Spirit Glokalitas Pendidik Kompetitif

Oleh Maksimilianus Jemali

Lian Jemali

Maksimilianus Jemali, Dosen STKIP Ruteng, Koordinator Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan “Missio”

Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santo Paulus Ruteng kembali menggelar seremoni wisuda sarjana pendidikan pada Sabtu, 26 September 2015. Seremoni wisuda selalu menghadirkan apresiasi dan harapan. Kampus dan masyarakat mengapresiasi kerja keras wisudawan yang sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih gelar sarjana. Ada yang memperoleh nilai cum laude, sangat memuaskan, dan ada yang memuaskan.

Di sisi lain, kampus dan masyarakat juga menyematkan sejumlah harapan di pundak para wisudawan. Para wisudawan mesti mampu menjadi tulang punggung kemajuan dan peradaban, kesejahteraan dan kebaikan bersama. Mereka mesti merealisasikan prestasi akademiknya di tengah kehidupan nyata. Parameternya bukan lagi nilai yang tertera di atas kertas tetapi kerja nyata yang tampak dalam heroisme dan kerja keras.

Meraih prestasi cum laude di tengah masyarakat tidaklah mudah. Hal ini berangkat dari konteks kehidupan masyarakat yang kompleks dan plural. Kompleksitas dan pluralitas berangkat dari kondisi manusia yang sudah hidup dalam sebuah era yang disebut globalisasi. Globalisasi ditandai dengan akselerasi kemajuan di bidang informasi, komunikasi, dan transportasi. Pada era globalisasi ini, pertukaran informasi, mobilitas warga dunia begitu tinggi sehingga seolah-olah tidak ada limitasi antara negara yang satu dengan negara lainnya. Konsekuensinya terdapat tegangan antara spiritualitas dan postmodernitas, individualitas dan komunalitas, serta antara identitas dan  anonimitas. Dalam dominasi tegangan seperti itu, ikhtiar yang penuh orientasi konstruktif menjadi signifikan bahkan urgen.

Globalisasi juga ditandai oleh kompetisi sumber daya manusia. Bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang kompetitif akan mampu bertahan dan unggul. Hakikat positif kompetisi adalah transformasi dalam berbagai bidang kehidupan. Transformasi ini menyulut pada style (gaya hidup), cara berelasi, dan cara bereksistensi peserta didik.

Di tengah modernisasi sistem informasi dan teknologi, para pendidik perlu menyesuaikan pola pendidikan yang selaras zaman. Dengan itu, cara pendidik mendidik peserta didik tidak mubazir tetapi selalu aktual dan bisa membawa anak-anak kepada kehidupan yang lebih baik. Ada banyak kualifikasi yang bisa diprioritaskan. Misalnya, kritisme, profetisme, profesionalisme, dan kompetitif.

Globalisasi telah mempopulerkan teknologi komunikasi seperti handphone atau smartphone sebagai bagian dari hidup manusia yang telah merambah sampai ke perkampungan udik. Sedemikian penetratifnya sehingga teknologi ini dapat dikatakan sudah seperti pendamping hidup alternatif yang selalu menyertai ke mana saja manusia itu pergi. Ia begitu disembah karena seakan-akan memberikan kenyamanan, memuaskan kebutuhan – dahaga – tertentu. Teknologi bahkan telah menjadi objek berhala baru bagi masyarakat di abad ini. Teknologi komputer telah menawarkan begitu banyak kemudahan bagi manusia untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, orang begitu menyembah dan sangat mengandalkan teknologi ini.

Demikian juga teknologi internet yang menawarkan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi, memperoleh informasi yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi pada saat yang sama, ia juga ditakuti. Internet yang bebas hambatan juga dapat digunakan untuk transaksi kejahatan seperti penipuan, perjudian, prostitusi, penyebarluasan fitur-fitur pornografi, bahkan berbagai berita bohong. Teknologi telah memanjakan manusia, karena itu, ia begitu disembah atau diberhalakan, tetapi pada saat yang sama, teknologi juga berwajah menakutkan sehingga dapat dikatakan teknologi bermuka dua (Payong, 2012: 128-129).

Kendatipun kita hidup dalam era global-postmodern, nilai-nilai lokal juga masih menjadi atensi utama. Banyak khazanah lokal yang bisa membantu manusia modern untuk hidup berdampingan penuh damai satu sama lain. Lokalitas menekankan komunalitas, solidaritas, tradisi beserta keunikannya, pengakuan atas prestasi dan kerja keras, serta keberpihakan terhadap nilai-nilai kehidupan. Yang global dan yang lokal menantang setiap orang berpijak pada konteks yang tepat. Kita diperkenankan untuk berpikir global tetapi juga berani untuk bertindak lokal. Ada korelasi dan intimitas antara yang global dan yang lokal.

Yang kita perhatikan sekarang adalah bagaimana setiap orang (terutama para wisudawan) mengintegrasikannya dalam profesi pendidikan. Glokalitas mesti menjadi spirit yang bisa menghadirkan output yang handal dan kompetitif. Masyarakat yang hidup di era global tidak akan berkembang tanpa adanya pendidikan yang berkecambah dalam kultur lokal. Pendidikan memegang peranan kunci untuk menghidupkan spirit glokalitas.

Pendidik yang kompetitif akan selalu berusaha memberi ruang kepada peserta didiknya untuk berlomba-lomba mencari pengetahuan. Dia terbuka terhadap berbagai kenyataan sambil menekankan prioritas-prioritas tertentu. Tonggak internal yang mesti dimilikinya adalah pemahaman yang baik tentang substansi dan signifikansi pendidikan.

Substansi pendidikan terletak pada proses humanisasi (pemanusiaan manusia). Lewat pendidikan, seseorang bisa belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi, dan belajar untuk hidup bersama. Signifikansi pendidikan terletak pada upaya pencerdasan dan pembentukan pribadi yang profesional dalam bidangnya.  Pendidik mesti mampu menciptakan persaingan yang sehat dalam diri peserta didik.  Pendidik bisa menjadi inisiator yang memungkinkan peserta didik untuk menjelajah cara-cara baru dan konstruktif, misalnya cara belajar tepat, cara bekerja efektif, dan cara menghasilkan sesuatu yang baru. Sebagai animator, pendidik bisa menjiwai semangat peserta didik dalam memperoleh hal baru.

Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi peserta didik adalah motivasi belajar. Motivasi adalah dorongan utama atau gerakan psikologis yang memungkinkan siswa untuk lebih intensif melakukan tindakan belajar, konsisten, dan memiliki tujuan berprestasi. Motivasi  merupakan salah satu landasan esensial yang mendorong manusia untuk tumbuh, berkembang dan maju mencapai sesuatu. Berbagai cara bisa dilakukan, misalnya, memberikan hadiah kalau peserta didik mendapat nilai yang baik di sekolah, selalu memiliki waktu untuk belajar bersama mereka, berdiskusi untuk menemukan gagasan-gagasan baru, merancang program hidup bersama dan pribadi yang menyertakan alokasi waktu belajar di dalamnya.

Pendidik juga bisa ditempatkan sebagai agent of change. Itu berarti pendidik membantu peserta didik untuk menilai secara kritis berbagai perkembangan dan perubahan yang ada. Peserta didik lebih banyak diberi kesempatan mengembangkan kreativitasnya, entah mempelajari materi yang ada di sekolah maupun dalam konteks pengembangan bakat dan imajinasi seni. Biarkan mereka bertualang dan berinovasi.

Di sini mereka dididik untuk bermental pekerja keras. Mereka diberi kesempatan untuk mendalami pengetahuan yang benar, membentuk moral dan etikanya serta relasi sosialnya berbasiskan nilai-nilai yang terdapat dalam kearifan lokal. Forma pendidikan yang berkualitas membantu mereka memahami sekaligus mendalami materi yang dipelajari, dan itu menjadi bekal mental baiknya di tengah masyarakat. Revolusi mental merupakan megaproyek yang tidak mudah dilakukan. Kontinuitas komitmen pendidik dan peserta didik sangat dibutuhkan. Pendidik adalah aktor-aktor untuk megaproyek revolusi mental tersebut.

Pendidikan merupakan salah satu bidang yang sangat penting dalam konteks pengembangan jati diri seseorang. Oleh karena itu, setiap orang (terutama pendidik) diharapkan  mampu menghidupkan kultur pendidikan yang bisa membuat peserta didik makin berkembang, baik dari sisi intelektual, emosi, maupun spiritualitasnya.

Pendidikan telah menjadi aktivitas untuk mengkulturisasi jati diri. Manusia mengalami dan menyadari kehadiran dirinya yang nyata di alam dunia ini. Pendidikan membantu untuk memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan  memecahkan  persoalan dalam hidup sehari-hari. Pendidikan juga mampu membendung akuisme dan eksklusivisme. Oleh karena itu, pendidik mendapat peran sentral dalam konteks pendidikan. Proficiat kepada para wisudawan-wisudawati yang mengikrarkan janji kesarjanannya sebagai pendidik kompetitif. Longlife education. *** (Flores Pos, 25 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s