Bruder John Kunjungi Orang Gila di Kota Ende

Kunjungan

Bruder John (kiri) memegang dan mengamati tangan Tadeus Sida saat berkunjung ke rumahnya di Jalan Sam Ratulangi, Woloweku, Ende pada Minggu (30/8) dua pekan lalu. Kedua tangan Tadeus tampak kaku dan terluka bekas pemasungan beberapa waktu lalu. Ia dipasung oleh keluarganya selama kurang lebih 8 bulan.

  •  Pengelola Panti Renceng Mose di Ruteng

Oleh Avent Saur

Bruder John Ganti FC

Bruder John Ganti FC

Pengelola Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Bruder John Ganti FC, mengunjungi empat orang dengan gangguan jiwa atau orang gila di Kota Ende dan sekitarnya pada Minggu (30/8), dua pekan lalu.

Pasien yang dikunjunginya antara lain Tadeus Sida (50-an tahun) di Woloweku, Yohanes Sema (60-an tahun) di Lorong Bita Beach, Eufromius Emilianus Sea (25 tahun) di Arereke dan Yohanes (30 tahun) di Jalan Ahmad Yani. Dua di antara mereka, Yohanes Sema dan Yohanes dipasung dengan rantai pada salah satu kaki mereka.

Bruder John Ganti mengatakan, kunjungan ini dilakukan untuk mengetahui keadaan riil orang yang mengalami gangguan jiwa. Selanjutnya, mereka akan mendapatkan obat-obatan dari Panti Renceng Mose dengan harga yang terjangkau.

“Kapasitas Panti Renceng Mose sangat terbatas, hanya bisa menampung sekitar 20-an pasien saja. Ini tidak sebanding dengan jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa di pelbagai kota dan kampung yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sementara mereka kurang mendapat perawatan yang serius baik oleh keluarga, masyarakat maupun pemerintah. Untuk itu, pihak panti coba menjemput bola, mengunjungi mereka di rumah-rumah dan memberikan mereka obat-obatan,” katanya.

Di Ende Banyak Orang Gila

Bruder John juga mengatakan, orang yang mengalami gangguan jiwa di Ende terbilang cukup banyak. Selain di rumah, ada juga yang berkeliaran di jalan-jalan.

“Keluarga dan pemerintah serta tokoh agama mesti serius menangani persoalan ini,” ujar Bruder asal Wolowona, Ende ini.

Di Panti Renceng Mose, lanjutnya, ada beberapa pasien dari Ende. Kecuali Anselmus Wara, pasien lainnya dibiayai oleh keluarganya yang selalu mengeluhkan keadaan ekonomi mereka yang tidak menjangkau beban perawatan di panti.

“Keadaan ekonomi masyarakat yang lemah bisa jadi kendala dalam memperhatikan anggota keluarganya yang sakit jiwa. Oleh karena itu, pemerintah mesti memperhatikan mereka,” ujarnya.

Keadaan Semakin Membaik

Andreas Sea, Ayah dari Eufromius Emilianus Sea (Efen) mengatakan, keadaan Efen sekarang semakin baik. Mudah-mudahan, dengan obat yang akan dikonsumsinya, ia segera pulih total agar bisa segera melanjutkan kuliahnya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini. Semoga kunjungan ini membawa manfaat bagi pemulihan kesehatan anak saya,” ujarnya.

Panti Renceng Mose adalah panti milik para bruder Caritas, khusus merawat orang dengan gangguan jiwa baik pria maupun wanita. Panti ini mulai beroperasi pada tahun 2013 lalu.***

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s