Romo Frans Amanue: Bupati Yance Sunur Pengecut

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dituding sebagai pengecut. Bupati Yance Sunur hanya berani tukang lapor orang tapi ketika harus tampil di Pengadilan Negeri Lembata untuk membuktikan laporannya, tidak mau hadir dengan berbagai alasan. Sementara masa yang datang menyaksikan jalannya sidang pemeriksaan saksi pada Selasa (8/9) berteriak “tangkap Yance Sunur”.

Hal ini dikatakan Romo Frans Amanue usai menyaksikan jalannya sidang pemeriksaan saksi anggota DPRD Lembata Petrus Gero. Dalam sidang itu juga, alasan JPU menyampaikan alasan soal ketidakhadiran Bupati Lembata Yance Sunur sebagai saksi pelapor dalam sidang kasus dugaan pemalsuan dokumen usulan uji pendapat DPRD Lembata ke MA atas dugaan pelanggaran peraturan perundangan-undangan yang dilakukan Bupati Lembata Yance Sunur dengan terdakwa anggota DPRD Lembata Bediona Philipus. Sidang digelar, Selasa (8/9).

Romo Frans mengatakan, Bupati Yance Sunur sudah tiga kali tidak hadir dalam sidang dengan terdakwa Bediona Philipus. Bupati Yance Sunur, kata Romo Frans Amanue, tahu sedang memperkarakan orang mengapa harus “lari-lari” dengan melakukan perjalanan dinas keluar daerah.

Untuk sidang pada Selasa (8/9) jaksa penuntut umum mengudang empat saksi yakni Bupati Lembata Eliaser Yenji Sunur sebagai saksi pelapor, Feliacianus Chorpus , Hasan Baha dan Petrus Gero. Usai pemeriksaan Petrus Gero, dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi lain. Namun sayang tiga saksi lain tidak hadir. JPU Januarius L. Bolitobi, kepada majelis hakim, mengataka, saksi pelapor Sunur sudah dipanggil melalui surat namun berdasarkan klarifikasi melalui telepon  Bupati Yance Sunur sedang berada di luar daerah.

Akhmad Bumi penasihat hukum terdakwa meminta majelis hakim agar memerintahkan JPU untuk memanggil secara paksa saksi Yance Sunur. Ketua majelis hakim, I Gusti N.P. Atmaja  minta jaksa untuk menunjukkan surat panggilan terhadap para saksi termasuk saksi pelapor.  Bolitobi maju ke meja ketua majelis hakim untuk memperlihatkan surat panggilan. Setelah memeriksa surat panggilan terhadap Yance Sunur yang disaksikan penasihat hukum terdakwa, ketua majelis hakim mengatakan bahwa surat panggilan terhadap saksi pelapor Eliaser Yentji Sunur tidak sah karena tidak ada tanda tangan penerima surat panggilan.

Ketua majelis hakim minta jaksa dalam setiap kali membuat surat panggilan terhadap saksi harus ada tanda tangan orang yang dipanggil sebagai bukti yang bersangkutan sudah menerima surat panggilan tersebut. Para pengunjung sidang yang ada di ruang sidang pun berteriak “tangkap bupati itu”, “Panggil paksa Yance Sunur”. Sidang akan dilanjutkan pada Selasa (15/9). Dan diperkirakan pengunjung akan lebih banyak yang hadir dari dalam Kota Lewoleba dan kecamatan luar kota.

Ketua majelis hakim memuji terdakwa Bediona Philipus yang selalu tepat waktu untuk hadiri sidang. “Terdakwa selalu on time untuk hadir dalam persidangan, pertahankan itu,” katanya.

Ketika ketua majelis hakim menyampaikan on time kepada terdakwa, para pengunjung di ruang sidang berteriak “terdakwa on time, bupati on line terus”. Para pengunjung pulang dengan kecewa karena bupati sudah tiga kali tidak hadir dalam sidang. Padahal saksi pelapor atau saksi korban mesti diperiksa pertama dalam persidangan sebelum saksi-saksi lain memberikan keterangan di persidangan.

Romo Frans Amanue mengatakan, jaksa wajib memanggil orang atau saksi secara cermat dan memastikan bahwa panggilannya diterima. Jaksa mestinya sudah hafal betul bahwa bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur sebagai saksi pelapor sangat unik yakni sering keluar daerah.

“Kita patut curiga, jangan-jangan jaksa ada permainan. Kalau ada permainan ujung-jungnya, uang,” katanya.

Hakim juga, kata Romo Frans Amanue, terlihat sangat toleran dengan sikap Bupati Sunur sebagai saksi pelapor yang berkali-kali tidak hadir. “Mengapa hakim tidak menegur keras jaksa, kita patut curiga hakim juga sedang bermain di sini.”*** (Flores Pos, Kamis, 10 September 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s