Mencari Titik Purna Rahasia Diri

  • Kisah Panggilan Bruder Isidorus Mau Loko, SVD

Oleh Avent Saur, SVD

IMG_0046

Bruder Isidorus Mau Loko, SVD

KEBAKTIAN keluarga sebagai Gereja mini menjadi ciri khas dasariah keluarga kristiani. Hal ini sungguh dipersaksikan Bapa Konradus Asa (alm.) dan Mama Regelinda Inge Maria Bui Mau, orangtua dari Bruder Isidorus Mau Loko SVD, biasa disapa Bruder Endo.

“Setiap hari, kami berdoa bersama, dan khusus pada hari Selasa setiap pekan, kami berdoa mohon panggilan menjadi imam,” tutur anak ketujuh dari 10 bersaudara ini (7 putra, 3 putri).

Di Babalai, Fulur, Kabupaten Belu, Bruder Endo memulai ziarah hidupnya di bumi ini, 4 April 1987. Ia terlahir dari ayah, seorang pengajar (guru), dan mama, seorang ibu rumah tangga. Kebiasaan berdoa mohon panggilan imam, sedikitnya mendorong Endo kecil untuk “mengawang”, ingin menjadi imam-biarawan-misionaris. Namun keinginan itu terhalau kabur bersama usainya pergumulan intelektual di bangku Sekolah Dasar Inpres Sabulmil, tahun 1992-1998.

Ingin Jadi Montir

“Saat itu, saya ingin menjadi montir yang hebat,” ujarnya semangat. Keinginan ini membuatnya tidak sedikit pun terpengaruh dengan teman-teman yang melanjutkan pendidikan di seminari. Di SMP Santo Yosef Weluli, arah timur Kota Atambua, keinginan menjadi montir hebat disimpan rapi di alam benaknya. Usai tamat, tahun 2002, ia pun lebih dekat menggumuli keinginan itu di Sekolah Teknik Menengah (STM) Santo Yosef Nenuk, Atambua, tahun 2002-2005.

Atmosfer lingkungan di panti pendidikan teknik milik SVD itu membangkitkan rasa yang masih tersimpan rapi di memori, yang pernah ada sewaktu kecil: rasa ingin menjadi biarawan. Tapi kali ini, bukan rasa menjadi imam, melainkan bruder. Rasa ini tak terlepas dari pengaruh kesaksian hidup misionaris SVD, Bruder Donatus Tewes yang berahli dalam bidang otomotif. Kepada bidang ini, Endo remaja mengarahkan pergumulan intelektual dan perjalanan panggilannya, yang kala itu, ia ditempa dalam suasana hidup berasrama. “Seperti Bruder Don, saya juga bisa mewartakan Tuhan melalui bidang ini,” kisahnya.

Pukulan Hebat

Endo mulai mewujudkan mimpi indah ini di lembaga formasi Postulat BSK Ende, tahun 2006-2007. Selagi menikmati indahnya masa awal ini bersama 17 teman lain, sebagaimana diakuinya kepada Direktur Postulat Bruder Edel Atalema kala itu, ia mengalami pukulan hebat di saat ayahnya, Konradus Asa meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya.

“Kabar duka itu seakan-akan menjadi sebuah pukulan mundur bagi Postulan Endo. Tapi ia mampu bertahan, maju, dan melewati periode krisis itu. Ia yakin rencana dan rancangan Tuhan selalu berjalan dan berakhir indah dan baik,” tutur Bruder Edel.

“Ia pribadi rendah hati, rela berkorban, bekerja sampai tuntas, dan profesional,” lanjutnya.

Setahun kemudian, ia melanjutkannya di lembaga formasi Novisiat Santo Yosef Nenuk, Atambua, selama dua tahun, 2007-2009, hingga mengikrarkan kaul pertama, 15 Agustus 2009.

Bersama teman-temannya, Bruder Endo kembali ke BSK Ende untuk menjalani masa yuniorat, untuk merefleksikan kesungguhan perihal keinginannya menggeluti bidang profesi tertentu. Kegelutan itu memperkuat keinginannya dalam bidang teknik yang pengetahuan dasarnya sudah diperolehnya di STM Nenuk. Ia pun mendalami bidang itu secara formal di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tahun 2010-2014, hingga meraih gelar Sarjana Teknik (jurusan mesin).

Dalam perjalanan yang diukirnya bersama perwujudan dan pembaruan kaul-kaul kebiaraan, dinamika pengalaman mewarnainya: suka-duka, susah-senang, ringan-berat. “Semuanya itu terarah kepada satu hal: kematangan diri baik sebagai manusia maupun sebagai calon biarawan-misionaris tetap dalam SVD,” katanya. Dengan itu, ia pun berani mengungkapkan ini: “Tuhan adalah Sang Penulis Skenario Terbaik”.

Ungkapan ini mewakili keyakinan Bruder Endo perihal keahlian ilmu yang ia miliki. Sementara di waktu bersejarah, kaul kekalnya, Bruder Endo dengan tegas mengangkat moto “Menjadi Apakah Anak Ini Nanti?” (Luk 1:66).

Rasanya, perjalanan panggilan hidup Bruder Endo masih begitu panjang; masih mencari titik purna rahasia dirinya di hadapan Tuhan; bahkan boleh jadi, rahasia diri dan panggilannya yang terdalam tidak akan ditemukannya hingga ia sendiri memandang Sang Ilahi kelak. Tugasnya sekarang, usai berikrar kekal, ia menerima dan mewujudkan misi-Nya di mana saja di akan ditugaskan, antara lain di Biara Pusat Provinsialat SVD Roma, Italia.*** (Flores Pos, Selasa, 11 Agustus 2015)

Baca juga:

Kisah Panggilan Bruder Yonatas Ulu Seran, SVD (1)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s