Gereja Terlibat dalam Tatanan Hidup Umat

  • Kata Uskup Sensi pada Penutupan Muspas KAE VII

Oleh Wim de Rozari

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Mgr Vincentius Sensi Potokota

Mbay, Flores Pos — Musyawarah Pastoral (Muspas) VII KAE yang berlangsung selama lima hari, Senin-Jumat (7-11/9) resmi ditutup Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota di Gereja Centrum Stella Maris Danga, Jumat (11/9) ditandai dengan pemukulan gong pada perayaan ekaristi kudus.

Dalam perayaan yang dihadiri Bupati Nagekeo Elias Djo, Wakil Bupati Nagekeo Paulinus Yohanes Nuwa Veto, Staf Ahli Bupati Ngada Getrudis Lali, Ketua DPRD Nagekeo Marselinus Fabianus Ajo Bupu beserta dua pimpinan DPRD Nagekeo lainnya Kristianus Dua Wea dan Florianus Papu, sejumlah anggota DPRD Nagekeo, Vikjen Keuskupan Agung Ende Romo Cyrilus Lena, Direktur Puspas Keuskupan Agung Ende Romo Alex Tabe, Vikep Bajawa Romo Yoseph Daslan, Vikep Ende Romo Adolf Keo, Pastor Paroki Stella Maris Danga Romo Dominikus de Dowa dan sejumlah peserta Muspas yang terdiri dari kaum klerus dan awam, umat serta undangan lainnya.

Bersukacita

Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota dalam homilinya mengatakan,  sebagai gembala, dirinya mengucapkan rasa sukacita untuk semua anugerah Tuhan yang begitu mulia dan melimpah dicurahkan ke atas semua peserta Muspa. Tuhan dengan amat setia menyertai setiap langkah mulia dalam seluruh evaluasi, refleksi dan  dinamika perjumpaan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan-perbuatan peserta selama Muspas berlangsung.

“Seruan ikhlas penuh iman kita ‘Domine ut videam (Tuhan semoga aku melihat)’ telah didengarkan Tuhan. Dengan cahaya mata Tuhan, kita telah sukses mengevaluasi dan merefleksikan kinerja pastoral kita lima tahun ini. Bahkan kita juga telah menemukan dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk menata karya pastoral bersama umat untuk lima tahun ke depan,” kata Uskup Sensi.

Diungkapkannya bahwa kegembiraan semakin berlimpah-limpah, bukan saja karena kehadiran  semua sahabat-sahabatku terkasih dalam seluruh proses Muspas ini, bukan juga karena sukses besar atas gawe lima tahunan kali ini, melainkan terlebih karena Tuhan begitu setia hadir dalam semuanya mencelikkan mata kepala, mata hati dan mata iman, hingga kalian semua dalam terang mata Ilahi Allah, telah dengan  jujur dan rendah hati melakukan evaluasi dan refleksi kinerja pastoral ini.

“Kita mengalami kwgembiraan atas sejumlah pencapaian kinerja pastoral yang membanggakan, bahwa pastoral pembebasan dan pemberdayaan umat telah efektif, berjalan pada rel atau jalur yang benar dan bahwa Gereja menjadi Gereja yang terlibat aktif dalam seluruh tatanan hidup umat Allah,” ujarnya.

“Kegembiraan dan harapan umat adalah kegembiraan dan harapan Gereja juta. Duka dan kecemasan umat adalah duka dan kecemasan Gereja juga. Kita tidak menjadi Gereja yang asal omong dan asal buat, tetapi Gereja yang bertanggung jawab atas apa yang telah dibicarakan dan dilaksanakan,” tambahnya.

Pengutusan

“Wajah Gereja atau umat Allah yang telah dirusakkan harus dipulihkan dari waktu ke waktu. Kita tidak dipanggil untuk berbangga atas kegagalan-kegagalan. Setiap kegagalan adalah satu langkah mundur untuk maju terus dan maju lagi.”

“Kini kita telah berada di saat-saat akhir, Muspas akan berakhir, dan semua akan kembali ke medan bakti sambil membawa tekad untuk mewujudkan temuan-temuan pastoral selama proses Muspas ini, dan bertekad tetap tinggal bersama  Yesus, manete in Me (tinggallah di dalam Aku, Yoh. 15;7).”

“Saya hendak mengutus kembali kalian dalam nama Yesus yang memanggil dan mengutus kalian. Kiranya Firman Tuhan menjadi bekal suci untuk meneguhkan komitmen kalian agar tetap setia melayani dalam Tuhan dan umat.”

Inspirasi Paulus

Uskup mengatakan, Santo Paulus, dalam suratnya yang pertama kepada Timoteus (1 Tim 1:1-2; 12-14) mengungkapkan sukacita iman, karena dia setia bersatu dengan Yesus dalam setiap perutusannya. Keintiman relasinya dengan Yesus dituangkan dalam surat pribadinya kepada Timoteus. Pertama-tama, Paulus bangga menjadi pengikut dan utusan pribadi Tuhan Yesus.

Paulus telah menjadi rasul yang percaya bahwa Kristus adalah utusan Allah. Dialah Allah yang menjadi dasar iman pribadinya. Imannya akan Kristus mendorongnya untuk menjadi rasul yang setia dalam mewartakan Kristus yang bangkit. Hanya iman kepada Yesus yang memampukan dan mendorong Paulus untuk menjadi rasul dan saksi Kristus. Kristus telah menjadikan segalanya baru dalam dirinya, “aku yang dahulu adalah penghujat dan penganiaya yang ganas, tetapi aku telah di kasihi-Nya” (1Tim 1:13). Kasih Kristus menjadikan segalanya menjadi baru dalam diri semua orang yang percaya.

Bahkan, oleh karena kedekatan pribadi dan kedalaman relasinya dengan Yesus, Paulus tiada hentinya mengungkapkan rasa syukur atas rahmat panggilan dan perutusan dari Yesus. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus Tuhan kita, karena Dia mengganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku” (1Tim 1:12).

Setiap panggilan Tuhan adalah sebuah rahmat yang harus disyukuri. Seperti rasa syukur Paulus yang memandang bahwa setiap panggilan untuk melayani adalah sebuah bentuk kepercayaan dari Yesus, demikian pun para fungsionaris pastoral, dengan predikat tertahbis ataupun terbaptis, yang adalah utusan Tuhan. Tuhan sungguh percaya bahwa yang diutus mampu menjadi murid dan utusan-Nya. Sebagai utusan yang setia dalam iman, kualitas kesetiaan dalam iman adalah harga mati, tidak bisa ditawa-tawar. Kita tidak mewartakan apa yang tidak kita imani, tetapi justru sebaliknya, kita harus mewartakan apa yang telah dan senantiasa yang diimani.

Kualitas Kemuridan

“Kualitas kemuridan, selain ditentukan oleh kualitas iman, juga oleh sikap iman sebagai orang beriman yang benar, yakni sikap bersyukur atas tugas pelayanan sebagai suatu kepercayaan dari Dia, dari Yesus yang memanggil dan mengutus kita. Karena setiap ucapan syukur adalah tanda kerendahan hati dan kepasrahan total kepada Kristus yang adalah sumber harapan.”

“Kesetiaan dalam iman dan sikap tahu bersyukur adalah doa abadi yang terus berkanjang dan memahkotai setiap getaran hati untuk terus menjadi rasul yang efektif berbuah dan berubah. Mutu iman dan kerasulan menuntut pula kesetiaan untuk bersatu erat dengan Kristus, Sang Pokok Anggur yang benar dan sejati. Harapan suci Yesus ini disampaikan kepada para murid-Nya, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya,…tinggallah di dalam Aku, manete in me” (Yoh 15;1 dan 7).

Harapan Yesus, agar para murid-Nya terus berjuang, berusaha bersama-Nya hingga menghasilkan buah-buah kebaikan untuk diri sendiri (bonum privatum) dan kebaikan bersama (bonum commune). Yesus tidak memberikan harapan yang muluk-muluk, janji-janji manis, bahwa setiap orang yang bersatu dengan-Nya otomatis berbuah, tetapi justru sebaliknya, Yesus tetap mengimbau penuh harap agar para murid yang telah bersatu dengan Dia, menciptakan persatuan yang kreatif, persatuan yang inovatif, yang kaya dalam iman, harapan dan kasih serta yang mendatangkan keselamatan. Keselamatan dan kegembiraan hidup yang berlimpah-limpah, “barang siapa tinggal dalam Aku dan Aku dalam Dia, ia berbuah banyak” (Yoh 15:6).

Uskup berpesan, “ke mana pun kamu pergi, bawalah iman. Iman akan Allah dan iman akan Kristus penyelamat. Iman adalah bekal hidup abadi. Jadilah diri dan kerjamu sebagai sebuah kesaksian bahwa kamu adalah pintu menuju iman (porta fidei) bagi sesama. Di tengah kegalauan, kegelisahan dan disorientasi hidup umat, tampilkan dirimu sebagai pembawa Kabar Sukacita Injil, sukacita Injil yang dimiliki dan rela dibagikan”.

“Pergilah dan katakanlah kepada umat di KUB-KUB atau pun di mana saja, hantarlah buah-buah evaluasi dan refleksi sebagai persembahan, hadiah/kado indah bagi umat. Jadikanlah hasil temuan dalam Muspas VII sebagai kabar sukacita injil yang terus menyapa dengan daya membebaskan dan memberdayakan,” katanya.

Peserta Muspas juga diminta, jadikanlah ajakan Yesus, “manete in Me”, tinggalah di dalam Aku, sebagai doa abadi seluruh umat.

“Di pundakmu, di hatimu, di matamu dan di dalam hidupmu, kutitipkan harta surga yakni umat Allah. Jadikanlah mereka sahabat-sahabat, teman seperjalanan dan seperjuangan. “Semoga rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa da dari Kristus Yesus Tuhan kita, menyertaimu semua,” katanya mengutip 1Tim 1:2.

Tidak Salah Pilih Mbay

Pada kesempatan yang sama, dalam sambutan usai perayaan ekaristi, Uskup Sensi mengatakan, keputusan memilih Mbay sebagai tuan rumah Muspas VII itu tidaklah salah. Memang banyak keraguan di mana ada pelbagai masukan dari beberapa pihak yang melihat Mbay sebagai ibukota kabupaten baru yang hanya dikenal sebagai daerah dengan cuaca yang panas.

Apa yang disaksikan selama Muspas, kata Uskup Sensi, justru keajaiban di mana gawe ini sungguh luar biasa. Perjalanan muspas demi muspas terjadi peningkatan sangat baik, dan muspas di Mbay ini adalah yang terbaik.

Ada sejumlah hal yang mengecewakan dalam proses persiapan sehingga muncul keraguan. Tetapi semua itu bisa diatasi dengan baik.

“Betapa Tuhan mendengarkan doa kita sehingga semua berjalan dengan baik. Kita bersyukur atas doa umat Keuskupan Agung Ende demi kesuksesan Muspas ini. Kepada Pemda di tiga kabupaten, patut saya ucapkan terima kasih atas dukungan dan partisipasi. Kepada sesama saudaraku yang beragama Islam dan Protestan, saya ucapkan terima kasih atas dukungannya. Kita tidak salah memilih Mbay,” katanya.

Kepada Umat Paroki Danga yang menyiapkan semuanya termasuk keterlibatan dalam hal konsumsi dan penginapan, Uskup Sensi juga menyampaikan penghargaan  setinggi-tingginya.

Tanggung Jawab

Ketua Panitia Lokal Muspas VII Keuskupan Agung Ende Paulinus Yohanes Nuwa Veto pada saat diwawancarai Flores Pos usai kegiatan tersebut mengatakan bahwa kepercayaan yang diberikan adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik dan dirinya sadar bahwa apa yang dilakukan semuanya adalah campur tangan Tuhan.

Wakil Bupati Nagekeo itu juga mengapresiasi peran semua pihak terutama sesama saudara dalam kepanitiaan termasuk umat lintas agama yang memberi sepenuhnya dukungan dalam kegiatan Muspas tersebut.

“Rahmat Tuhan telah hadir bagi kita semua karena ini adalah tugas mulia yang diberikan yang telah kita dilakukan. Terima kasih pula atas semua dukungan ini,” katanya.*** (Flores Pos, 12 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s