Panggilan Itu Tak Terduga

  • Kisah Panggilan Bruder Matheus Anin, SVD

Oleh Avent Saur, SVD

IMG_0030

Bruder Matheus Anin, SVD

MENENTANG kehendak orangtua tidak selalu berakhir pahit. Justru manis rasanya, ketika dengan konsisten mengikuti kehendak sendiri, yang diyakini sebagai suara dari kedalaman sanubari yang bening.

“Usai tamat SMA di Sekolah Menengah Atas Katolik Wara Bhakti Naesleu, Kefamenanu tahun 2004, orangtua menghendaki saya harus berkuliah. Tapi tak sedikit pun dalam diri saya kehendak untuk berkuliah,” ujar Bruder Matheus Anin SVD, yang biasa disapa Teus, atau Mecu.

“Cuma satu keinginan saya,” lanjutnya, “yakni menjadi tukang ojek. Sekalipun saya belum mahir mengekang motor, tetapi tekad saya cukup kuat untuk mencari dan mengumpulkan duit. Jika sudah cukup, saya harus kredit satu unit sepeda motor.”

Demi merengkuh mimpi itu, kepada orangtua, sedikit pun, ia tidak mengharapkan bantuan apa-apa. Untuk itu, dari kampung halamannya Neopesu-Eban, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), ia berkelana ke Kefamenanu, Ibukota Kabupaten itu.

“Saya bekerja sebagai buruh proyek pembangunan Gereja Santo Yohanes Pemandi Naesleu, Kefamenanu. Entahlah, orangtua saya, Bapa Donatus Anin dan Mama Aquilina Tua berpikir apa tentang saya. Saya tidak pusing peduli. Jalan saya punya e, mau apa,” ujarnya tulus.

Dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit, duit terkumpul sebanyak persis yang diharapkannya. Selain duit hasil buruh proyek, Teus, anak keenam dari tujuh bersaudara (1 putri, 6 putra) ini juga tampil cukup kreatif di antara para buruh lainnya. Kepada teman-temannya, ia menjual rokok.

“Kalau pembeli bayar kontan ya rokok dijual seturut harga pasaran. Tapi kalau berutang ya harganya dinaikkan sekitar 30 persen,” katanya.

Ini bukan cuma soal kreativitas mencari nafkah dan mempertahankan hidup, melainkan terutama semangat kerja dengan memanfaatkan pelbagai peluang, memaknai diri dan mengejar mimpi.

Namun, rasanya memang agak kurang rasional, ketika justru duit telah berhasil dikumpulkan, mimpi menjadi tukang ojek buyar bersama selesainya proyek itu. Entahlah, mungkin itu hanya sekadar mimpi, dan belum berurat akar di dalam dirinya, apalagi kemahiran membawa motor masih butuh waktu ekstra.

Kepekaan yang Tajam

Apa ada mimpi baru? Katanya, ada. Tapi ini bukan mimpi, melainkan sebuah kondisi yang ditanggapi dengan kepekaan yang tajam dan kepedulian yang tinggi.

“Di seputar pastoran Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu, Kefamenanu, saya ditugaskan menjaga pelbagai peralatan proyek. Suatu ketika, saya mendengar suara deringan telepon rumah di pastoran. Karena pater dan frater yang berpraktik pastoral di paroki itu tidak berada di pastoran, maka saya terima saja telepon itu. Dengan orang di balik gagang telepon, saya berbicara seadanya,” kisahnya.

“Pada meja telepon itu,” lanjut Bruder Mecu, “ada sebuah lembaran, tampak seperti brosur. Kepadanyalah, mata saya tertuju, dan kepadanya pula, konsentrasi terarah. Ini brosur promosi panggilan menjadi bruder SVD. Seusai berbicara, saya mengambil brosur itu dan membacanya lebih detail. Ah, saya masuk bruder saja. ‘Yang tertarik, silahkan mendaftarkan diri di Biara Santo Yosef Nenuk, Atambua, Kabupaten Belu. Lanjutkan dengan membuat lamaran dan testing masuk, serta mendengar kabar lulus atau tidak’. Kira-kira begitu isi singkat brosur itu.”

Ini bukan lagi sebuah mimpi, melainkan sebuah kehendak yang timbul setelah melihat dan membaca. Persis seperti kata Santo Paulus, “Iman timbul dari pendengaran”. Demikian juga pada Bruder Mecu, “panggilan timbul dari pembacaan brosur”.

Kalau pun ini terbilang mimpi, ya, mimpi ini hadir di siang bolong. Sejak dilahirkan di Neopesu, 5 Mei 1985, hingga pelbagai jalan yang dilalui di tiga panti pendidikan, tak sedikit pun ini menjadi sebuah mimpi. Saat duduk di bangku sekolah dasar di SDK Neopesu tahun 1993-1998, tidak. Saat dilanjutkan ke bangku sekolah menengah tingkat pertama di SMPK Gita Surya Eban tahun 1998-2001, juga tidak. Apalagi ketika duduk di SMAK Wara Bhakti tahun 2001-2004. Jadi itu memang datang tiba-tiba, sebuah panggilan tak terduga.

Mewujudkan Kepekaan

Kepada Pastor Paroki Naesleu, pertama-tama, ia mengutarakan niat baru itu. Betapa tidak, tanggapannya luar biasa, sangat mendukung. Dengan segera, Bruder Mecu menuju Biara Santo Yosef Nenuk Atambua untuk coba memulai mewujudkan kepekaannya: melamar, mendaftar, mengikuti ujian masuk, dan beberapa waktu kemudian, terdengar kabar, dirinya lulus.

Selama proses-proses awal ini, tak sedikitpun ia memberitahukannya kepada orangtua yang adalah petani ulet. Inginnya, terus menyembunyikan dan membiarkannya menjadi rahasia. Namun ada dua tuntutan yang mendesaknya untuk mau tidak mau, harus membongkar rahasia ini. Pertama, surat persetujuan orangtua. Kedua, berdoa dan memasang lilin di pekuburan nenek-moyang.

“Di luar dugaan, orangtua mau-mau saja. Segalanya lancar,” ujarnya singkat.

Kelancaran itu terus dialaminya ketika menginjakkan kaki di lembaga formasi dasar Postulat Biara Santo Konradus Ende, tahun 2005 hingga 2006. Setahun berlalu, ia lanjut mengukir jejaknya di Novisiat Santo Yosef Nenuk, Atambua, tahun 2006.

Di novisiat, jalannya tak selancar masa postulat. Ada kerikil yang sedikit mengganjal. Teman-teman seangkatannya melanjutkan perjuangan dan merengkuh pengikraran kaul pertama tahun 2008, tetapi Bruder Mecu tidaklah demikian.

“Saya mengikrakan kaul pertama tahun 2009 bersama dengan teman-teman yang adalah adik tingkat saya,” katanya.

Lanjutnya, “Sekitar bulan Januari 2008, novis tahun kedua, saya diminta undur diri lantaran satu-dua persoalan. Pesan formator, ‘kalau saya masih ingin meneruskan menjawab panggilan-Nya, dipersilakan masuk lagi’. Tapi pesan itu tak sedikit saya pikirkan. Semuanya buyar. Jalan saya mungkin bukan itu. Kepekaan yang pernah ada dua setengah tahun sebelumnya, mungkin hanyalah kebetulan saja”.

Jangan Begini Terus

Sedikit saja waktunya untuk berada bersama orangtua di kampung halaman ketika sudah meninggalkan biara. Lebih banyak waktunya, ia isi bersama keluarganya di Ponu, arah utara Kota Kefamenanu. Sebelumnya, ia tinggal beberapa lama di Pastoran Paroki Sadi, tak jauh dari Kota Atambua. Dari tempat ke tempat, ia mengadu nasib, dan dari proyek satu ke proyek lain, ia mencari duit. Persis hidup seperti itulah yang pernah dilintasinya dahulu, ketika dia menentang kehendak orangtua untuk dikuliahkan.

“Yang akrab dengan hidup saya saat itu, hanya rokok dan arak. Mabuk bersama teman-teman. Uang hasil keringat sendiri dengan cepat dihabiskan dengan teman-teman,” terangnya.

Namun entah mengapa, suatu ketika, di siang bolong, Mecu yang perlahan menginjak usia dewasa itu, duduk terpekur menyandar di sebuah pohon dan menikmati keteduhannya.

“Saya ini mau jadi apa? Kalau saya bekerja, lalu menghabiskan duit dengan membeli rokok dan bermabuk-mabukkan, mau jadi apa hidup saya? Gaya hidup seperti ini tidak boleh diteruskan. Saya mesti berubah,” ujarnya mengenang kala itu.

Tidak ada jalan lain, selain mengingat dan mewujudkan pesan yang sempat dititipkan formator beberapa bulan sebelumnya. “Kalau ingin lanjut, silakan datang lagi.” Tak lama berselang ia bertekad melamar lagi kembali ke novisiat Nenuk, dan pada Desember 2008, ia diterima kembali. Jubah yang dulu sudah diserahkan kepada socius (teman, formator) diterimanya kembali. Status Bruder yang dulu sudah sempat hilang, kini ditemukan kembali, sekalipun ia tidak rutin dan tidak intens mencarinya. Status ini pun dijalankannya dengan tekad kuat, “tetap di biara untuk selama-lamanya”, hingga merengkuh kaul pertama tahun 2009.

Pada tahun itu juga, ia bersama teman-temannya kembali ke lembaga formasi BSK Ende untuk memulai masa yuniorat. Tidak ada tantangan yang serius kala itu. Rasanya, berjalan lancar dan sangat bahagia.

Setahun berlalu, ia tak pergi jauh-jauh untuk memulai masa studi. Oleh pemimpin SVD Ende, Bruder Mecu dipercayakan berkuliah di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Ende, panti pendidikan milik suster-suter Ursulin, tahun 2010, hingga meraih sarjana sosial, tahun 2014. Ya, berkuliah, sebuah aktivitas yang dahulu pernah ditentang ketika orangtua berkehendak mengkuliahkannya.

Namun meraih gelar sarjana sosial bukanlah akhir dari pergumulan hidupnya. Selain pengikraran kaul kekal yang diukirnya sebagai pemulaian hidup baru dalam lingkaran SVD, tetapi juga keseluruhan hidup dijadikannya sebagai momen untuk mencari apa yang mungkin ia sendiri tidak tahu. Itu tergambar dari moto panggilannya: “Apa yang Harus Aku Cari dalam Hidup Ini?”

“Bagi saya hidup manusia di dunia ini merupakan sebuah proses pencarian tiada henti, entah sampai kapan. Saya melihat dan mengalami langsung berbagai patologi sosial seperti kemiskinan, perselingkuhan, perkelahian, persaingan politik tidak sehat, aborsi, perjudian, pergaulan bebas, kesenjangan sosial, gosip, iri hati, ketidakadilan, sombong, egoisme dan tipu muslihat dan lain sebagainya. Ke dalam konteks inilah, saya diutus. Untuk apa? Untuk seturut kemampuan saya mengubahnya, sambil terus mencari sesuatu yang masih rahasia bagi saya. Mungkin itu Sang Adikodrati.”***(Flores Pos, Jumat, 14 Agustus 2015)

Baca juga:

Kisah Panggilan Bruder Yonatas Ulu Seran, SVD (1)

Kisah Panggilan Bruder Isidorus Mau Loko, SVD (2)

Kisah Panggilan Bruder Vinsen Tuas Koi, SVD (3)

Kisah Panggilan Bruder Vinsen Seran, SVD (4)

 

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s