Muspas sebagai Gerakan yang Mengutamakan Partisipasi Umat

Oleh Wim de Rozari

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Mgr Vincentius Sensi Potokota

Mbay, Flores Pos — Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota dalam sambutannya sebelum membuka Muspas VII KAE di Gereja Centrum Danga pada Senin (7/9) mengatakan, satu pengalaman unik sebelum beliau meresmikan Muspas VII ini.

Dikatakannya bahwa pada Senin pagi itu, kira-kira jam 08.00 Wita, dirinya ditelepon seorang perempuan muda, yang memperkenalkan diri dengan nama Ibu Iren, mewakili sebuah komunitas yang menamakan diri KKMKI (Komunitas Karyawan Muda Katolik Indonesia).

“Pembicaraan kami berlangsung secara singkat. ‘Bapa Uskup, komunitas kami sedang mengorganisasi diri untuk hadir di seluruh pelosok Indonesia secara terkoordinasi dalam komunitas yang namanya KKMKI’,” katanya.

Ibu tersebut memohon dukungan Uskup di mana kebetulan komunitas tersebut punya beberapa program yang ditawarkan kepada keuskupan-keuskupan dalam berbagai bidang. Salah satunya, bidang pendidikan.

Dikatakannya bahwa pihaknya sudah berkontak dengan seorang romo di keuskupan Agung Ende dan berharap bahwa akan menjalin suatu kerja sama.

“Kalau boleh Bapa Uskup mengizinkan romo itu untuk menghadiri kongres atau pertemuan nasional yang akan terjadi di salah satu tempat di Kalimantan. Saya bilang, Ibu Iren, terima kasih banyak untuk ceritamu, untuk perkenalan diri dan KKMKI-mu dan juga untuk tawaran-tawaranmu ke depan,” ungkap Uskup.

Hindari Proyek, Berpijak pada Perintis

Uskup Sensi mengatakan, Gereja Katolik di keuskupan-keuskupan se-Flores sudah berusia seabad dan punya pengalaman jatuh-bangun dengan pendekatan dari bawah, dari akar rumput. Karena itu, Gereja ingin berpijak pada apa yang dirintis oleh para misionaris terutama para pemikir, penggagas, hingga 30 tahun terakhir, dengan gerakan pastoral, muspas, yang sekali lagi menggarisbawahi partisipasi aktif dari akar rumput, pendekatan dari bawah, bukan top-down, dengan apa pun entah itu program, entah itu proyek.

Pihaknya sangat berupaya untuk menghidar dari apa yang disebut dengan penyakit proyek yang ujung-ujungnya membangun mental proyek pula, dan izinkanlah Gereja untuk konsekuen dengan apa yang ditemukan dalam perjalanan pengalaman pastoralnya.

Dijelaskannya, orang tersebut sudah memilih seseorang dari KAE untuk ikut dalam pertemuan nasional, dengan perencanaan-perencanaan, mungkin sebagai pengamat namun Uskup Sensi harus katakan bahwa itu adalah pendekatan yang tidak terlalu benar.

“Dalam koordinasi pastoral jatuh dan bangun dengan pengalaman kami, kami inginkan supaya kerja sama kita tidak didasarkan pada kontak-kontak relasi pribadi tetapi sesuatu yang terkoordinasi. Kalau toh KAE diundang untuk pertemuan nasional, Uskup dan umat yang menentukan siapa, bukan KKMKI,” katanya.

Hargai Partisipasi Umat

Kisah nyata menunjukkan, Muspas adalah sebuah gerakan pastoral di keuskupan Agung Ende yang dalamnya umat mencoba berupaya dengan pendekatan-pendekatan menghargai partisipasi umat sebagai subjek. Gereja memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada umat supaya mereka merasa jadi bagian dari apa pun yang terjadi dalam pergumulan Gereja di keuskupan ini terlepas dari kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki.

Uskup Sensi mengatakan, Gereja harus konsekuen dengan melibatkan umat dalam keuskupan ini. Karena itu, dalam gawe (pesta) sebesar ini, Gereja menghadirkan ratusan orang, dan jumlah ini bukan sesuatu yang gampang.

Mempersiapkan pertemuan yang dilaksanakan dalam beberapa hari juga tidak gampang. Ini bertujuan untuk meningkatkan mutu musyawarah itu dari waktu ke waktu. Uskup amat yakin bahwa ketika menempatkan umat pada tempat pertama sebagai subjek yang berbicara tentang dirinya, tentang kebutuhan-kebutuhan dan keprihatinannya dan apa pun program-programnya, Gereja mesti yakin bahwa itu adalah program-program milik umat, kemauan umat, kehendak umat, dan harapan umat.

“Mari kita belajar saling mendengar satu sama lain, saling menghargai apa pun yang menjadi ungkapan wakil-wakil umat dari setiap paroki. Mari kita menanggapi dengan penuh rasa tanggung jawab tentu saja dengan inpirasi kearifan dan hikmad kebijaksanaan Tuhan sendiri. Itulah harapan kita. Karena harapan yang sebenar-benarnya bukan harapan seorang uskup melainkan harapan umat,” katanya.

Luar Biasa

Dikatakannya, “penyambutan yang mewarnai pembukaan Muspas VII hari ini sangat luar biasa. Mulai dari Penginanga sampai titik akhir ketika memasuki misa pembukaan sore ini, amat sangat menarik. Para peserta muspas disapa secara adat oleh pemangku-pemangku adat”.

Ada bahana meriah dari drumband para siswa-siswi MAN Mbay, putra-putri kita yang beragama Islam. “Luar biasa. Tampil juga upacara penyambutan oleh sanggar-sanggar seni, memberikan yang terbaik untuk para peserta Muspas. Ada pasukan yang luar biasa meyakinkan, pasukan panitia di bawah pimpinan Bapak Paul (Paulinus Y. Nuwa Veto, Wabup Nagekeo).”

Bukan cuma itu. “Hadir dalam pembukaan malam ini, para bupati dari tiga kabupaten dalam wilayah yurisdiksi KAE (Ngada, Ende, Nagekeo), para pimpinan dewan dan anggota, dan juga SKPD yang saya yakin dan saya kenal, sebagian besar dari mereka memberi diri habis-habisan.”

“Saya rasa ini bukan sekadar unjuk-unjuk waka. Seluruh suasana menjelang pembukaan menjadi tanda nyata betapa kita dan semua orang mendukung, bukan hanya manusia, tetapi juga bunyi-bunyian bambu (musik ndoto) yang ditabuhkan dengan indah dan sangat harmonis di depan Gereja ini. Sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.

Gereja Terbuka

Sebagai uskup, dirinya tidak cukup hanya berterima kasih, tetapi juga memaknai ini sebagai sebuah tantangan untuk uskup dan umat Katolik di seluruh KAE, untuk berziarah memastikan bahwa kehadiran Gereja benar-benar menjadi sebuah Gereja yang terbuka, yang merangkul semua pihak tanpa sekat-sekat perbedaan apa pun. Gereja tidak bisa sukses dalam misinya di dunia ini dengan berjalan sendirian.  .

Umat Katolik merasa ditantang untuk menghadirkan Gereja sebagai sebuah berkat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk semua orang. Kegiatan Muspas yang akan di jalankan ini belum dapat  katakan berhasil, tetapi dirinya sungguh merasakan dukungan luar biasa dari berbagai pihak.

Terima Kasih

“Walau hasilnya kita belum tahu, izinkan saya untuk sampaikan terima kasih kepada semua pihak, ketiga pemda, yang dengan amat nyata menjadi pendukung utama dari setiap kegiatan besar Gereja seperti ini. Mudah-mudahan pada gilirannya, seperti yang diharapkan, bapa-bapa sebagai pemimpin kepercayaan masyarakat akan diberkati dengan rahmat berlimpah ruah dan merasa kuat, yakin bisa menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” tambahnya.

Uskup Sensi berterima kasih kepada SKPD Nagekeo yang berkorban meninggalkan sesuatu, memberi waktu ekstra di samping tugas-tugas dan tanggung jawab kepemerintahan yang harus diemban dalam kepanitiaan. Karena ini terjadi di Ibukota Kabupaten Nagekeo, mereka tetap mengambil bagian aktif di dalamnya.

“Saya yakin pada gilirannya juga, Anda mendapat berkat dari Tuhan sehingga anda bertumbuh kembang menjadi abdi-abdi rakyat yang disenangi dan berdampak guna,” sambungnya.

Kepada semua peserta Muspas VII yang datang dari pelbagai paroki di seantero wilayah KAE, Uskup Sensi menengaskan bahwa penugasan dan perutusannya kepada musyawarah pastoral ini bukanlah sesuatu yang dengan gampang diterima, karena harus berkorban meninggalkan kepentingan pribadi, keluarga dan lainnya. Mereka mau datang atas nama umat paroki untuk ‘curhat-curhatan’ di Muspas, untuk dengan bantuan Tuhan bersama-sama melihat diri dan menemukan kerja baru untuk perjuangan ke depan.*** (Flores Pos, 10 September 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s