Gerilya Politik

Oleh Isidorus Lilijawa

Isidorus Lilijawa

Isidorus Lilijawa, Staf Ahli DPR RI

Tahun 2015 ini, masyarakat NTT di 9 kabupaten akan mengadakan perhelatan demokrasi pilkada. Pada momen-momen seperti ini, rakyat betul-betul ditakhtakan sebagai ‘tuan besar’ yang harus “disembah”, didatangi, disanjung, dilayani, dihibur, diberikan janji-janji dan disumbangi. Daya tawar politik rakyat begitu besar, sampai-sampai ke pelosok-pelosok wilayahnya pun seorang calon pemimpin itu berani pergi dan menawarkan harga ketokohannya. Tidak saja rakyat. Para calon pemimpin yang bersaing dalam pilkada ini pun pandai-panda memanfaatkan momen, menerapkan strategi taktis mendulang dukungan rakyat, mulai rajin turba bertemu rakyat. Kedekatan dengan rakyat sebagai konstituen betul-betul dirapatkan jaraknya. Saya menyebut masa-masa jelang pilkada sebagai masa-masa gerilya politik.

Aneka Cara

Akhir-akhir ini, jelang pilkada, rakyat sering dikunjungi tamu-tamu istimewa. Ada wajah lama, ada wajah baru. Ada juga putra daerah yang lama bertugas di daerah lain, sekarang sudah sering mampir ke kampung halaman sendiri. Kedatangan mereka tidak sendirian. Selain ada rombongan, katakan sebagai tim sukses, kedatangan mereka juga selalu disertai ‘sesuatu’ untuk rakyat.

Momen kehadiran mereka pun beragam dan dengan berbagai cara. Ada yang mengisi waktu reses, daripada duduk-duduk di kantor lebih baik pulang kampung, kunjungi konstituen di daerah-daerah. Selain dapat udara segar di pojok-pojok kampung, juga menunjukkan tampang kepada rakyat agar dikenal dan tentu saja diharapkan untuk disayangi saat pilkada.

Yang masih aktif sebagai pejabat pemerintahan dan politisi, volume kunjungan kerja ke daerah-daerah itu meningkat dan terkesan padat. Asalkan ada kesempatan. Bahkan undangan-undangan yang membutuhkan kehadiran mereka, direspons dengan sangat sigap. Mulai dengan acara peresmian gedung barulah, pesta gerejalah, wisudalah, atau pesta adatlah. Semuanya rugi kalau dilewatkan begitu saja. Karena pada saat-saat itu ada kerumunan massa, dan ini kesempatan terbaik untuk menjual program dan menawarkan diri, walau pandai-pandai membungkusnya dengan berbagai cara.

Kedatangan calon-calon pemimpin ini biasanya mengendarai kendaraan parpolnya. Maka konsolidasi-konsolidasi di tingat anak cabang, cabang, ranting, anak ranting marak digalakkan. Mereka juga aktif membangun diskusi dengan kelompok-kelompok strategis yang mempunyai akses cukup besar kepada rakyat, juga diskusi dengan berbagai organisasi yang pernah mendewasakannya. Rupa-rupa momen, rupa-rupa cara digunakan. Sangat menarik bila kita amati perilaku para calon pemimpin ini akhir-akhir ini.

Ada yang datang seperti sinterklas, bagi-bagi sumbangan dengan judul kepedulian sosial seperti obat, beras, dan lain-lain. Ada juga yang datang, tetapi diam-diam, tidak memberikan apa-apa, hanya menawarkan janji-janji dan posisi-posisi tertentu kalau nantinya ia sukses. Ada pula yang datang dengan kerendahan hati, mengatakan apa adanya. Tidak ada apa-apanya, hanya komitmen untuk mengabdi. Tetapi, ujung-ujungnya tetap ada sesuatu yang dititipkan pada rakyat.

Apa arti semuanya ini? Saya menyebut masa-masa ini adalah masa-masa gerilya politik. Setiap calon pemimpin berkejaran dengan waktu, bersaing dengan sesama calon pemimpin lainnya merebut hati rakyat. Saya menggunakan kata merebut, karena untuk menaklukkan hati raykat, mereka bisa menggunakan beberapa cara seperti merebut dengan melumpuhkannya. Pelumpuhan hati rakyat terjadi ketika aksi saling tatap dengan rakyat di mana saja tidak membangun kesadaran politik rakyat. Rakyat justru dijejali dengan janji-janji manis, dilumpuhkan nalar kritisnya dengan bantuan-bantuan kemanusiaan. Merebut hati rakyat juga dibuat dengan membuka selubung-selubung pekat yang membuat rakyat tidak mengerti hak-hak politiknya. Ini berarti terjadi aksi konsientisasi, penyadaran hak-hak politik rakyat.

Bergerilya politik seperti sekarang ini membutuhkan kejelian dan kecermatan. Karena tak ada musuh. Malah rakyat dijadikan sahabat, diagung-agungkan. Toh saya tetap berpikir bahwa dalam konteks gerilya ini, setiap calon pemimpin ingin keluar sebagai pemenang. Dan untuk itulah, mesti ada yang dikalahkan. Siapa yang mau dikalahkan? Hemat saya, yang mau dikalahkan adalah daya kritis rakyat, kejelian rakyat, hak-hak politik rakyat. Kepolosan orang-orang akar rumput akan dimanfaatkan oleh setiap calon pemimpin untuk menaklukkannya. Untuk itu, rakyat mesti terjaga. Rakyat tidak boleh terlelap dalam aksi gerilya politik ini. Mesti ada perlawanan dari rakyat. Apa wujudnya? Jangan mudah terbuai iming-iming, gairahkan daya kritis, nyalakan pelita nurani.

Rakyat Jangan Tidur

Dalam situasi ‘perang’ gerilya politik ini, yang bisa dibuat rakyat agar tidak terlelap dalam jargon-jargon politik para calon pemimpin, tidak nyenyak dalam karung-karung beras dan dos-dos obat sumbangan, tidak terbuai dalam ‘ketokohan’ mereka adalah dengan menerapkan standar etika politik.

Perkembangan etis para politisi, dengan demikian, dapat dianalisis, ditakar dengan menggunakan kriteria-kriteria ini. Rakyat sendiri bisa menilai orang-orang yang telah mereka pilih dalam berbagai perhelatan demokrasi. Rakyat bisa menggunakannya untuk menilai siapa saja yang datang ‘menjual’ program dan tampangnya demi pilkada nanti.

Pertama, materialisme praktis. Ciri-ciri para pemimpin dan calon pemimpin model ini adalah mereka yang selalu menyebut-nyebut nama Tuhan dalam setiap kunjungannya. Menampilkan diri betul-betul sebagai orang yang beragama dan begitu peduli dengan urusan-urusan agama. Mereka tak segan-segan menyumbang sesuatu untuk gereja, untuk mesjid. Mereka selalu berada dan dekat dengan lingkaran kaum agamawan seperti di rumah-rumah biara, pesantren-pesantren. Rakyat jangan cepat percaya. Kenapa? Sebab dalam kenyataan sehari-hari tak jarang mereka hidup etsi Deus non daretur (Seolah-olah Allah memang tidak ada).

Kedua, pragmatisme. Para pemimpin dan calon pemimpin model ini biasanya pintar mengucapkan slogan-slogan. Pandai membangkitkan gairah dan membakar semangat massa. Mereka pintar bicara dan bisa membuat rakyat senang sesaat. Tidak hanya bicara, mereka juga memberikan sesuatu yang membuat rakyat melonjak kegirangan. Jangan cepat percaya. Karena dalam kenyataan, mereka cenderung menggunakan jalan pintas hanya untuk urusan perut dan keluarganya sendiri, tanpa ingat sumpah jabatan dan janji kepada rakyat.

Ketiga, oportunisme. Para pemimpin dan calon pemimpin model ini biasanya pintar mengobral janji-janji. Mereka bisa membuat rakyat kenyang makan janji. Di sana janji, di sini janji. Rakyat jangan lupa bahwa orang yang suka obral janji, biasanya adalah orang yang paling tak menepati janji. Lalu mereka mencari alasan untuk meredam amarah rakyat. Tetapi, kuasa sudah ada dalam genggamannya. Karena itu, hati-hati menjatuhkan pilihan pada orang-orang model ini. Mereka bisa memberikan sumbangan begitu banyak dengan pertimbangan setelah menjadi pemimpin, mereka akan melakukan korupsi untuk tutup utang-utangnya saat pergi merayu rakyat.

Keempat, formalisme. Orang-orang model ini biasanya santun, tampil penuh percaya diri, tampil memukau seperti tokoh panutan. Dalam Kitab Suci Kristen, mereka ini bertipe seperti orang Farisi. Mereka suka berbuat baik supaya dilihat orang. Hati-hatilah memilih orang-orang bertipe ini. Tak segan-segan, mereka bisa menjual rakyat demi kepentingan pribadinya. Mereka seperti kubur yang bagian luarnya dilabur putih, tetapi di dalamnya penuh tulang-belulang.

Kelima, positivisme hukum. Orang-orang model ini pandai memanfaatkan celah-celah hukum. Walau sudah terbukti bersalah, tetapi karena mempunyai banyak uang dan bisa membeli aparat hukum, mereka bisa bebas dari tuntutan hukum. Mereka akan berlaku seperti orang-orang yang bersih. Padahal jejak-jejak masa lalu mereka berbicara cukup jelas tentang siapa dirinya. Rakyat jangan terbuai dengan penampilan mereka saat ini. Perlu melihat, membaca, mendengar tentang sesuatu berkaitan dengan masa lalu mereka. Pertobatan boleh ada, tetapi pertobatan yang tidak jujur hanyalah topeng untuk mengulang jejak masa lalu.

Puncak pilkada masih beberapa bulan ke depan. Pilkada di luar 9 kabupaten juga masih cukup lama. Namun, perang gerilya politik telah dimulai saat sekarang. Rakyat mesti menyadari hal ini. Dirinya, keluarganya, kampungnya, daerahnya tengah menjadi medan perang gerilya politik calon-calon pemimpin dengan kendaraan parpol yang berbeda-beda maupun jalur perseorangan. Jangan bingung walau kedatangan mereka dan pembicaraan mereka kerap membingungkan.

Pasang mata, pasang telinga, buka hati, buka kepala menyikapi setiap kunjungan tamu-tamu istimewa itu. Analisislah dengan kriteria di atas. Berusahalah agar tidak kalah sebelum bertempur di hari ”H” (pilkada nanti). Selamat berjaga, kiranya tidak tidur lelap jelang pilkada.*** (Flores Pos, 25 Agustus 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s