Berisik, dari Jalan Raya dan Tenda Pesta hingga Rumah Ibadat

Oleh Juan Orong

Juan orong2

Juang Orong, Dosen STFK Ledalero, Maumere, Flores

Term “berisik” pada judul artikel ini sebanding dengan pengertiannya yang tercatat di dalam kamus, yakni ribut, ramai, dan hingar bingar. Walaupun NTT disebut khusus di dalam artikel ini, sesungguhnya persoalan berisik bersifat umum. Keributan dapat dijumpai di mana-mana. Semakin luas dan umum sebuah persoalan, tanggapan dan upaya pencarian solusi atasnya semakin mendesak. Tanpa bermaksud memonopoli dugaan penyebab persoalan berisik, hemat saya, kekeliruan serius terhadap batasan toleransi menjadi akar terus langgengnya persoalan tersebut.

Problematik Batasan Toleransi

Batasan toleransi yang berarti sikap membiarkan, menghargai, dan lapang dada terhadap perbedaan serta merelakan orang lain melakukan sesuatu, senantiasa problematik. Di balik upaya menaruh respek, selalu terdapat hasrat melabrak dominasi perwujudan diri yang terkesan dibuat berlebihan dan mengganggu rasa aman. Sebut saja, kita terkadang tidak sabar untuk pergi ke jalan raya dan menghukum, atau minimal meneriaki para pengendara yang suka membunyikan mesin kendaraan bermotor mereka secara keras. Atau, ketika tetangga kita mengadakan pesta, kita barangkali ingin mendatangi tenda pesta untuk melabrak tuan pesta yang menyetel musik terlalu keras.

Di NTT pada umumnya, terhadap sebuah hajatan, orang membunyikan musik selama berhari-hari. Sudah tentu, bukan hanya orang asing yang merasakan hal ini sebagai keganjilan, tak sedikit orang NTT sendiri juga memandangnya demikian. Juga merupakan sebuah keanehan teramat serius memikirkan bahwa pada daerah tertentu di NTT, kesemarakan sebuah pesta ditentukan oleh jumlah salon yang disiapkan dan seberapa keras musik diputar.

Kita temukan di dalam praktik pesta seperti ini, bukan hanya keganjilan, melainkan kengerian. Kita tentu berkeberatan untuk mengamini pesta semacam itu sebagai sebuah formula kebudayaan. Kita sepakat menamai bentuk pernyataan emosi, keinginan, hasrat, termasuk pikiran, yang tidak menggambarkan perilaku positif dan berbobot sebagai pengingkaran nilai kultur.

Pada umumnya, kesanggupan untuk menerima bunyi musik yang terlalu keras terikat pada batasan-batasan yang wajar. Artinya, jika keributan yang muncul dari tenda pesta terjadi melampaui batas toleransi, orang memiliki alasan untuk bertindak mengubah keadaan. Cukup sering, karena tetangga masih sanggup bersikap toleran, maka pesta, termasuk keributan yang timbul darinya merupakan bagian dari konsekuensi hidup bermasyarakat dan bertentangga;  kendatipun toleransi seperti itu dibayar dengan risiko, – katakanlah – tidak bisa tidur.

Masih beruntung, sejauh ini, orang jarang melakukan tindakan anarkis-destruktif terhadap pelbagai keributan, antara lain seperti terungkap di atas. Kendatipun demikian, reaksi yang wajar dan manusiawi, di mana, orang mencaci-maki di dalam hati, merupakan sesuatu yang tidak dapat dimungkiri.

Terjebak Perilaku Intoleran dan Diskriminatif

Dalam kasus yang sedikit lebih serius, selama beberapa hari saya berada di Ende; sebuah kota di Flores dengan jumlah umat Islam cukup banyak, secara sangat sadar saya merasakan ketidaknyamanan mendengarkan bunyi adzan dari entah berapa banyak masjid dan mushola (editor: musala – leksikal) di sekitar tempat saya inap. Saya insaf bahwa konsep paling moderat dari toleransi ialah sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok agama yang berbeda. Namun, dalam rangka memberi ruang dan menghargai perbedaan, kita menemukan diri terjebak di dalam perilaku diskriminatif dan sikap intoleran; baik yang berasal dari dalam, maupun yang muncul dari luar diri. Atas nama toleransi, orang dengan secara leluasa melakukan apa saja, tanpa peduli terhadap risiko dari perbuatan yang acap kali justru menyinggung dan melukai sesama di sekitarnya.

Setiap kali saya mendengar bunyi shalat (editor: salat – leksikal) sebelum dan sesudah adzan, tahlil atau wirid atau doa dan mantra sebelum dan sesudah adzan, pengajian sebelum dan sesudah adzan, juga suara adzan itu sendiri, dalam batasan tertentu, dengan kemampuan untuk menimbang penuh bijak, menerima dengan santun, dan bermenung dalam keheningan serta doa, memang terkadang ada kegetaran yang menyelinap ke dalam kesadaran dan perasaan. Namun, cukup sering tatkala suara-suara itu dibunyikan secara berlebihan, hingga yang terdengar tidak lain daripada berisik yang memekakkan telinga, pikiran-pikiran nakal sering kali mengganggu relung kesadaran.

Setidaknya, ketika berisik itu telah melampaui batas toleransi, boleh jadi yang tercokol di dalam diri, dari mana sumber keributan itu muncul ialah persetan dengan warga yang ingin istirahat, persetan dengan warga yang tidak suka mendengar pengajian disetel keras-keras, persetan dengan anak-anak yang perlu konsentrasi belajar, persetan dengan rumah ibadat tetangga yang juga barangkali sedang dipakai untuk sembahyang, persetan dengan orang yang ingin zikir atau meditasi dalam kesunyian sebelum dan setelah shalat, persetan dengan kepentingan semua orang lain; para bayi dan mereka yang sedang sakit dan yang barangkali membutuhkan ketenangan.

Dalam segenap upaya menerima perbedaan sebagai kekayaan dan memahami beberapa pokok pikiran nakal di atas, saya merasa perlu untuk bertukar pikiran dengan satu dua sahabat muslimin dan muslimat yang relatif akrab. Agaknya mereka sepakat dengan substansi permenungan mengenai pentingnya menciptakan dan melanggengkan toleransi yang sehat. Agak lebih spesifik dan tanpa tedeng aling-aling, sahabat-sahabat tadi malahan mengatakan bahwa terhadap para pengurus masjid-masjid yang dianggap berisik perlu diberi tahu dalam percakapan yang terbuka tanpa menyinggung perasaan, supaya menyetel toa dan atau pengeras suara masjid sewajar mungkin. Menurut mereka, ruang dan peluang untuk menerima masukan selalu ada.

Janggal, Tetapi Wajar

Hanya menjadi soal, dalam rentang waktu tertentu orang bisa saja merasakan dan menemukan bentuk-bentuk praktik toleransi yang janggal, tetapi kejanggalan itu lama-kelamaan diterima sebagai yang normal. Warga pada awalnya mungkin terganggu, kemudian terbiasa, dan lama-kelamaan mengganggap itu wajar hingga akhirnya secara tak sadar mengikuti dan membela kebiasaan intoleran. Pola seperti ini setara dengan seseorang yang baru menjadi pegawai negeri sipil, yang baru masuk ke lingkungan penuh korupsi; awalnya mungkin risih dengan senior-senior yang korup, lalu menjadi terbiasa, dan lama-kelamaan ikut berlomba-lomba berkorupsi dan solider membela sesama koruptor.

Selain bertalian dengan menganggap wajar sesuatu yang janggal, perbincangan mengenai kasus berisik dan terutama batasan toleransi yang problematik, sudah tentu berkaitan dengan persoalan terselubung lain yang agaknya tidak cukup dibahas dalam beberapa kesempatan terbatas. Katakanlah, acap kali keributan merupakan fenomena yang dihubung-hubungkan dengan orang-orang yang secara sosial masih kolot, dan atau masih tergolong miskin secara ekonomis. Kendatipun keduanya memiliki kaitan seperti itu, semoga persoalan berisik, baik di jalan raya, tenda pesta, maupun di rumah ibadat, bukanlah sesuatu yang melekat secara karakteristik dalam diri kita.*** (Flores Pos, 15 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s