Romo Frans Amanue: Sikap Bupati Yance Kampungan

  • Menunjuk-nunjuk Romo Frans di Pengadilan Negeri Lewoleba

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Sikap Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur saat keluar dari ruang sidang Pengadilan Negeri Lewoleba yang langsung menunjuk dan mengata-ngatai Romo Frans Amanue merupakan suatu sikap kampungan. Hal ini disampaikan Romo Frans menanggapi sikap Bupati Yentji Sunur tersebut.

Dalam sidang di PN itu, Bupati Yentji Sunur  hadir sebagai saksi pelapor dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen permohonan uji pendapat DPRD Lembata atas dugaan pelanggaran peraturan perundang-undangan yang dilakukan Bupati Yentji Sunur dengan terdakwa Bediona Philipus, pad Selasa (15/9). Disaksikan Flores Pos, Bupati Yentji Sunur terlihat emosi ketika Akhmad Bumi selaku kuasa hukum terdakwa menanyakan soal dugaan pemerasan terhadap kontraktor yang dilakukan saksi pelapor.

Usai pemeriksaan, Ketua Majelis Hakim I Gusti N.P. Atmaja mempersilakan saksi pelapor Bupati Yentji Sunur untuk kembali ke belakang. Bupati Yentji Sunur dengan sopan berdiri dan menyalami satu per satu majelis hakim, kemudian menyalami terdakwa dan penasihat hukum serta Jaksa Penuntut Umum. Setelah itu, bupati keluar dari ruang sidang melalui pintu samping bagian Selatan. Di pintu samping tersebut, ada wartawan, polisi dan pengunjung lainnya serta Romo Frans Amanue dan Alex Murin yang berdiri di dekat jendela ruang sidang.

Bupat, entah mengapa, ketika melihat Romo Frans Amanue dan Alex Murin, langsung menunjuk ke arah Romo Frans dengan mengatakan “Kau yang membuat banyak perkara di Lembata”. Pernyataan Bupati Yance ini tentu mengagetkan karena Romo Frans saat itu tidak melakukan apa pun. Mendengar pernyataan tersebut, Romo Frans dengan santai mengatakan dengan nada tanya, “yang membuat banyak kasus di Lembata ini sebenarnya siapa. Yang duduk dalam ruang sidang tadi itu siapa?”

Mendengar keributan tersebut, pengunjung datang dan Bupati Yentji Sunur dikawal beberapa orang untuk masuk kembali ke dalam ruang sidang. Raut muka Bupati Yance terlihat merah dan tegang seperti ketakutan. Yance Sunur dibawa ke dalam ruang sidang. Hasan Werang, salah seorang kontrakto, menjaga dan menyuruh bupati masuk dalam ruang sidang.

Melihat keributan itu, Aci Ona dan Wang Sunur, saudari dari Yance Sunur, tidak terima. Mereka berteriak. Bupati pun keluar dari gedung pengadilan dikawal oleh polisi dan anggota keluarga. Tampak di belakang Bupati, Anton Gelat (mantan anggota DPRD Lembata), Kasat Polisi Pamong Praja Kanis Making. Sementara beberapa orang menjaga Aci Ona serta Wang Sunur, dan meminta mereka untuk tenang sehingga tidak memacing emosi massa.

Sampai di depan gedung PN, Alex Murin memeluk Bupati Lembata, namun keluarga dan pendukungnya tidak terima dan melarang Alex Murin untuk memeluk bupati. Sementara itu, Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L), sedang berorasi dari luar halaman kantor PN. Bupati langsung masuk ke dalam mobil dan polisi melarang mobil bupati melewati pintu gerbang bagian selatan di mana para FP2L sedang berorasi. Bupati dan keluarga serta pendukungnya, dengan beberapa mobil lainnya, keluar melalui pintu gerbang bagian utara.

Romo Frans Amanue mengatakan, sikap Bupati Lembata itu merupakan sikap kampungan. Karena itu. Romo Frans tidak meladeni sikap kampung tersebut.

Romo Frans juga mengatakan, sikap Bupati Yance tersebut sekelas dengan sopirnya yang pernah mencegat dirinya terkait dengan kasus pembunuhan Lorens Wadu. Sikap bupati ini menjadi pembicaraan di kalangan mama-mama pedagang ikan yang bergabung bersama FP2L melakukan aksi dan dukungan terhadap PN Lewoleba untuk menuntaskan kasus dugaan pemalsuan dokumen permohonan uji pendapat DPRD tersebut dengan jujur dan adil.*** (Flores Pos, Kamis, 17 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s