Penegak Hukum Lindungi Bupati Lembata

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Lembaga penegak hukum sebagai pilar utama penegakan hukum di Lembata, melindungi Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur. Penegakan hukum di Lembata tumpul ke atas, tajam ke bawa. Hukum di Lembata benar-benar di bawah genggaman dan cengkraman Bupati Sunur sehingga banyak kasus yang melibatkan bupati dan kroni-kroninya didiamkan begitu saja.

Hal ini mengemuka saat orasi dan dialog dengan Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) dengan Kejaksaan Negeri Lewoleba pada Senin (14/9).  FP2L melakukan aksi demonstrasi di Kantor Kejakasaan Negeri Lewoleba berkaitan dengan banyak kekacauan hukum atau kondisi lembaga penegakan hukum di Lembata yang tidak menunjukkan jati dirinya sebagai pilar utama penegakan hukum, keadilan dan kebenaran.

Pater Vande Raring SVD dalam orasinya mengatakan, mereka datang ke kantor Kejaksaan Negeri Lewoleba bukan untuk mengganggu melainkan mencari kebenaran dan kedialan. Pater Vande mengatakan, mereka yang datang untuk mencari dan memperjuangkan kebenaran dan keadilan bukan manusia biadab, melainkan manusia beradab.

Karena itu, lanjut Pater Vande Raring, mereka minta agar “jaksa mengusut secara tuntas kasus kebiadaban agar kita menjadi manusia beradab. Kasus pembunuhan Lorens Wadu sampai sekarang tidak jelas. Karena itu, penegak hukum sebagai pilar manusia beradab menegakkan kebenaran dan keadilan di bumi Lembata. Sebelum dunia ini khiamat kita tak henti-hentinya memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Dan tidak ada kata lain selain lawan terhadap semua tindakan kebiadaan termasuk kasus pembunuhan Lorens Wadu”.

Pater Vande yang adalah anggota JPIC SVD Ende dan putra Lembata ini mempertanyakan keputusan penegak hukum perihal para tersangka kasus pembunuhan Lorens Wadu seperti Tolis Ruing dan Bence Ruing yang dibiarkan berkeliaran di Lembata. Sementara mereka yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu justru ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan pemfitnahan.

Pater Vande mengatakan, dirinya siap diproses hukum dengan tuduhan pemfitnahan, “yang penting selesaikan dulu kasus pembunuhan Lorens Wadu. Kalau penegak hukum mengatakan Tolis Ruing dan Bence Ruing dan tersangka lainnya bukan pembunuh Lorens Wadu, maka mereka harus siap diproses secara hukum”.

Lebih lanjut, Pater Vande mengatakan, Uga Uran yang memberikan kesaksian yang menonton video rekaman yang diperlihatkan oleh Irwan Paukuma, di mana ada empat orang yang sedang menggotong seseorang yang dibungkus dengan kain di rumah jabatan bupati, justru saat ini ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Lembata dengan tuduhan melakukan pemfitnahan. Empat orang yang menggontong mayat di rumah jabatan, dua di antaranya Omy Wuwur dan polisi Heryansah yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Lembata dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu.

“Kalau Bupati Sunur melaporkan kasus misalnya pemitnahan atau pencemaran nama baiknya, aparat penegak hukum begitu cepat meresponsnya. Namun kalau masyarakat kecil yang melaporkan kasus terkait keterlibatan orang besar di Lembata, maka prosesnya sangat lambat dan lama. Ada perbedaan yang tajam penanganan kasus hukum di Lembata. Hukum di Lembata ini tumpul ke atas tajam ke bawah,” ujarnya.

Kasus proyek kesenangan Bupati Sunur yang mengakibatkan bocah berusia 12 tahun, Alfons Sita, meninggal dunia, Polres Lembata sudah menetapkan Kepala Dinas Parwisata Kabupaten Lembata, Longginus Lega sebagai tersangka, namun sampai sekarang didiamkan begitu saja. Pater Vande meminta Kejaksaan Negeri Lewoleba untuk tidak bekerja hanya demi memenuhi pesan sponsor atau orang-orang tertentu.

Sementara itu, saat dialog dengan pihak Kejaksaan Negeri Lewoleba, Lukas Onek Narek dan Bernadus Sesa Manuk mengatakan, ada kesan jangan-jangan penegak hukum di Lembata termasuk Kejaksaan Negeri Lewoleba sedang melindungi Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur.

Kasi Pidus  I Nengah Andika mengatakan, pihak kejaksaan bekerja secara profesional. Dengan kekurangan jaksa, mereka selama ini siang dan malam bekerja untuk menuntaskan beberapa kasus termasuk kasus pembunuhan Lorens Wadu dan kasus lainnya.

“Jaksa tidak pernah bekerja melindungi kepentingan bupati. Jaksa benar-benar netral. Berkas kasus kematian bocah Alfons Sita dikembalikan kepada penyidik kepolisian karena tidak cukup bukti. Sementara untuk kasus proyek Weilain, jaksa sedang dalam proses penyelidikan.

“Saat ini proyek Weilain yang menghabiskan dana Rp20 miliar, masih dalam tahap pemeliharaan. Jika ada tindak pidana yang merugikan keuangan negara dalam proyek Weilain, jaksa tidak segan-segan memprosesnya secara hukum. Sementara untuk proyek bencana alam yakni peningkatan jalan di Kedang, ditangani oleh penyidik Polres Lembata.*** (Flores Pos, Rabu, 16 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s