Kita Seharusnya Berani Berhenti Berbohong

Seminar

Seminar: (kiri-kanan) Pemateri I Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno SJ, Romo Dr. Mathias Daven Pr (moderator), dan Pemateri II Pater Dr. John Mansford Prior SVD, dalam seminar nasional bertajuk “Tinjauan Etis tentang Penyelesaian Kasus Tahun 1965-1966” di Aula Santo Thomas Aquinas STFK Ledalero, Maumere, Sabtu (19/9).

  • Seminar Peringatan 50 Tahun Pembantaian Massal Tahun 1965-1966

Oleh Kristo Suhardi

Lukisan Franz Magnis Suseno

Franz Magnis Suseno, dalam lukisan karya mahasiswa STFK Ledalero, Frater Ronny Hikon SVD.

Ledalero, Flores Pos — Selama 50 tahun, peristiwa 1 Oktober 1965 hingga 1966 yang merupakan peristiwa paling menentukan dan paling traumatik dalam sejarah Indonesia tidak dapat dibicarakan secara terbuka. Tetapi kita harus membicarakannya dengan jujur. Kita seharusnya berani berhenti berbohong. Berani mengakui bahwa selama 50 tahun kita dibohongi, termasuk membongkar kebohongan kotor dalam film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang selama puluhan tahun meracuni hati bangsa.

Hal ini diungkapkan Profesor Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Drikarya Jakarta Romo Franz Magnis Suseno SJ dalam seminar nasional bertajuk “Tinjauan Etis tentang Penyelesaian Kasus Tahun 1965-1966” di Aula Santo Thomas Aquinas (STFK) Ledalero, Maumere, Sabtu (19/9). Romo Franz yang mengupas tema “Sesudah 50 Tahun, Kita Harus Berani Menghadapi Apa yang Terjadi” menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak dapat untuk selamanya lari dari sejarahnya.

Romo Franz mengatakan, peristiwa 1965-1966 merupakan salah satu kejahatan genosidal paling mengerikan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM) pada paruh kedua abad XX. Pembantaian massal yang terjadi, bukan pengeroyokan spontan oleh masyarakat yang emosional, melainkan dilakukan dengan kepala dingin, dengan persiapan administratif. Pertanyaan adalah bagaimana kekejaman di luar segala ukuran terhadap bangsa kita sendiri menjadi mungkin?

“Sekarang, 50 tahun setelah peristiwa itu, kita seharusnya berani berhenti berbohong. Kita betul-betul dituntut kebesaran hati untuk mengakui bahwa reaksi pasca-G30S sama sekali ke luar rel. Itu tuntutan keadilan paling dasar. Kalau akhirnya, kita berani mengakui kengerian pelanggaran HAM mereka yang dicap ‘terlibat’ sesudah G30S, pengakuan itu tidak berarti PKI harus direhabilitasi. Sebaliknya, kalau banyak dari kita memandang PKI sebagai musuh yang dibenci dan ditakuti, maka itu tetap tidak membenarkan bahwa jutaan masyarakat yang tertarik pada PKI secara sistematik dibunuh dan dihancurkan,” kata Romo Franz.

Romo Franz mengatakan, langkah pertama yang harus kita buat adalah pengakuan para kurban pelanggaran kemanusiaan mengerikan pasca-G30S itu sebagai kurban. Mereka yang dibunuh tanpa perkara pengadilan adalah kurban. Perlu diakui bahwa stigmatisasi dan penindakan terhadap mereka yang dicap ‘terlibat’ merupakan ketidakadilan besar. Kemanusiaan dan kewarganegaraan mereka perlu diakui kembali sepenuhnya.

“Pengakuan kurban sebagai kurban hanya jujur kalau mereka, dalam batas-batas kemungkinan, direhabilitasi dan diterimakan satu ganti rugi, dan kepada mereka yang terpaksa melarikan diri ke luar negeri perlu ditawarkan kemungkinan untuk kembali ke tanah air tanpa kesulitan birokratis. Sudah sangat mendesak agar para kurban mendapat keadilan,” kata Franz Magnis.

Setelah pengakuan para kurban ini, kata Romo Franz, kita baru boleh minta maaf. Kita bersama-sama harus bertekad untuk tidak pernah mengizinkan lagi sekelompok orang dikucilkan dari solidaritas bangsa, lalu dibiarkan menjadi objek kebencian, kekerasan dan barangkali pembunuhan hanya karena perbedaan kepercayaan atau keyakinan politiknya.

Romo Franz secara khusus mengapresiasi STFK Ledalero yang telah berani menghadapi berbagai tekanan ketika mengangkat tema ini. Seminar ini, kata Romo Franz, merupakan acara pertama yang mengupas kisah tragis 50 tahun lalu itu. Seperti Ledalero, kata Romo Franz, kita harus berani mengungkap sesuatu yang buruk di masa lampau dan menemukan kebenaran di dalamnya.

John Mansford Prior

John Mansford Prior

Yang Harus Dibuat

Pemateri kedua Dosen Pascasarjana STFK Ledalero Pater Dr. John Mansford Prior SVD dalam makalahnya berjudul “Masa Lalu Tak Pernah Mati, Bahkan Tak Pernah Berlalu” menghadirkan catatan seputar pembantaian terencana di Maumere periode Februari hinga April tahun 1965-1966. Pater John mengetengahkan fakta pembentukan kekuasaan politik etno-religius kala itu dan aktor-aktor kunci dalam tragedi berdarah tersebut.

“Pembantaian menteror massa rakyat yang tunduk dan sekaligus menjamin loyalitas anak-anak muda dari golongan menengah. Lihat saja para pelaku dan anak-anak cucu mereka, masih menjalankan roda pemerintahan secara terhormat sampai sekarang,” kata Pater John.

Pater John juga mengatakan bahwa seluruh peristiwa dahsyat seputar kisah pembantaian terencana ini terhapus dari ingatan kolektif kita. Karena itu, ia menawarkan empat langkah yang mesti dibuat.

Pertama, kita mesti membuka kuburan-kuburan massal, mengidentifikasi tulang-tulang para korban dan menyerahkannya kembali kepada keluarganya masing-masing untuk dimakamkan secara terhormat sesuai dengan agamanya, yang mayoritasnya beragama Katolik.

Kedua, pemerintah harus minta maaf secara resmi dan sesudah itu, siap membayar kompensasi kepada keluarga-keluarga korban, kompensasi bagi nyawa yang dirampas dan untuk harta yang dihancurkan.

Ketiga, bersama pemerintah dan tokoh semua agama di wilayah ini, kita perlu menetapkan hari peringatan yang ditetapkan bersama. Pada hari itu, atau pada hari Minggu dan hari Jumat berdekatan dengan tanggal itu, jemaat-jemaat beriman mengadakan acara doa dalam rumah ibadatnya masing-masing, mendoakan nyawa para korban serta keluarganya yang distigmatisasi selama ini.

Keempat, kita mesti membangun sebuah tugu peringatan di tengah kota Maumere, di atasnya ditulis semua nama korban yang dapat kita temukan. Di situ juga dipasang sebuah pernyataan yang isinya “Tak Boleh Terulang Lagi”. Di situ pula, pada hari peringatan yang sudah ditetapkan, tokoh-tokoh dari semua agama hadir bersama pemimpin militer dan organisasi-organisasi kaum muda untuk mohon ampun dari Tuhan dan dari sesama serta menyatakan tekad bersama bahwa pelecehan hak-hak asasi sesama manusia secara besar-besaran tak boleh kita ulangi lagi.

Antusias

Seminar yang dipandu Dosen Filsafat Pancasila Romo Dr. Mathias Daven ini dihadiri aparatur pemerintah, LSM, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh sejarah, perwakilan dari beberapa kampus dan sekolah-sekolah di Maumere, pimpinan dan staf Truk-F, dan segenap civitas akademika STFK Ledalero. Para peserta sangat antusias dalam berdiskusi selama seminar berlangsung.

Dosen Filsafat Politik STFK Ledalero Pater Yosef Keladu Koten SVD dalam sesi diskusi mengatakan, yang terjadi pada masa kegelapan tersebut, bukan hanya karena ada pembantaian massal tetapi juga penipuan massal. Penipuan massal ini tampak karena dokumen sejarah yang ditulis oleh para pemenang dengan mengabaikan para kurban.*** (Flores Pos, 21 September 2015)

Baca juga:

STFK Ledalero Akan Gelar Seminar Nasional

Mengakui Pelanggaran HAM 1965-1966

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s