Yang pantas adalah menjadi pengugal (bertingkah kasar di jalanan) dan pribadi berandal (pengacau, tidak menuruti norma umum).

“Bersama teman-teman, saya sering berugal-ugalan di jalanan. Kami menamakan diri sebagai kelompok preman beriman, berandal bermoral. Memang ada warga masyarakat yang tidak suka, tapi kami tetap memperhatikan norma-norma umum sosial,” ujarnya.

Preman itu negatif, demikian juga berandal. Namun pada yang negatif ini, ada yang positif: beriman, demikian juga bermoral. Pada diri Vinsen, rupanya, dua kualitas positif ini melekat erat dan dominan.

Ada kisahnya. “Membantu kakek-nenek bekerja di kebun, itu biasa saya lakukan. Suatu ketika, di kebun itu, ketika hendak berisitirahat sejenak, entah terdorong oleh apa dan siapa, saya mengambil Kitab Suci. Saya buka, dan langsung membaca prolog Injil Yohanes. Ketika saya masuk SVD, baru saya tahu, perikop itu kesukaaan pendiri, Santo Arnoldus Yanssen. Membaca prolog itu selalu saya lakukan dulu,” katanya.

Lanjutnya lagi. “Suatu ketika, saya membaca itu, mama menegur, engkau jadi imam saja, masa lumpur-lumpur begitu juga baca Kitab Suci? Saya pun iseng menjawab, Ya, kalau mama mau, saya akan masuk biara toh. Mama menimpal, macam kau yang jadi imam, maka saya jadi suster. Saya bilang, kita buktikan saja, mama. Baru saya tahu sekarang, prolog injil Yohanes itu mengantar saya ke SVD, dan jauh sebelumnya prolog itu juga mengantar Bapak Arnoldus dahulu untuk menjadi imam dan mendirikan tiga serikat misi. Dan ocehan mama bukan tanpa makna.”

Buah dari Ketangguhan

Bersamaan dengan identitasnya sebagai preman dan berandal, keinginan Vinsen untuk memasuki biara masih tersisa di kedalaman dirinya. Putus asanya tidak total. Ia tangguh. Tahun itu, 2006, ia melayangkan lamaran ke Biara Santo Konradus Ende, dan diterima, lalu menjalani masa postulat, 2006-2007. Setahun kemudian, ia melanjutkan pembinaan ke Novisiat SVD Santo Yosef Nenuk, Atambua, hingga mengikrarkan kaul pertama, 15 Agustus 2009.

Bersama teman-temannya, ia berbalik ke BSK Ende, untuk menjalani masa yuniorat. Lalu ia dipercayakan untuk memulai pergumulan intelektualnya di perguruan tinggi, Univesitas Katolik Widya Mandira Kupang, pada Fakultas Hukum, tahun 2010-2014. Pada 19 Desember 2014, ia diwisuda menjadi seorang Sarjana Hukum (SH).

Unik dan hebat, tentu dialami juga dalam liku-liku perjalanan Bruder Vinsen baik dalam kehidupan di biara maupun di tengah masyarakat akademis kampus. Sekurang-kurangnya, keunikan dan kehebatan di awal kisah hidupnya telah menempanya menjadi pribadi yang sekurang-kurangnya tahan uji.

Di balik semuanya, ada satu kekuatannya, yakni kepasrahan, membiarkan Dia berbuat sesuatu seturut kemauan-Nya. Mungkin atas dasar itu, Bruder Vinsen mengusung moto di saat hari bersejarah kaul kekalnya: “Jadilah Kehendak-Mu” (Mat 26:42).*** (Flores Pos, Rabu, 12 Agustus 2015)

Baca juga:

Kisah Panggilan Bruder Yonatas Ulu Seran, SVD (1)

Kisah Panggilan Bruder Isidorus Mau Loko, SVD (2)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s