Beralih dari MDGs ke SDGs

Oleh Robert Mirsel, SVD

Pater Robert Mirsel SVD

Robert Mirsel SVD, Staf VIVAT International, New York, Amerika Serikat

2015 merupakan tahun peralihan dari tujuan-tujuan pembangunan millenium (millenium development goals/MDGs), 2000-2015 ke tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) 2016-2030. Untuk tidak dilupakan, MDGs terdiri dari delapan tujuan, yakni mengentaskan kemiskinan ekstrem dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar universal, memajukan kesetaraan jender dan memberdayakan kaum perempuan, mengurangi angka kematian bayi, meningkatkan kesehatan ibu, dan melawan HIV/AIDs, malaria, dan penyakit-penyakit lainnya, menjamin keberlanjutan lingkungan hidup, dan mengembangkan kerekanan global bagi pembangunan. Sedangkan SDGs terdiri dari 17 tujuan dengan 169 target.  Ke-17 tujuan ini akan dideklarasikan secara resmi dalam sidang umum PBB tanggal 25-27 September 2015.

Setelah melalui proses negosiasi panjang sejak tahun 2012 lalu, maka pada tanggal 12 Agustus 2015 negara-negara anggota PBB pada akhirnya sepakat dengan rumusan ke-17 tujuan tersebut. Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di manapun ditempatkan sebagai tujuan pertama, menyusul tujuan kedua yakni pengentasan kelaparan, mengupayakan terjaminnya kesediaan pangan, peningkatan gizi dan memajukan pertanian berkelanjutan. PBB menempatkan hidup sehat dan pemajuan kesejahteraan semua orang dalam segala tingkatan usia sebagai tujuan ketiga. Sedangkan menjamin pendidikan yang inklusif dan setara secara berkualitas dan memajukan peluang belajar seumur hidup bagi semua orang ditempatkan sebagai tujuan yang keempat.

PBB juga menyadari bahwa masalah kesetaraan jender harus mendapat perhatian dalam SDGs, dan karenanya,  dalam tujuan kelima dirumuskan perlunya pencapaian keseteraan jender dan pemberdayaan semua perempuan dan anak-anak perempuan.

Yang tak kalah pentingnya adalah tujuan keenam, yakni menjamin ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi secara berkelanjutan bagi semua. Menyusul penjaminan akses semua orang terhadap energi yang terjangkau, terandalkan, berkelanjutan dan modern sebagai tujuan yang ketujuh. Sedangkan tujuan kedelapan berkaitan dengan upaya memajukan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dan penyediaan lapangan kerja secara penuh dan produktif serta pekerjaan yang layak bagi semua orang.

Pengembangan infrastruktur yang memacu pembangunan, memajukan industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan serta memanfaatkan inovasi menjadi tujuan yang kesembilan, yang disusul dengan tekad untuk mengurangi kesenjangan di dalam dan antarnegara sebagai tujuan kesepuluh. Sedangkan tujuan kesebelas adalah menciptakan kota-kota dan tempat-tempat pemukiman yang inklusif, aman, menunjang kemajuan dan berkelanjutan.

Menjamin pola-pola konsumsi dan produksi berkelanjutan dirumuskan sebagai tujuan keduabelas; sedangkan melakukan tindakan mendesak untuk menggempur perubahan iklim dan berbagai dampaknya termasuk tujuan ketigabelas. Menjaga dan memanfaatkan lautan, laut dan sumber-sumber dayanya bagi pembangunan berkelanjutan ditempatkan sebagai tujuan keempatbelas. Sedangkan tujuan kelimabelas adalah melindungi, memulihkan kembalidan memajukan penggunaan ekosistem-ekosistem bumi, mengelola hutan secara berkelanjutan, menggempur penggurunan, menghentikan dan mengembalikan daratan yang terdegradasi, dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati.

Dua tujuan terakhir berbicara tentang upaya memajukan kehidupan bermasyarakat yang damai dan inklusif bagi pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses bagi keadilan untuk semua orang dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel, dan inlklusif pada semua level (tujuan 16); dan tujuan yang ketujuhbelas menekankan perlunya “memperkuat cara-cara penjabaran dan merevitaliasi kerekanan (partnership) bagi pembangunan berkelanjutan.

Kemanusiaan dan Ibu Bumi

Ketujuhbelas tujuan dengan targetnya masing-masing akan merangsang tindakan-tindakan nyata selama 15 tahun mendatang dalam bidang-bidang yang amat penting bagi kemanusiaan dan ibu bumi.

Pertama, tentang manusia, PBB menyatakan bahwa semua negara anggota berketetapan untuk mengakhiri kemiskinan dan kelaparan dalam segala bentuk dan dimensinya dan menjamin bahwa semua manusia dapat memenuhi potensinya di dalam martabat dan kesetaraan dan di dalam lingkungan hidup yang sehat.

Kedua, tentang ibu bumi, deklarasi ini menyatakan bahwa PBB berketetapan untuk melindungi planet bumi dari degradasi, termasuk melalui konsumsi dan produksi berkelanjutan, seraya mengelola sumber-sumber dayanya secara berkelanjutan dan mengambil tindakan mendesak untuk menghadapi masalah perubahan iklim, sehingga bisa menopang kebutuhan generasi sekarang dan generasi mendatang.

Kemakmuran bagi semua manusia juga disebutkan sebagai unsur penting yang harus dicapai melalui SDGs dan bahwa kemajuan ekonomi, sosial dan teknologi mesti terjadi selaras alam.

Selain itu, PBB bertekad membangun masyarakat dunia yang damai, adil dan inklusif yang bebas dari ketakutan dan kekerasan.  PBB yakin tidak akan ada pembangunan berkelanjutan tanpa damai dan tak ada damai tanpa pembangunan berkelanjutan.

Akhirnya, PBB bertekad memobilisasi cara-cara yang dibutuhkan untuk menjabarkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan melalui revitaliasi kerekanan global (global partnership), yang didasarkan pada penguatan spirit solidaritas global dengan secarak husus memusatkan perhatian pada kebutuhan-kebutuhan mereka yang paling miskin dan paling rawan dan tentu saja dengan peran serta semua negara, semua pemangku kepentingan dan semua orang.

Pertanyaannya, apakah kita siap untuk itu?  SDGs dirancang untuk melibatkan semua dan bagi kepentingan semua. Mari kita sambut dan ambil bagian di dalamnya, agar cita-cita masyarakat manusi bermartabat di tahun 2030 bisa terwujud.*** (Flores Pos, 1 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s